Benarkah Media Sosial Beracun?

Social media detox atau detoks di media sosial tengah menjadi perbincangan di media sosial. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya unggahan yang menggunakan  #socialmediadetox atau #socialmediadetoxchallenge. Pada Jumat, 30 Oktober 2018 di akun twitter @politwika telah dibuka jajak pendapat untuk melihat seberapa banyak pengikut yang mengetahui tentang detoks di media sosial tengah atau bahkan mengikuti tantangan (challenge) tersebut.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 55% pengikut menyatakan tidak tahu mengenai detoks di media sosial, 34% tahu tapi tidak mengikuti tantangan tersebut, dan hanya 11% yang tahu dan mengikuti tantangan tersebut. Lalu apakah sebenarnya detoks di media sosial? Bagaimana cara melakukannya? Manfaat apa yang didapat? Berikut pemaparannya.

Apa itu detoks di media sosial?

Detoks di media sosial adalah proses mengurangi ketergantungan media sosial untuk menjaga kesehatan mental dengan cara rehat dan tidak menggunakan media sosial dalam kurun waktu tertentu. Jangka waktu melakulan detoks umumnya ditentukan sendiri oleh pengguna.

Jika menyelisik dari berbagai sumber dalam jaringan, kegiatan tersebut sebenarnya telah lama dilakukan, karena telah ada literatur yang membahas hal tersebut sejak 2012. Namun, kegiatan tersebut menjadi viral setelah beberapa selebritas Indonesia dan dunia melakukan hal tersebut, seperti Eva Celia, Karin Novilda (@awkarin), Kanye West, Ariana Grande, hingga Kim Kadarshian.

Sumber: thecut.com

Lebih lanjut, beberapa orang mulai menjadikan detoks di media sosial menjadi salah satu challenge dalam rangka memperingati hari kesehatan mental sedunia pada setiap tanggal 10 Oktober.

Mengapa detoks di media sosial itu penting?

Seperti dilansir dari psychologytoday.com, media sosial memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental, karena dapat menaikkan tingkat depresi dan rasa kesepian pada pemakai. Hal tersebut dapat terjadi karena candu media sosial akan memutuskan interaksi dengan sekitar, karena terlalu fokus pada ponsel masing-masing.

Selain itu, unggahan pada media sosial umumnya menunjukkan hal yang tidak bisa dimiliki misalnya gaya hidup mewah para selebritas. Terlalu sering membandingkan diri pencapaian diri, kecantikan, dan gaya hidup dengan selebritas atau pengguna lain akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan yang mengarah pada kecemasan dan depresi.

Lebih lanjut, beberapa orang tidak terbiasa untuk memilah-milah privasi apa yang layak dan yang tidak layak unggah. Hal tersebut dapat merugikan bahkan membahayakan pengguna. Misalnya pada kasus beberapa selebritas yang terkena perundungan karena foto-foto vulgar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai dan norma di Indonesia.

Berdasarkan cerita orang-orang yang telah melakukan tantangan tersebut, waktu yang umumnya digunakan untuk membuka media sosial teralihkan dengan hal lain. Hal tersebut mampu mengurangi rasa cemas yang timbul akibat sering membandingkan diri dengan orang lain yang dilihat pada media sosial.

Selain itu, dengan membiasakan diri tidak ketergantungan orang akan lebih menghidupi momen yang sedang berlangsung, meninggalkan momen yang telah berlalu, dan tidak khawatir akan masa depan. Orang akan “kembali ke dunia nyata”.

sumber: Pexels.com
sumber: Pexels.com

Bagaimana cara melakukan tantangan detoks di media sosial?

Durasi tantangan bervariasi mulai dari 24 jam, 1 minggu, 1 bulan, hingga 3 bulan. Jenis detoks pun bermacam-macam, namun yang paling mudah adalah dengan berhenti mengikuti (unfollow) orang yang tidak dikenal atau orang tidak dekat dan mengganggu, namun tidak berani unfollow karena perasaan tidak enak.

Tingkatan selanjutnya adalah membiasakan diri untuk tidak melihat media sosial sebelum tidur dan menahan diri untuk tidak mengecek media sosial saat bangun tidur. Kegiatan dapat dialihkan dengan membaca sebelum tidur dan berolahraga setelah bangun tidur.

Jika sudah terbiasa, maka level tantangan dapat dilanjutkan dengan mencoba mencopot beberapa aplikasi media sosial yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Pada tahap ini umumnya pengguna yang tidak terbiasa akan merasa resah, muncul perasaan takut dan cemas ketinggalan berita terbaru atau yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).

Banyak yang gagal pada tahap ini, meski tantangan hanya dilakukan dalam kurun waktu 24 jam. Jika memang dirasa berat, memang hanya dianjurkan untuk mencopot 1 jenis media sosial saja, lalu secara perlahan mengurangi ketergantungan, misalnya dengan tidak membiasakan diri membuka media sosial jika sedang senggang.

Pada tingkatan paling atas adalah dengan menutup akun media social untuk publik atau bahkan menghapus akun. Hal tersebut pernah dilakukan oleh Sarah Sechan, dalam unggahannya terakhinya ia menuliskan bahwa ia melakukan hal tersebut karena ingin menghabiskan hidupnya dengan fokus pada orang-orang sekitar yang ia temui secara langsung.

Namun, tingkatan terakhir ini terasa sulit dilakukan karena banyak hal yang dilakukan pada media sosial termasuk untuk yang berhubungan dengan pekerjaan. Oleh sebab itu, tingakatan tersebut jarang dilakukan.

Pada challenge #SocialMediaDetox tantangan umumnya dilakukan dalam hitungan hari atau paling lama 2 minggu. Setelah selesai melakukan tantangan, orang yang melakukan hal tersebut harus mengunggah pengalaman mereka melakukan hal tersebut, termasuk manfaat apa saja yang mereka rasakan.

Setelah itu, orang yang telah melakukan tantangan wajib meneruskan tantangan tersebut pada orang-orang yang dianggap perlu melakukan tantangan tersebut karena sudah terlalu candu pada media sosial. Caranya dengan me-mention atau men-tag akun orang yang diinginkan untuk mengikuti tantangan #SocialMediaDetox.

Kapan waktu yang tepat melakukan detoks di media sosial?

Larissa May—seorang pemerhati kesehatan mental dan pendiri platform media sosial #HalfTheStory—dalam wawancaranya dengan forbes.com memaparkan bahwa terdapat 6 pertanyaan yang bisa ditanyakan pada diri sendiri untuk memastikan apakah butuh melakukan detoks di media sosial atau tidak, yaitu:

  1. Apakah kamu ada dorongan secara fisik untuk membuka media sosial?
  2. Apakah kamu merasa cemas jika tidak membuka media sosial dalam kurun waktu tertentu?
  3. Apakah kamu merasa diri tidak berharga atau rendah diri saat melihat unggahan pencapaian orang lain di media sosial?
  4. Apakah kamu menghabiskan waktu lebih dari 2 jam di media sosial secara terus-menerus?
  5. Apakah kamu menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial dibanding dunia nyata?
  6. Apakah jika dikucilkan atau diasingkan di media sosial membuat kamu merasa sedih?

Jika lebih banyak menjawab iya, maka sebaiknya mulai melakukan detoks di media sosial.

Media sosial memiliki segudang manfaat bagi yang memakai dan manfaat tersebut dapat dirasakan baik oleh anak-anak hingga orang dewasa. Namun, jika digunakan berlebihan justru akan menyebabkan hal-hal negatif bagi pengguna. Oleh sebab itu, aturlah waktu agar tidak berlebihan menghabiskan waktu di media sosial dan yang paling penting bijaklah dalam menggunakannya!