Ini Cara Jurnalis Indonesia Manfaatkan Medsos!

Inipers

Pers Indonesia berawal dari diterbitkannya surat kabar berbahasa Belanda yakni Bataviasche Nuvelles en politique Raisonnementen yang merupakan surat kabar pertama di Indonesia. Bataviasche Nuvelles en politique Raisonnementen terbit pertama kali pada Agustus 1744.

Kemudian seiring perkembangan jaman dan teknologi komunikasi, pers Indonesia pun mengalami banyak perubahan. Kini berkat kehadiran internet dan smartphone, memperoleh berita tidak hanya tergantung dari media tradisional seperti surat kabar, namun juga dapat memanfaatkan media sosial.

Dikutip dari nationalgeographic.co.id, 30% dari populasi Indonesia aktif menggunakan media sosial dengan kecenderungan untuk mencari dan mengetahui isu terkini dan perkembangan semua peristiwa.
Hal ini diperkuat oleh penyataan Djoko Agung Harijadi, Plt Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik yang menyebutkan 9 dari 10 pengguna internet mencari informasi melalui media sosial. Bahkan 80% dari pengguna internet di Indonesia memanfaatkan Facebook untuk mencari informasi, sedangkan 20% sisanya memilih memanfatkan Twitter.
Saat ini, internet telah menjadi referensi utama untuk mengakses berita dan informasi. Media konvensional seperti koran, majalah, tabloid dan lainnya menjadi referensi paling akhir bagi para pencari informas. – Djoko Agung Harijadi
Jika dilihat dari pola perilaku jurnalis Indonesia dalam penggunaan media sosial, data dari Dewan Pers juga menunjukan bahwa jurnalis Indonesia sering memanfaatkan media sosial sebagai sumber berita, sebagai media yang efektif untuk mendapatkan informasi berita dan sebagai media yang paling efektif mengontak narasumber.
Data Dewan Pers tahun 2012 menunjukan 60% wartawan Indonesia mengontak narasumber menggunakan media sosial Facebook. Sedangkan Twitter dan Mailing List digunakan 40% dan 11% wartawan untuk mengontak narasumber.
Selain itu riset yang dilakukan Maverick and Reseacrh Centre The London School of Public Relation Jakarta kepada 321 jurnalis, jurnalis foto dan editor dari 142 media selama Juni hingga September 2010 mengungkap bahwa 91% wartawan sangat tergantung pada internet dalam mencari berita. Bahkan 7 dari 10 wartawan memperoleh ide membuat berita dari internet.
Selain itu, 72,3% responden mengaku sering memonitor, mencari dan mendapatkan informasi melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter. Namun sayangnya, hanya 5 dari 10 wartawan yang melakukan verifikasi setelah mendapat informasi pemberitaan di Internet. Hal inilah yang mungkin membuat beberapa pemberitaan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Semoga apa yang telah diungkapkan dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam memanfaatkan media sosial untuk memperoleh ataupun membuat berita. Selamat Hari Pers Nasional! Jayalah terus pers Indonesia!

Related Posts