4 Media Sosial Bersatu Lawan Covid-19

Sejak 11 Maret 2020 WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi, karena tingkat penyebaran virus corona sudah menyebar ke banyak orang di beberapa negara dalam waktu yang bersamaan. Penetapan status pandemi tersebut juga diharapkan dapat mengubah upaya negara-negara di dunia dalam menangani Covid-19.

Namun, tidak hanya negara/pemerintah yang mengupayakan penanggulangan Covid-19. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang juga tergerak untuk memberikan kontribusi penanggulangan pandemi, baik berupa donasi ataupun program kerja (berupa sistem) yang bertujuan untuk menekan dampak kerugian dari Covid-19.

 

YOUTUBE

Youtube akan menindak tegas soal konten teori konspirasi virus corona SARS-Cov-2 yang dihubungkan dengan jaringan 5G. Isu konspirasi tersebut berhembus cukup kencang di media sosial. Beredar informasi hoaks menyebutkan, bahwa 5G yang pertama kali diluncurkan di Kota Wuhan telah merusak sistem kekebalan tubuh.

Nantinya, salah satu produk perusahaan induk Alphabet Inc akan mengurangi jumlah video teori konspirasi itu. YouTube tetap akan membolehkan video teori konspirasi soal 5G, namun yang tanpa berkaitan dengan virus corona.

 

FACEBOOK

Facebook bekerja sama dengan Carnegie Mellon University untuk menyediakan survei kesehatan untuk para penggunanya di AS. Survei ini dilakukan untuk menciptakan “heat maps” virus corona.

Facebook akan menyematkan tautan pada news feed, yang kemudian mengarahkan pengguna pada survei yang akan mendata lokasi dan gejala yang dialami para pengguna. Kemudian, data yang terangkum akan digunakan untuk melacak penyebaran Covid-19, serta memperkirakan lokasi yang membutuhkan dukungan kesehatan lebih.

 

TWITTER

Sebelumnya (Maret 2020), Twitter sempat melarang seluruh iklan yang menyebutkan tentang virus corona atau Covid-19. Namun, kini perusahaan tersebut telah mengubah kebijakannya.

Twitter telah mengizinkan mitra maupun kliennya untuk membuat iklan seputar virus corona, dengan syarat: harus bermanfaat. Jika tidak mendatangkan manfaat, seperti konten sensasional, memicu kepanikan masyarakat, atau informasi kenaikan harga berlebih, maka Twitter akan melarangnya.

 

LINKEDIN

LinkedIn mengalami peningkatan keterlibatan (engagement) sebesar 55% di tengah pandemi. Sejak awal April, perusahaan ini telah memaparkan data yang terangkum mengenai diskusi tentang virus corona. LinkedIn juga telah merangkum topik-topik yang disukai para profesional, seperti remote working atau online learning.

Informasi ini sangat menarik untuk dijadikan bahan diskusi atau petunjuk manual untuk menjalani produktivitas di rumah. Dan, banyak juga perusahaan yang menggunakan LinkedIn untuk melakukan upaya penanganan terhadap pandemi, loh.

Nah, gerakan physical distancing memang sangat berdampak terhadap engagement para perusahaan yang bergerak di bidang media sosial/jejaring sosial. Kini, semua diprioritaskan untuk jadi serba digital. Hal ini dilakukan demi memutus rantai penyebaran virus.

Semoga kita bisa segera menikmati kehidupan seperti sedia kala, ya! Saya rindu bekerja di kantor, saya rindu nongkrong, saya yakin kamu juga! Stay safe everyone dan untuk sekarang tetap #dirumahaja ya.

Related Posts