Para Ibu, Jangan Lakukan 7 Hal ini di Medsos!

IBU2Ibu-ibu aktif di media sosial (medsos)? Bukan hal asing lagi. Jangankan ibu bekerja, ibu rumah tangga pun sudah banyak yang fasih memakai Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan medsos lain. Bahkan ada istilah “Instamom”, yaitu para mama yang aktif mendokumentasikan foto anak-anaknya di Instagram, dan populer berkat aktivitasnya.

Studi yang dilakukan Experian tahun 2013, menyatakan bahwa ibu-ibu dengan anak balita merupakan kalangan paling aktif di medsos. Survei yang dilakukan pada 25.000 orang dewasa itu menemukan bahwa wanita usia 24-34, dengan anak balita, paling aktif di Facebook. Kalau begitu, kita tak boleh meremehkan aktivitas para ibu di medsos, kan? Dan jangan lupa, ada beberapa hal yang sebaiknya jangan dilakukan oleh para ibu di medsos, apa saja itu?

  • Unggah foto vulgar anak

Bangga dengan bayi atau batita yang lucu dan menggemaskan? Wajar. Yang tidak wajar adalah mengunggah foto-foto mereka yang sedang telanjang atau setengah telanjang. Foto bayi telanjang, di masa lalu memang suatu tren tersendiri. Hampir semua dari kita pernah difoto bugil sewaktu bayi.

Tapi di era medsos sepaerti sekarang, sangat tidak bijak mengunggah foto anak telanjang. Sebab foto itu akan tersebar luas, bisa disalahgunakan, bahkan diperjualbelikan ke komunitas pedofil. Ingat kasus tertangkapnya seorang pedofil asal Surabaya yang di komputernya ditemukan ribuan foto anak dalam pose vulgar? Semua dia kumpulkan melalui medsos seperti Facebook.

  • Sebar data pribadi

Seorang ibu kadang secara tak sadar bersikap terlalu polos, mengunggah data pribadinya. Misalnya nomor ponsel, alamat rumah, tanggal lahir, baik dirinya sendiri maupun keluarga, bahkan anaknya. Semua data ini berpotensi dimanfaatkan oleh para penjahat cyber. Mulai dari aksi penipuan, hacking, pencurian identitas, dan banyak lagi. Para hacker menjualbelikan data pribadi user internet untuk berbagai kepentingan. SMS-SMS penipuan berhadiah, mama minta pulsa, dan banyak lagi, terjadi akibat tersebarnya nomor ponsel ke berbagai pihak.

  • Publikasikan informasi sensitif

Sering terjadi seorang ibu tanpa sadar melakukan selfie bersama anaknya di depan sekolah, atau rumah. Mentwitkan tentang rutinitas anaknya ke tempat kursus, mall, atau taman bermain.

Padahal semua informasi itu tergolong sensitif. Kenapa? Seorang kriminal akan mengamati kebiasaan calon korbannya. Dengan mengetahui kapan saja rutinitas dilakukan, mempermudah mereka tahu kapan seorang anak sedang sendirian, kapan rumah kosong, rute perjalanan seorang ibu, dan banyak lagi. Semua menjadi info berharga untuk melancarkan aksi kriminal.

  • Membebaskan anak online

Memberikan gadget ke anak sering menjadi kebanggaan bagi orang tua. Banyak ibu yang bangga jika anaknya yang masih balita sudah pandai mengoperasikan gadget. Sering terjadi anak-anak diberi gadget agar mereka tak rewel, menganggu orang tuanya. Mereka diberi kebebasan untuk memainkan gadget, termasuk online. Tentu saja ini bukan langkah bijak, sebab banyak konten yang tak sesuai usia anak.

Plus, jangan lupa juga bahwa banyak pedofil yang menyamar di internet. Mereka mendekati anak-anak melalui medsos atau aplikasi games online, dengan berbagai trik untuk memperdaya. Memebabaskan anak online sebaiknya tidak dilakukan para ibu. Sebab anak-anak adalah target utama para predator cyber.

  • Kecanduan online

Media sosial dan beragam aplikasi online memang sangat berguna bagi para ibu. Mulai dari bersosialisasi, menambah wawasan, sampai menjalankan bisnis online. Tapi jangan sampai kecanduan, lho. Ingat, ada anak-anak, suami, keluarga, pekerjaan, teman-teman di dunia nyata, yang tak kalah penting. Sudah pernah dengar berita tentang anak yang jatuh dari apartemen akibat ibunya keasyikan online? Jangan sampai ini menimpamu, ya.

  • Narsis tiada henti

Trend selfie, memamerkan menu makanan, barang yang baru dibeli, atau pemandangan keren yang dikunjungi, bikin banyak ibu jadi narsis. Selama masih wajar, kenarsisan itu bisa ditoleransi. Namun akan memuakkan juga kalau Instagram seorang ibu berisi semua barang-barang yang baru dibelinya.

Cobalah untuk memanfaatkan penggunaan media sosial, lebih dari sekadar untuk bernarsis-ria. Sebab hobi pamer berlebihan juga jadi contoh ngga bagus lho buat anak-anak.

  • Online shopaholic

Berbelanja online memang menyenangkan dan mudah. Cukup klik sana-sini, pilih-pilih barang, lalu barang itu bisa jadi milik kita. Kemudahan itu sering bikin banyak ibu keanduan. Apalagi iklan online shop terus membordardir di medsos, email, web, nyaris tiada henti. Tahu-tahu tagihan sudah segunung.

Menjadi shopaholic online rasanya bukan langkah bijak seorang ibu. Selain boros juga membuang-buang waktu terlalu lama di internet, bukan? Padahal ada banyak aktivitas yang jauh lebih berguna.

Related Posts