@BonnieTriyana: “Belajar Sejarah = Belajar Berpikir Logis”

Walau menyukai sejarah dan mendalaminya, kicauan @BonnieTriyana di Twitter terkesan santai saja. Tidak mau jadi sok sejarawan. Sebab pria asal Rangkasbitung ini memang lebih suka menulis dan melakukan riset, Maklum, Bonnie memang penulis. Pernah jadi jurnalis di Majalah Tempo, dan menulis sejumlah buku sejarah. Memimpin redaksi Majalah Historia, membuat dia benar-benar kian mencintai segala hal yang berbau sejarah. Apa pandangan alumni Universitas Diponegoro ini tentang media sosial dan sejarah? Yuk, ikuti obrolannya dengan Politwika belum lama ini.

Hai Mas Bonnie, apa kabar? Sekarang sedang sibuk apa?

Kabarku baik. Aktivitas rutinku menulis di Majalah Historia, bersama kawan-kawan lain. Selain itu, aku sedang menulis biografi seorang tokoh kiri pada masa Hindia Belanda. Ini proyek pribadi, semacam obsesi sejak lama. 

 Sejak kapan mas Bonnie tertarik pada sejarah?

Aku tak ingat kapan aku tertarik sejarah. Satu yang pasti, buku pertama yang aku beli waktu kelas 2 SD adalah buku sejarah, tentang pertempuran Surabaya. Selama sekolah, nilai sejarahku selalu tinggi, jauh lebih tinggi dari pelajaran matematika. 

Mas Bonnie aktif di media sosial apa saja?

Aku hanya aktif di FB dan Twitter. Namun belakangan ini, karena fokus menyelesaikan pekerjaan dan buku, aku tak lagi aktif di Twitter. Kalaupun posting, cuma di FB. 

Sejak memimpin majalah Historia dan aktif di medsos, menurut mas apakah medsos punya peran dalam memperluas wawasan sejarah ke publik, khususnya anak muda?

Media sosial ada penemuan besar abad ini. Ia mampu menjadi jembatan yang menghubungkan kita ke banyak orang secara sekaligus. Tentu saja media sosial sangat membantu kami untuk menyebarluaskan artikel-artikel yang kami tulis, terlebih kepada generasi muda, pengguna media sosial yang dominan. 

Apa komentar mas tentang fenomena menurunnya minat baca masyarakat terutama anak muda akibat munculnya medsos? Waktu mereka lebih tersita oleh medsos daripada membaca buku atau majalah?

Negeri kita dikenal sebagai negeri dengan penduduk rendah minat baca. Kehadiran medsos bisa jadi dua efeknya: membuat anak muda terlena membaca pesan singkat hampa pengetahuan atau malah menjadi sarana untuk membuat mereka menjadi suka membaca. Semisal, media sosial bisa digunakan sebagai medium untuk mengenalkan bacaan bermutu. Tapi tugas ini dikembalikan kepada pengguna media sosial, semisal penerbit buku atau malah perpustakaan. Kalau serius menggunakan media sosial, Perpustakaan Nasional misalnya, kan bisa mempromosikan buku-buku koleksi mereka. Akun twitter Perpusnas RI @Perpusnas1 malah lebih banyak memposting kegiatan yang sudah pasti tak menarik minat followernya, misalnya pidato kepalanya, foto kunjungan, acara-acara di Perpusnas. Akun twiter jadi semacam press release. Padahal kalau mau maksimal digunakan sebagai alat promosi Perpusnas, tentu bisa mengundang anak muda datang ke sana. 

Dengan kehadiran akun medsos yang membahas sejarah seperti @MajalahHistoria, apakah bisa memancing mereka untuk menyukai sejarah?

Majalah Historia selama ini hanya mengandalkan media sosial sebagai cara untuk menarik minat pembaca. Sebagian mereka anak-anak muda. Namun selalu terselip pertanyaan: apakah mereka memang sudah punya dasar menyukai sejarah atau sebaliknya: suka sejarah gara2 menerima pesan dari media sosial kami? Yang pasti, anak-anak muda sebagian besar punya akun media sosial, kami menggunakan itu sebagai cara untuk berkomunikasi dengan mereka.

Ada anggapan, bagwa banyak anak muda yang tidak aware dengan apa yang sesungguhnya terjadi di masa lalu, mereka cenderung hidup di masa kini dan menyimak sejarah sekilas saja. Apakah pandangan itu betul?

Gak juga. Sekarang anak muda banyak yang cerdas dan mulai menyadari pentingnya belajar sejarah. Walaupun belum banyak, tapi mulai ada. Tentu kita tak bisa berharap semua orang punya kesadaran historis. Tapi kita bisa berharap, mereka yang punya kesadaran historis kelak menjadi pemimpin-pemimpin di bidangnya masing-masing dan menjadikan kesadaran itu sebagai alat berpikir menuju kemajuan. 

Menurut mas, apakah minat mendalami sejarah itu memang makin rendah di kalangan generasi sekarang? Apa karena bombardir teknologi yang kian canggih dan membuat mereka hanya memikirkan tren kekinian?

 Jangan salah, waktu dulu aku kuliah di jurusan sejarah, satu kelas cuma 24 orang, yang lulus paling 15. Sekarang mahasiswa di jurusan sejarah melonjak naik, lebih dari 50. Bahkan ada kampus yang mahasiswa sejarahnya 100 orang satu angkatan. Ini terjadi dalam satu dekade terakhir. Ini dampak dari era keterbukaan. Terlepas dari motivasi orang memilih kuliah sejarah karena apa, yang pasti ini kemajuan daripada zaman saya kuliah dulu.

Apa suka duka selama aktif di medsos? Ada pengalaman paling berkesan barangkali?

Saya orang yang gak pernah mau serius-serius dalam bermedia sosial. Gak mau baper istilahnya. Jadi, saya hanya menggunakan sosmed sebagai ajang berjejaring, berkawan dan mengikuti perkembangan. Karena seringkali informasi yang kita terima di sosmed jauh lebih cepat daripada media massa konvensional. Walau tentu saja perlu verifikasi dan hati-hati dalam menerima informasinya.

Ada pesan mas Bonnie buat generasi muda saat ini terkait dengan memahami sejarah?

Belajar sejarah itu artinya belajar untuk berpikir logis, rasional. Hukum yang berlaku di dalam sejarah adalah kausalitas, sebab akibat. Dengan belajar sejarah, kita mampu memahami kenapa sebuah hal/peristiwa terjadi. Dengan demikian, pola pikir kita menjadi cocok/akur dengan syarat memajukan sebuah peradaban: supremasi sains. Semisal Anda dokter, kan gak mungkin tiba-tiba mengatakan pasien Anda kena santet tanpa terlebih dahulu diobservasi. Maka, tujuan belajar sejarah  yang paling utama adalah menimbulkan daya kritis dan berpikir logis. Bukan mistis atau klenik sebagaimana peradaban zaman kegelapan. 

 

 

Related Posts