@andivox: Anak Jalanan yang #KalahkanHariIni

andii

{PoliTwika.Com} Jika definisi selebtwit adalah pemilik akun Twitter dengan follower berjibun, maka @andivox belum bisa masuk kategori itu. Namun namanya berseliweran tiada henti dalam dua pekan terakhir di linimassa. Akun @andivox di-mention para selebtwit selevel @zarryhendrik. Bahkan Andi Malewa, begitu nama aslinya, punya pendukung besar seperti @GerakanMudaDPK yang berfollower lebih dari 37.000.

“Follower saya dulu 11.000 lebih, tapi sejak saya sering mengkritik kebobrokan pihak lain, banyak yang unfollow. Saya ngga bisa berpura-pura dan bermain pencitraan. Inilah saya apa adanya,” ujar Andi yang kini followernya sekitar 6500.

Menjadi selebtwit memang bukan keinginan @andivox, termasuk maju menjadi Bakal Calon Wakil Walikota Depok 2015 secara independen alias non partai. Tak ada obsesi untuk menjadi seleb, apalagi politisi. Tapi @andivox harus mau didaulat komunitas anak muda Depok untuk maju sebagai bakal calon independen, mengingat tak ada pihak yang berani menyuarakan aspirasi anak muda Depok. “Banyak yang meminta dari dulu, tapi saya ragu dan harus berpikir panjang. Akhirnya saya memutuskan maju,” ujar pria kelahiran Makassar, 6 Januari 1982 ini.

Sayang, dia kurang pede buat maju sebagai Bakal Calon Walikota Depok,mengingat dirinya lebih akrab dengan anak jalanan dan kalangan menengah bawah. Sebagai mantan anak jalanan yang lebih suka mengurusi hal-hal informal, @andivox memilih menjadi Bakal Calon Wakil Walikota.

Digandenglah Emil Dardak yang didaulat jadi orang nomor 1 Depok, sementara @andivox nomor 2. Emil dianggap punya kualitas dan idealisme sevisi dengan Andi, sebab sama-sama mewakili anak muda yang berjiwa independen. Alhasil, nama @andivox dan @emildardak banyak berwira-wiri di linimassa Twitter.

Siapa sebenarnya @andivox?

Perawakannya kecil saja, tapi lelaki berdarah Sulawesi itu menyimpan energi dan tekad yang luar biasa besar. Itulah yang tersirat saat tim Politwika menyambangi @andivox di Kedai Ekspresi yang tak jauh dari Stasiun Depok Baru. Setelah 15 tahun jadi warga Depok, @andivox melihat banyak ketimpangan di kota ini. Mulai dari infrastruktur yang berantakan, tata ruang yang sudah banyak berubah fungsi, lingkungan amburadul, pengelolaan anak jalanan yang tak jelas, pelayanan kesehatan yang minim, dan banyak lagi.

“Depok ini bisa dibilang sebagai kota akibat kecelakaan. Sebenarnya Depok itu daerah resapan air, yang berfungsi mencegah terjadinya banjir di Jakarta. Tapi resapan air berupa situ-situ sudah berubah menjadi bangunan, apartemen, mall, dan akhirnya fungsi resapan itu tidak ada lagi. Jadilah Depok banjir,” ungkap @andivox.

Kepedulian @andivox terhadap kota Depok sudah lama diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar slogan kampanye karena tergiur kekuasaan. Tahun 2007 @andivox mendirikan Rumah Baca Paguyuban Terminal (Panter) di Terminal Depok yang kumuh. Tahun 2014 rumah baca ini digusur dan diperbarui menjadi Humanioract, yang bergerak di bidang kemanusiaan, kesehatan, dan pencegahan HIV/AIDS. Sehari-hari @andivox bergaul dengan anak jalanan, para penghuni terminal, dan kaum pekerja informal Depok. Dia membaur, menjadi bagian dari mereka, selama belasan tahun. Tak heran jika namanya lebih dikenal di kalangan grassroot ketimbang politisi elit Depok. Hobi bermusiknya membawa @andivox lekat dengan musisi jalanan alias pengamen Depok, dari berbagai usia. Tahun 2013 ia bersama Iksan Skuter, dan Frysto Gurning mendirikan Institut Musik Jalanan (IMJ) di Kedai Ekspresi miliknya, demi memberi panggung pada musisi jalanan. Saat membangun IMJ, @andivox sempat mendapat ancaman dari Satpol PP Depok, tapi dilawannya dengan argument cerdas.

“Pemerintah Depok melarang warga memberi uang kepada pengamen dan pengemis melalui Perda Nomor 16 tahun 2012. Tapi apakah mereka pernah memberi pengamen ruang untuk berkarya? Apa mereka pernah memikirkan solusi bagaimana agar pengamen dan pengemis bisa mencari uang,” ada emosi kekesalan dalam intonasi@andivox saat mengucapkan itu.

Ada banyak hal yang perlu dibenahi di Depok, yang paling vital adalah layanan kesehatan. Dari sisi lokasinya saja, RSUD Depok sangat tidak strategis. Selayaknya RSUD, sebaiknya berada di pusat kota, agar mudah diakses oleh semua warga Depok. Tapi nyatanya RSUD justru ada di pinggiran kota yang sulit dijangkau. Pusat kota Depok seperti Jl. Margonda Raya justru didominasi rumah sakit swasta yang biayanya tak terjangkau kalangan menengah ke bawah. Sekilas Kota Depok memang nampak megah, dengan mall-mall dan apartemen dimana-mana. Tapi apakah itu ukuran sebuah kota yang sukses dan nyaman? Sama sekali tidak.

Ketimpangan-ketimpangan seperti itulah yang membuat @andivox mencoba maju dalam Pilkada Depok 2015, dari kalangan independen. “Target saya bukan untuk menang. Namun saya ingin memberi contoh dan inspirasi bagi anak muda lain, bahwa siapapun bisa maju dan memperbaiki Depok. Alangkah bagusnya jika lima tahun lagi ada banyak anak muda kritis dari kalangan independen yang maju Pilkada. “Ada banyak orang yang berkontribusi besar pada Depok, dan mereka tidak punya ambisi berkuasa. Seperti Endi Aras pemilik Gudang Dolanan Indonesia di Sawangan, Depok. Atau Heri Blankon yang giat menghijaukan wilayah Pengasinan, Depok,” papar @andivox.

Kalaupun @andivox tak lolos ke Pilkada karena jumlah KTP yang terkumpul tak memenuhi syarat, atau dia kalah di Pilkada, setidaknya dia sudah MELAWAN. Sesuai tagar yg dipakai di bionya, @andivox punya semangat yang layak kita tiru: #KalahkahHariIni.

Oke, bro @andivox, kami dukung semangatmu! Maju terus dalam membenahi Depok dan melawan kebobrokan di sana-sini! Dan terus #KalahkahHariIni!

Related Posts