@aMrazing: “Personal Brand? Gampang-Gampang Susah!”

@amrazing

Kicauannya di Twitter sangat segar. Bagaimana tidak, pemilik akun @aMrazing ini rajin mengunggah foto-foto perjalanannya ke seantero dunia. Ditingkahi tweet yang nakal, lucu, para follower bisa ikut merasakan serunya petualangan seorang Alexander Thian. Menggilai karya Enid Blyton, Agatha Christie, Dee Lestari, Dan Brown, John Green, Orhan Pamuk, dan J.K. Rowling, Alex pun ikut “ketularan” menjadi penulis. “Somewhere Only We Know”, “The Not So Amazing Life” pun lahir dari tangannya. Buku-bukunya seseru petualangannya, juga blognya. Hobi lainnya, fotografi, akan membuatnya layak dijuluki sebagai fotografer. Apalagi dalam waktu dekat, Lexy, begitu panggilan akrabnya, akan mengadakan pameran.

Seperti apa sih perjuangan seorang @Amrazing hingga bisa menikmati hidup sebagai seorang traveller seperti sekarang? Yuk kita ikuti obrolan dengan pria rame ini!

Dari semua media sosial yg kamu aktif, kayaknya kamu paling heboh di Twitter ya? Bisa diceritain kenapa paling suka di Twitter?

 Karena dari awal aku memang memposisikan Twitter sebagai lahan bercerita. dan sampai sekarang, Twitter itu effortless. Gampang dipakai. Gampang cari berita. Gampang berinteraksi dengan siapa saja.  Plus belakangan ini ada fitur gif dan poll. Membantu banget. 

Kamu terkenal sebagai traveller writer, bisa cerita dikit ngga awalnya kenapa bisa terjun ke dunia ini?

 Sebenarnya, aku nggak pernah memposisikan diri sebagai seorang travel writer. I write about a lot of things, from depression, loyalty, love and relationship, passion, etc. Namun, aku memang sering bepergian. Dan hasil dari berjalan ini sering aku tuangkan menjadi tulisan di blog. Kalau mau dirunut, salah satu pemicunya adalah buku The Journeys. Aku berkontribusi di situ, menulis salah satu cerita bergenre narrative traveling.

Orang taunya kamu kerjaannya enak banget, jalan-jalan mulu. Boleh tau apakah kamu jalan-jalan sebagai full pekerjaan dalam artian kamu memang dibayar untuk itu? Pihak mana aja yang membiayai perjalanan kamu?

 Perjalananku nggak semuanya gratis, kok. There’s no such thing as free lunch. But yes, aku dibiayai untuk mengunjungi tempat-tempat bagus, menceritakan tempat ini dari apa yang aku lihat dengar dan rasa.Tourism boards mengajak aku karena mereka merasa aku bisa bercerita lewat tulisan, maupun foto. Brand pun begitu, mereka punya aktivasi yang melibatkan traveling, mereka cocok dengan personality dan skill aku, maka aku diajak untuk bercerita. Untuk brand, yang terakhir ajak aku adalah Manna Indonesia. Aktivasi brand mereka di Raja Ampat. Sebelumnya, ada pegipegi.com, aku memang semacam ambassador mereka, jadi aku mengajukan destinasi, lalu ke sana dan menulis tentang ini. Qatar Airways, Singapore Airlines, Garuda Indonesia, dan beberapa tourism boards juga memakai jasaku.

 Sudah berapa negara yang kamu kunjungi?

Jujur aja nggak pernah aku hitung. Aku suka pergi ke negara yang sama beberapa kali. Misalnya, 7 kali ke Australia, 4 kali ke Jepang, tiga kali main ke Eropa, dan sering banget ke Singapore karena memang menarik dan ada aja yang belum dieksplore.  

Negara mana yang menurutmu paling oke buat dikunjungi? Dan yang paling ngga oke?

Aku suka sama alam. Jadi, Jepang, Australia, Maroko, dan Indonesia selalu jadi favorit. Yang paling nggak oke, nggak ada. Kenapa? Karena untuk membuat penilaian nggak oke, seseorang harus at least tinggal di satu negara beberapa lama, dan bukan dalam hitungan hari atau satu bulan.  

Selain penulis dan traveller, kamu juga fotografer. Nah, belajarnya otodidak atau formal nih buat motret? Atau karena memang hobi jalan-jalan bikin kamu jadi suka motret juga?

Aku belajar fotografi secara otodidak, dan nyolong ilmu dari teman-teman yang jago fotografi. Hobi ini sebenarnya sudah lama, cuma memang baru mendalami fotografi secara serius satu dua tahun belakangan ini. Alasannya sederhana, aku sering jalan, dan sayang aja kalo foto hasil jalan-jalannya jelek.  

Banyak orang ingin jalan-jalan gratis dan dibayar seperti kamu, padahal mereka ngga tau gimana perjuangan agar bisa menikmati pekerjaan seperti itu. Bisa bagi ilmu dikit gimana agar bisa seperti kamu?

Membangun personal brand sebenarnya gampang-gampang susah. Aku bukan penyanyi atau bintang film yang sering tampil di TV jadi nggak punya the power of exposure from TV. Maka, aku konsentrasi di bidang yang aku bisa, dan berusaha menjadi lebih baik terus menerus. Konsistensi juga memegang kunci penting. If you know what you’re good at, if you tell the stories from what you like and you tell it good, if you build a good network, i think the result will be good too. 

Bagaimana menurutmu tentang influencer di media sosial yang dengan mudah menerima pesanan baik di bidang politik/bisnis tanpa memikirkan efeknya?

Cara orang mencari uang kan beda-beda, ya. Aku rasa para buzzer politik ini tau konsekuensi atau omongan mereka di Twitter. Namun, mereka juga sadar, bahwa mereka butuh uang. Buzzer politik yang suka menghembuskan isu fitnah atau negatif, dan nggak peduli dengan konsekuensi atau efek yang mereka timbulkan. Let’s just say, aku bersyukur teman-temanku dan diriku sendiri nggak  ‘sebuta’ itu dengan uang.

Apa kamu pernah mendapat tawaran untuk meng-endorse isu-isu politik?

Oh, pernah. Hahaha. Tapi kalau aku nggak suka, nggak akan aku terima. 

Lagi nulis buku apa sekarang?

Sekarang sedang menyelesaikan The Not-So Amazing Life-of @aMrazing 2. Kalau di TNSALOA aku bercerita tentang bagaimana aku berinteraksi dengan customer di toko handphone, kali ini aku bercerita tentang bagaimana seorang penulis skenario menghadapi tantangan menulis.  

Sudah ngabisin berapa banyak buku paspor lex? Hihihi

Ya ampun, kak, satu aja gak abis-abis. HAHAHA.

Related Posts