@BlontankPoer: “Saya Pengguna Medsos yang Sombong”

@BlontankPoer(PoliTwika.om) Bersahaja, apa adanya. Begitu ditanya seputar isu kaum difabel dan pemberdayaan teknologi informasi, obrolan akan mengalir nyaris tiada henti. Blontank Poer, satu dari aktivis media sosial yang berkesempatan diundang Presiden Jokowi ke Istana Negara belum lama ini. Saya menjumpainya di markasnya yang sangat sederhana, Rumah Blogger Indonesia, di bilangan Jajar, Solo, Jawa Tengah. Dia menyajikan BlonTea, teh racikannya sendiri yang sudah merambah ke angkringan-angkringan hingga kafe.

Berikut petikan obrolan yang berlanjut ke email bersama alumni Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) yang saya kenal sejak belasan tahun silam saat masih sama-sama jurnalis ini.

“Belum punya kegiatan yang fix. Masih sebatas konsolidasi berkepanjangan karena nyatanya belum punya apa-apa dan belum berbuat apa-apa,” begitu jawabnya saat ditanya apa aktivitasnya sekarang. Desember 2015, eks jurnalis Jakarta Post dan Detik ini membat kampanye untuk membuka kesadaran banyak orang terhadap hak-hak difabel lewat produksi kaos. Kaos dengan tiga desain dengan pesan berbeda itu dibagikan ke para pengayuh becak. “Jadi, kami meminjam punggung beliau-beliau jadi ruang iklan berjalan.”

Rumah Blogger Indonesia (RBI)  sebenarnya hanya istilah untuk menamai sekretariat bersama. Awal 2009, Komunitas Blogger Bengawan (KBB) yang kopdar anggota-anggotanya berpindah dari wedangan satu ke yang lain, ditawari memanfaatkan kantor NGO untuk advokasi hak difabel. Ketika lembaga tersebut resmi tidak beraktivitas, tempat itu diambilalih KBB, dan dinamakan RBI.

RBI dulu semacam rumah singgah kalau ada teman-teman blogger dari berbagai kota ingin jalan-jalan ke Solo dan sekitar, atau semacam tempat istirahat ketika melintas. Masih ada beberapa teman difabel yang tinggal, dan dibina untuk memanfaatkan teknologi informasi. Mereka mendapat fasilitas koneksi internet dari salah satu provider.

“Kami dapat hibah beberapa komputer bekas dari @ICTWatch, lalu memperoleh hibah enam unit PC dari APJII, dan banyak lagi. Dari sanalah kemudian alat-alat itu dipergunakan bersama. termasuk kami gunakan untuk pelatihan blogging, pelatihan jualan online untuk ibu-ibu pelaku usaha mikro-kecil-menengah, dan pelatihan komputer untuk 10 siswa SLTP tuna netra,” ungkap pria kelahiran Klaten ini.

Yang pasti, karena ada komputer dan koneksi internet gratis, teman-teman difabel memanfaatkannya untuk belajar banyak hal, dan mencari teman-teman mereka di Facebook. “Alhamdulillah, mereka bertemu kembali dengan teman-teman sealumni yang sudah menyebar di seantero negeri ini (asal daerah mereka masing-masing).” Efeknya, belakangan RBI juga menjadi tempat singgah teman-teman difabel dari berbagai daerah yang hendak ke Solo atau sekadar lewat.
@BlontankPoer meyakini semua hal ada manfaatnya, termasuk media sosial. Sebagai bentuk keyakinan itu, Desember 2015 lalu bikin lomba Instagram dan lomba blogging bertema difabilitas. “Banyak orang mengira, difabel butuh dikasihani. Dan itu SALAH BESAR! Teman-teman difabel tak mau dikasihani, tapi hanya ingin diperlakukan sama. perbedaan kendala fisik bukan berarti menjadi faktor pembeda pada berbagai sisi kehidupan.”

Sebagai eks jurnalis yang banyak malang melintang, Blontank juga dikenal sebagai aktivis blog. Dia rajin mengajak orang ngeblog. Alasannya? Blog lebih membebaskan untuk berekspresi daripada media mainstream.

‘Di blog kita bisa menulis semau kita, dengan data pendukung yang banyaknya tak terkira. Hanya saja, ada banyak blogger terjebak ingin menulis dengan kaidah jurnalistik sehingga malah kerepotan sendiri,” ungkapnya. Di sisi lain, ada blogger kebablasan, mengira di internet tak ada hukum atau etika. Muncullah aneka kasus hukum semacam gugatan pencemaran nama baik. Banyak blogger teledor dan salah memaknai kebebasan.

Blontank smasih merindukan bangkitnya komunitas blogger seperti sebelum 2010. Banyak blogger saling kunjung ke blog orang lain, termasuk kopdar antar daerah. Dulu ada Pesta Blogger, Kopdar Blogger Nusantara dan sebagainya. Lomba blogging pun marak sehingga orang senang menulis dan berbagi. Tahun 2012, Komunitas Blogger Bengawan mengadakan workshop capacity building untuk komunitas.

Kemunculan media sosial tak bisa dibantah cukup “mengacaukan” aktivitas blogging. FB, Twitter, Instagram, lebih disuka karena bisa langsung mendapat respon. “Di mana-mana, orang ingin cari duit lewat Twitter. Ya mau gimana lagi. Menurut saya, itu gejala sesaat juga. kelak orang akan bosan sendiri dan kembali ngeblog, meski mungkin bentuk blognya sudah tidak seperti sekarang dan kemarin. Saya yakin, masih ada banyak blogger yang rajin mengunggah konten berguna, mesti tak terpantau seperti masa jaya-jayanya,” papar peminat fotografi ini.

Sebagai salah satu orang dekat Jokowi sejak masih menjadi Walikota Solo, Blontank merasa mengenal Jokowi. Dia merasa biasa saja ketika diundang ke Istana Negara oleh Sang Presiden, bersama sejumlah aktivis media sosial.

“Saya termasuk pengguna medsos sombong. Maunya searah dan jarang tanggapi respon orang. jadi, saya termasuk perkecualian dari orang yang perlu didengar, apalagi oleh seorang presiden.” Menurut Blontank, meski peran netizen diperhatikan banyak kalangan, termasuk istana, Pak Jokowi bukan tipe seperti itu. “Beliau bukan orang yang mudah percaya kepada siapapun dan apapun. Jadi yang ramai di media sosial akan dicari tahu hubungannya di lapangan. Beliau punya banyak mata, tangan dan telinga. Jadi, kalau ada isu ramai di medsos tapi presiden diam saja, mungkin beliau sudah verifikasi di lapangan dan menemukan bukti bahwa keramaian di medsos tak berkorelasi positif, dan sebaliknya.”

Kendati Blontank bisa dikatakan cukup dekat dengan Jokowi sejak beliau belum jadi presiden, tak ada ambisi apapun pada pria ini. Sementara relawan-relawan Jokowi mendapat jabatan penting, Blontank masih tetap bersahaja. Masih menekuni angkringan sederhananya di Jalan Apel, Jajar, Solo. Masih bergaul dengan teman-teman difabel. Masih sama seperti saya mengenalnya pertama dulu, belasan tahun silam. Tetaplah begitu, Pak De! ***

Related Posts