Warganet Indonesia Masih Doyan Hoaks

[Politwika] Banyak warganet yang sudah gemas dengan hoaks. Sebanyak 57% warganet menyatakan akan mengambil tindakan hukum apabila dirinya menjadi korban hoaks. Bahkan 71% setuju jika pembuat dan penyebar hoaks dikenai UU ITE.

Padahal sebanyak 32% warganet bersikap “Bodo amat” ketika ada hoaks beredar. Walau ada 68% yang masih mau mengklarifikasinya. Tapi tetap ada 2% yang mengaku ikut menyebarkan hoaks. Apakah ini berlaku selama hoaks itu tidak merugikan dirinya? Sedangkan jika hoaks merugikan pihak lain, dianggap biasa saja?

Setidaknya demikian hasil poling yang diadakan Politwika pada Kamis, 7 September 2017. Poling yang terdiri dari 10 pertanyaan seputar informasi provokatif dan hoaks itu berlangsung selama 24 jam. Partisipan yang terlibat berkisar 2471-2926 orang, bervariasi di setiap pertanyaan.

Bagaimana saat warganet menerima informasi yang provokatif? Seperti kita tahu, hoaks sudah pasti provokatif, tapi informasi provokatif belum tentu hoaks. Sebesar 65% warganet mengaku melakukan cek dan ricek saat mereka tahu ada berita provokatif beredar. Sedangkan 33% lain mendiamkannya. Namun ada 2% yang langsung me-RT.

Walau sebanyak 94% warganet menolak kalau diajak menyebarkan hoaks, tetap saja ada sebagian yang masih bersedia. Alasan mereka adalah karena dibayar (4%) dan sekadar untuk hiburan (2%).

Kendati persentasenya kecil, kalangan yang bersedia menyebarkan hoaks ini tidak dapat dianggap remeh. Sebab penyebaran hoaks bagaikan bola salju. Dari bulatan kecil, yang apabila terus digelindingkan akan membesar, terus membesar, hingga kelamaan mengalahkan informasi yang benar.

Definisi hoaks (hoax dalam bahasa Inggris) menurut Merriam Webster adalah suatu trik agar sesuatu yang palsu bisa dipercaya atau diterima. Secara etimologi, hoaks berasal dari kata hocus pocus, yang sering dipakai dalam pertunjukan sulap. Hocus sendiri bemakna “mengelabui”. Maka tak heran jika hoaks merupakan informasi yang sengaja dipakai untuk mengelabui orang banyak. Contoh paling sederhana dari hoaks adalah foto korban ledakan tangki BBM di Kongo tahun 2010 diberi caption sebagai etnis Rohingya yang dibakar di Myanmar.

Sayangnya, masih ada yang warganet Indonesia yang menganggap bahwa hoaks adalah informasi yang seru, bahkan penting. Memang mayoritas, 94%, sudah tahu bahwa hoaks adalah informasi palsu. Tapi ada 1% yang memandang hoaks sebagai informasi penting, dan 4% menilai hoaks adalah informasi seru.

Hasil poling ini memang tidak dapat menjadi acuan, sebab hanya melibatkan sebagian saja dari seluruh warganet Indonesia. Namun dapat menjadi gambaran bahwa masih ada warganet yang bersedia menyebarkan hoaks, menganggap hoaks adalah hiburan, infomasi seru, dan penting. Dari sini kita tahu kan, kenapa hoaks masih laku?

Berikut hasil polingnya:

Related Posts