Bunuh Diri Karena Media Sosial? Masa Sih?

Topik tentang bunuh diri akibat media sosial (medsos) belakangan ini sedang menjadi perbincangan hangat warganet. Bagi sebagian orang, memperoleh informasi baik berita maupun pernyataan melalui medsos dapat menyebabkan depresi bahkan bisa berakibat pada kecenderungan bunuh diri. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Clinical Psychological Science:

  1. Remaja menggunakan gawai setidaknya 5 jam/hari. Sekitar 70% dari mereka mungkin memiliki pikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri.
  2. Pada tahun 2015, 36% remaja melapor bahwa merasa sedih, putus asa dan merencanakan untuk melakukan percobaan bunuh diri.
  3. Pada tahun 2015, sebanyak 87% mereka menggunakan medsos hampir setiap hari. Mereka 14% lebih mungkin untuk depresi dibanding dengan mereka yang jarang menggunakan.

Seorang dokter spesialis remaja di University of New Mexico, Victor Strasburger, mengatakan bahwa terdapat hubungan antara remaja, media sosial dan bunuh diri. Kasus bunuh diri yang dilakukan oleh remaja baru-baru ini sering dikaitkan dengan rundungan di dunia maya, medsos khususnya.

Medsos tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas maraknya aksi bunuh diri tersebut, melainkan bagaimana cara kita pribadi untuk dapat mengendalikan apa yang bisa kita lihat dari akun medsos kita sendiri.

Contohnya adalah

  1. Dari sisi orang tua, dapat memantau apa saja yang dilakukan anaknya di media sosial, lalu berikan batasan.
  2. Jangan mem-follow akun-akun yang bisa membuat perasaan kita menjadi kacau atau bahkan depresi.
  3. Pergunakan fitur mute. Di Twitter dan Instagram tersedia fitur mute, apabila kita merasa terganggu dengan suatu pembahasan atau konten, kita dapat mengaktifkannya. Fitur mute ini berbeda dengan blocked, pengguna yang kita mute akunnya, masih bisa melihat aktivitas kita di lini masa seperti biasa.
  4. Yang lebih ekstrem lagi, kita bisa melakukan rehat sejenak dari segala aktivitas yang berhubungan dengan medsos. Lakukan me time, bisa dengan pergi ke tempat-tempat yang bisa menenangkan, membaca buku, atau apapun yang bisa membuat mood kita kembali membaik.

Kita tidak bisa memaksa semua orang di sekitar kita untuk bisa memahami apa yang kita mau, solusinya adalah dengan menghindari diri dari sesuatu hal atau perkataan yang dapat menyakiti bahkan membuat kita depresi. Semua bisa dimulai dari kita sendiri.

Sumber 1

 

Sumber 2

Related Posts