10 Alasan Haramkan Gadget Untuk Anak

Smartphone dan tablet sudah menjadi mainan “biasa” bagi anak generasi saat ini. Jangan heran jika orang tua mengatasi anak yang sedang ngambek atau rewel cukup dengan gadget, biar anteng. Masalah tidak berhenti sampai di sana saja, anak yang memainkan gadget dan dilihat oleh teman di sekitarnya akan membuat anak lain ingin memiliki juga. Alhasil, gadget terlihat biasa saat dipegang oleh anak-anak.

Penelitian berbicara, 7 dari 10 orang tua membiarkan anak mereka bermain dengan gadgetnya. Penelitian lanjutan membuktikan bahwa 90% anak pada usia 2 tahun sudah memiliki kemampuan moderat untuk menggunakan gadget (Tim Peneliti universitas Iowa). “Anak usia 2 tahun yang biasa menggunakan tablet akan kecanduan pada umur 3 dan 4 tahun,” tambah Dr. Fan Walfish, seorang psikoterapis anak dan keluarga.

Belum berani untuk mengambil dan melarang penggunaan gadget pada anak anda? Silahkan simak 10 alasan haramkan gadget untuk anak.

Il1

1/ Gadget dapat mengubah hubungan anak dengan orang tua.

Antara usia 0-2 tahun, otak bayi masih mengalami tiga kali lipat pertumbuhan. Suara orang tua, sentuhan mereka dan interaksi berupa permainan bersama anak dapat membantu membangun jalur di otak mereka. Hal ini akan berdampak pada pembelajaran anak dalam membangun emosional dengan orang lain.

Namun saat anak sudah terkontaminasi gadget, jalur saraf mereka berubah dan jalur baru terbentuk. Hal ini mempengaruhi konsentrasi, harga diri, dan dalam beberapa kasus, mereka tidak mempunyai ikatan personal yang dalam. Dalam kehidupan nyata, anak yang terbiasa dengan gadget akan sulit berkonsentrasi saat pelajaran, memiliki harga diri cenderung tidak mau kalah, serta tidak peka pada lingkungan sekitarnya atau tidak bisa menempatkan dirinya pada sebuah situasi.

Il2

2/ Gadget menjadi candu pertama yang mereka kenali.

“Satu hal yang indah dari teknologi adalah mereka terus berinovasi dan tidak ada habisnya, untuk alasan itu sangat sulit untuk menyerah dan berhenti menggunakan mereka,” ucap Dr. Gary Small, seorang profesor psikiatri dan direktur UCLA Longevity Center di Semel Institute for Neuroscience & Human Behavior.

Gadget mengizinkan anak untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan hanya menyentuh tombol di layar. Sehingga, mereka tak pernah belajar untuk moderasi dan menantang diri mereka sendiri, di mana cara tersebutlah yang biasa membangun kebiasaan adiktif normal bagi anak.

Il3

3/ Gadget memicu amukan.

Jika seseorang memiliki kecanduan, mereka akan terobsesi pada candu tersebut, siapapun dan pada usia berapa pun. Hal ini ada kaitannya dengan pembuka artikel di atas, karena bukan ide yang bagus memberikan anak gadget ketika mereka sedang mengamuk.

“Jika perangkat ini menjadi metode utama untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian mereka, anak-anak akan mengembangkan mekanisme internal mereka sendiri sebagai Self-regulation” Dr Jenny Radesky. Bayangkan betapa sulitnya mengambil gadget dari anak yang sudah kecanduan gadget?

Il4

4/ Gadget mencegah mereka dari tidur.

Bukan sebuah rahasia jika memakai gadget sebelum tidur di malam hari membuat anda lebih sulit untuk tertidur. Cahaya yang memancar dari layar menekan hormon melatonin dan menggeser siklus tidur dan bangun alami tubuh manusia.

Penelitan menyebutkan bahwa 60% orang tua tidak mengawasi penggunaan teknologi anak mereka, 75% anak diperbolehkan menggunakan gadget di kamar tidur. Hasilnya, 75% anak berusia 9 dan 10 tahun mengalami kurang tidur menurut Boston Collage.

Il5

5/ Gadget mempengaruhi kemampuan anak dalam belajar.

Menurut peneliti, gadget berbahaya bagi kemampuan seorang anak untuk belajar karena mengalihkan perhatian mereka. Belum lagi video dan game online yang terdapat pada gadget dapat membatasi kreativitas dan imajinasi anak serta memperlambat sensor motorik optik mereka.

“Gadget ini juga dapat menggantikan kegiatan penting untuk pengembangan kemampuan sensorimotor dan visual-motor, yang penting untuk pembelajaran dan penerapan matematika dan ilmu pengetahuan” James Radesky.

Il6

6/ Gadget tidak mengizinkan anak untuk merefleksikan komunikasi mereka.

Komunikasi yang bersifat online (kecuali video call) bersifat tanpa ekspresi, bohong jika anda tidak pernah menggunakan emoji senyum padahal sedang sedih, atau sebaliknya. Hal-hal seperti infleksi suara, bahasa tubuh, ekspresi wajah bahkan interaksi tatap muka tidak bisa ditemukan saat komunikasi secara online.

Semua hal komunikasi di atas penting untuk membangun hubungan manusia. Dan mereka semua hilang saat teknologi modern muncul, kata psikolog Jim Taylor. “Ketika anak menghabiskan banyak waktu berkomunikasi melalui teknologi, mereka tidak mengembangkan keterampilan komunikasi dasar yang manusia gunakan sejak lama. Komunikasi bukan hanya tentang kata-kata.”

Il7

7/ Gadget meningkatkan penyakit mental.

Karena lebih mudah untuk melampiaskan emosi saat online, banyak orang melakukan cyberbully, dan banyak yang menjadi korbannya. Korban yang bahkan adalah anak-anak akan merasakan ketidaknyamanan dalam perkembangan diri mereka. Misalnya, dalam satu grup banyak disebar foto wanita langsing sedang si anak bertumbuh gemuk, maka anak tadi akan merasakan ketidaknyamanan pada tubuhnya sendiri, dan ini menganggu mentalitas si anak.

Penelitian para ahli di internet mengatakan terlalu lama menggunakan gadget menjadi faktor dalam kenaikan tingkat depresi anak, kecemasan, gangguan kekurangan perhatian, psikosis dan perilaku anak bermasalah.

Il8

8/ Gadget menyebabkan obesitas.

Kita semua sering dalam kondisi tak bergerak ketika menggunakan gadget, ini berlaku juga bagi anak-anak. Jika ia sedang kecanduan pada perangkat tersebut, mereka tidak akan bergerak saat menggunakannya. Itu berarti tidak ada aktifitas fisik yang dilakukan, akhirnya meningkatkan kemungkinan kenaikan berat badan.

Anak yang diperbolehkan memainkan gadget di kamar tidur mereka memiliki potensi 30% mengalami obesitas menurut penelitian. Ketika seorang anak mengalami obesitas, dampak lain yang akan muncul adalah diabetes, beresiko lebih tinggi terkena stroke awal dan serangan jantung.

Il9

9/ Gadget membuat anak agresif.

Anak-anak tidak bisa belajar empati ketika menggunakan gadget secara berlebihan, mereka lebih nyaman sebagai makhluk online dan cyberbully menjadi hal biasa bagi beberapa dari mereka. Belum lagi dengan video game kekerasan yang mudah mempengaruhi anak.

Khawatirnya, hal ini mendorong anak berpikir bahwa perilaku kekerasan hanyalah sebuah cara biasa untuk menangani dan memecahkan masalah.

Il10

10/ Gadget mendorong kecemasan sosial.

Belajar keterampilan sosial penting untuk keberhasilan anak secara keseluruhan. Jika mereka gugup berinteraksi dengan orang lain, menandakan sudah terjadi kecemasan di antara mereka.

“Anak-anak membutuhkan waktu untuk tatap muka,” kata Denise Daniels. “Jika Anda menyingkat emosi Anda dengan teknologi, Anda menjalani kehidupan yang disingkat.”

Sumber: LittleThings

Related Posts