Ketahui! Cara Anak Hilangkan Jejak di Medsos

jejak

Banyak orang tua yang membebaskan anak-anaknya aktif di media sosial. Namun, tidak banyak orang tua yang tahu informasi apa saja yang anak-anak mereka sebarkan di media sosial dan siapa saja yang mengakses informasi tersebut. Anak-anak sering menyembunyikan aktivitas mereka di media sosial dari orang tuanya sehingga seringkali anak-anak menjadi korban dari bahaya media sosial.

Untuk itu, kami akan berikan gambaran secara umum yang dirangkum oleh Rawhide Boys Ranch mengenai berbagai aktivitas anak-anak di media sosial termasuk cara mereka menyembunyikan aktivitasnya. Agar para orang tua dapat lebih cermat mengawasi aktivitas anak-anak di media sosial.

Perlu diketahui oleh para orang tua bahwa dari 81% anak-anak yang memiliki akun media sosial 65% diantaranya mengakses media sosial lebih dari satu kali setiap harinya. Dari sekian banyak media sosial yang ada 74% anak-anak menggunakan Facebook, 59% menggunakan Instagram, 57% menggunakan Snapchat, 32% menggunakan Twitter.

Pernahkan para orang tua menanyakan apa yang anak-anak lakukan di media sosial? Dan apakah anak-anak mau menceritakannya? Berdasarkan data yang kami peroleh dari Rawhide Boys Ranch, 50% orang tua percaya dengan apa yang diceritakan anak-anaknya mengenai aktivitas mereka di media sosial. Namun apakah anak-anak menceritakan seluruh aktivitasnya di media sosialnya? Nyata tidak. 70% anak-anak menyembunyikan aktivitas mereka di media sosial dari orang tuanya. Bahkan 25% diantaranya mengaku bahwa orang tua mereka hanya tahu sedikit bahkan tidak tahu sama sekali mengenai aktivitas mereka di media sosial. Lantas bagaimana cara anak-anak menyembunyikan aktivitas mereka di media sosial?

Ada beberapa cara yang biasanya digunakan anak-anak untuk menyembunyikan aktivitasnya di media sosial, antara lain:

  • Menghapus Jejak Pencarian

Fitur ini sering digunakan anak-anak untuk menghilangkan jejak situs apa saja yang mereka buka. Sehingga sulit bagi orang tua untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh anak mereka di media sosial.

  • Berbohong tentang Aktivitasnya di Media Sosial

Saat ditanya tentang aktivitas mereka di media sosial tidak menutup kemungkinan anak akan berbohong. Penting bagi orang tua untuk mencermati gerak-gerik dan bahasa tubuh anak untuk mengatahui apakah anak-anak berbohong atau tidak.

  • Memilih Menggunakan Smartphone

Jika anak-anak lebih memilih menggunakan smartphone-nya sendiri, akan semakin sulit bagi para orang tua untuk mengawasi mereka. Untuk itu, pertimbangkan kembali apakah perlu untuk memberikan fasilitas smartphone kepada anak diusia mereka sekarang. Sebaiknya, anak-anak diberikan komputer saja yang diposisikan di tengah rumah sehingga mudah untuk diawasi.

  • Menduplikasi Akun Media Sosial

Mungkin para orang tua berpikir sudah mengawasi akun media sosial anaknya karena sudah berteman di media sosial. Namun, pastikan anak-anak tidak memiliki lebih dari satu akun di dalam satu media sosial. Sebab sangat mudah untuk memiliki beberapa akun sekaligus dalam satu media sosial.

  • Menggunakan Fitur ‘Hide Content’ dan ‘Privacy Settings’

Lagi-lagi berteman dengan anak di media sosial tidak menjadi jaminan bahwa orang tua sudah mengawasi aktivitas anaknya di media sosial. Sebab, bisa saja anak-anak memanfaatkan fitur ‘hide content’ untuk menyembunyikan konten-konten tertentu dari orang tua mereka. Bahkan anak-anak dapat memanfaatkan fasilitas ‘privacy settings’ yang disediakan setiap media sosial agar orang tua tidak dapat menemukan dan mengetahui aktivitasa mereka.

  • Menggunakan Kode

Untuk mengelabuhi orang tua, anak-anak sering kalo menggunakan kode-kode tertentu dalam posting-an mereka. Misalnya kode ‘PAW’ yang berarti ‘parents are wacthing’ dalam posting-an mereka. Kode tersebut digunakan anak-anak sebagai tanda bahwa posting-an tersebut dapat dilihat orang orang tua mereka.

Dari berbagai cara yang digunakan anak-anak untuk menyembunyikan aktivitas mereka di media sosial tentu menimbulkan pertanyaan, memang informasi apa yang mereka bagikan di media sosial sehingga mereka harus menyembunyikan hal tersebut dari orang tuanya?

Ada lima hal yang paling sering dibagikan anak-anak di media sosial yakni, nama panjang mereka (92%), foto (92%), lokasi sekolah (71%), nomor telpon pribadi (20%) dan lokasi terbaru mereka (16%). Mungkin tidak masalah jika informasi tersebut dibagikan ke orang terdekat, namun orang tua harus tahu dan lebih meningkatkan kewaspadaan sebab 33% dari anak-anak yang menggunakan media sosial berteman dengan orang-orang yang tidak dia kenal bahkan belum pernah mereka temui.

Dengan adanya fakta seperti ini, sebaiknya para orang tua dapat lebih bijak dalam memberi ijin pada anak-anaknya untuk mengakses media sosial serta lebih cermat dan waspada dengan aktivitas anak-anak di media sosial. Sehingga anak-anak dapat terlindungi dari bahaya media sosial.

Related Posts