BLOKIR AKUN TWITTER @ATTAHALILINTAR, KUY ATAU GAK KUY NIH?

Atta Halilintar (@AttaHalilintar), raja YouTube Indonesia mulai menjajal kembali dunia Twitter pada 30 Juli 2019. Kehadirannya disambut dengan beragam reaksi. Ada yang pro mengucapkan selamat datang kepada Atta. Ada pula yang menyambut dengan berkelakar minta di-follback oleh Atta.

Namun, tidak sedikit yang melakukan blokir, hingga terjadi blokir massal akun Atta. mojok.co menyebutkan bahwa tindakan tersebut termasuk cyber bullying. Apakah benar? Bagaimana tindakan blokir dilihat dari dunia psikologi, mari simak pembahasan berikut.

 

Tangkapan layar twit pertama Atta

 

Mengutip urban legend dari mojok.co ada stereotip bahwa setiap media sosial punya karakteristik berbeda dan masing-masing pengguna tidak dapat bermigrasi sembarangan ke media sosial lain.

Seperti pada kasus Atta yang selama ini lebih terkenal di YouTube dan Instagram dianggap “haram” main Twitter karena dianggap oleh anak Twitter tidak sesuai dengan karakteristik Twitter yang bebas dari keluh kesah kegalauan remaja tanggung seperti Atta.

Maka tidak heran anak Twitter berbondong-bondong melakukan aksi blokir massal. Aksi tersebut diikuti dengan tindakan memamerkan tangkapan layar atau rekaman video bahwa akun Atta telah diblokir.

Tindakan blokir massal disusupkan melalui tagar #Atta.

Tangkapan layar orang-orang yang melakukan pemblokiran akun Atta

 

Dalam dunia psikologi ada perbedaan pendapat terhadap perilaku memblokir. Pertama, seperti yang dilansir dari theodysseyonline.com bahwa memblokir adalah tindakan paling tidak dewasa yang dapat dilakukan seseorang di media sosial.

Pemblokiran pada dasarnya digunakan jika merasa terancam akan akun tertentu, bukan karena ada yang melukai perasaan atau karena ketidak sukaan. Alih-alih demi keamanan, pemblokiran semacam itu menunjukkan kerapuhan dan ketidak stabilan emosi seseorang.

Selain itu, pemblokiran juga menunjukkan bahwa seseorang tersebut memiliki kecemasan tertentu dalam menggunakan media sosial. Hal tersebut lebih lanjut menunjukkan bahwa orang yang memblokir memiliki pola penggunaan media sosial yang tidak sehat.

Pemblokiran juga dapat berdampak ke dunia nyata. Hal tersebut dapat terjadi karena pemblokiran membuat pengguna membawa ketidak sukaan di dunia maya ke dunia nyata. Seperti yang kita tahu, menumpuk ketidak sukaan itu tidak baik bukan?

Pendapat berbeda ditunjukkan oleh healthline.com. Seperti yang dilansir dalam situs tersebut, media sosial dapat berdampak bagi kesehatan mental seseorang, terutama bagi orang-orang dewasa muda. Dampak yang paling banyak terasa adalah kecemasan karena ada tendensi untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Dengan dampak buruk yang ditimbulkan media sosial tersebut, Aimee Barr, seorang psikoterapis justru menganjurkan untuk menggunakan fungsi “block” dan “mute”. Hal tersebut dianggap sehat dilakukan demi melindungi kesehatan mental seseorang.

“There’s no one-size-fits-all rule for what accounts are bad for your mental health.” – Gabrielle Kassel, Healthline.com

Tidak ada satu acuan atau aturan khusus untuk bentuk akun seperti apa yang buruk untuk kesehatan mental anda. Jika merasa tidak ada yang buruk tidak ada salahnya untuk melakukan pemblokiran.

Demikian dua paparan baik dan buruknya melakukan pemblokiran terhadap sebuah akun, jadi blokir akun @AttaHalilintar, kuy atau gak kuy nih? ***