@arbainrambey: Medsos, Wadah Promosi Pecinta Fotografi

@arbainrambey

Belakangan ini, banyak anak muda yang tertarik menggeluti dunia fotografi. Bahkan banyak diantaranya yang rela menyisihkan uang untuk membeli kamera sendiri dan mengikuti hobi serta ketertarikannya dalam dunia fotografi.

Terlebih saat ini banyak medsos sebagai sarana untuk membagikan foto seperti Instagram dan Steller. Para anak muda diminta berlomba untuk mengunggah foto-foto bagus hasil karyanya demi mendapat apresiasi yang banyak dari pengguna media sosial.

Kali ini PoliTwika kedatangan tamu seorang fotografer senior yang sudah malang melintang di dunia fotografi. Ia adalah Arbain Rambey. Pria kelahiran Semarang ini bercerita bahwa ia sejak kecil sudah akrab dengan dunia fotografi.

Arbain juga mengakui saat anak-anak seusianya masih asik bermain bersama teman seumuran, ia justru sudah belajar sesuatu yang penting di dunia fotografi, yakni mengolah gambar menjadi foto atau biasa dikenal dengan mencuci foto. “Saya tertarik dunia fotografi sejak umur 4 tahun. Saya juga belajar cuci cetak foto saat berusia 13 tahun.”

Ia bahkan masih ingat betul kamera pertama yang dipakainya pada tahun 1978, yakni Ricoh 500GX. “Kamera pertama saya adalah Ricoh 500GX yang sekarang jadi pajangan di meja saya. Saya membeli kamera itu pada Maret 1978 dengan harga Rp 37.500.”

Kuliah di jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), tidak menyurutkan cita-citanya untuk menjadi fotografer profesional. Ia pun bertekad untuk menjadikan hobinya tersebut menjadi profesi yang bisa menghidupinya.

Arbain pun mengaku dirinya otodidak mempelajari segala seluk-beluk tentang dunia fotografi. Untuk anak muda yang tertarik mengembangkan karier di dunia fotografi, ia pun memberikan pesan khusus, terlebih dengan adanya media sosial yang bisa menjadi portofolio seorang fotografer.

Ia mengatakan bahwa medsos seperti Instagram, Tumblr, Pinterest, dan Steller bisa menjadi sarana promosi bagi anak muda yang serius belajar dan ingin bekerja di dunia fotografi.

“Media sosial itu adalah sarana iklan. Sebagai contoh, pada tahun 2005, buku biografi saya yang berjudul The Mist of Time terbit di Inggris karena penerbit melihat postingan-postingan saya. Banyak-banyaklah memotret sebelum bertanya.”

Related Posts