CANDU WARGANET PADA POLUSI SOSIAL MEDIA

Kata ‘polusi’ erat berkaitan dengan sesuatu yang kotor dan memiliki dampak negatif. Oleh sebab itu, kata tersebut dapat digunakan untuk mewakili konten-konten negatif yang semakin banyak mengotori media sosial.

Contohnya adalah video sepasang suami-istri yang mengunggah “kehidupan ranjang” mereka untuk menjadi konten di Youtube atas nama akun “Pras & Erika”.

Sumber: Tangkapan Layar @hati2dimedsos

Konten tersebut menjadi viral lintas kanal, terlebih karena ada akun-akun dengan jumlah pengikut (follower) banyak turut mengunggah dan membahas konten tersebut, seperti akun @hati2dimedsos dan @tubirfess di Twitter.

Berdasarkan hasil pantauan, unggahan tersebut menyulut kemarahan warganet, sehingga mereka beramai-ramai melaporkan akun tersebut hingga hilang. Kurang dari 1 jam, akun Youtube tersebut sudah tidak ditemukan.

Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut, banyak juga akun Youtube yang mengunggah konten serupa, seperti yang dapat dilihat dari hasil tangkapan layar di akun Twitter@hati2dimedsos berikut ini.

Sumber: Tangkapan Layar @hati2dimedsos

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa video-video yang termasuk konten negatif atau mungkin ada yang hanya sekedar clickbait tersebut telah ditonton ribuan, puluhan ribu, bahkan hingga ratusan ribu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa meski banyak yang mengaku tidak menyukai, konten-konten negatif tersebut tetap saja mampu viral dan menarik banyak penonton. Sedangkan setiap kali ada yang menonton, tentu saja memberikan keuntungan bagi si pemilik akun.

Dilansir dari CNN Indonesia, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi Samuel Abrijani Pangarepan mengungkapkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia memiliki kecenderungan untuk lebih menghargai konten negatif ketimbang yang positif.

Hal tersebut disimpulkan setelah melihat lebih banyak orang memberi tanda suka atas konten negatif di Indonesia. Pertanyaannya mengapa konten negatif bisa viral? Untuk menjawabnya mari kita bedah terlebih dahulu bagaimana sebuah konten bisa viral.

Content that is primed for virality is created with the goal of triggering social sharing and publisher placements. It’s designed to catch mass attention. – www.frac.tl

Konten viral adalah yang mampu memicu orang untuk membicarakan dan menyebarkan konten tersebut secara terus-menerus. Hal tersebut mungkin terjadi pada media sosial yang memiliki cara cepat untuk mengunggah ulang (repost), seperti Twitter dengan fitur retweet atau pada Facebook dengan fitur share.

Lebih lanjut seperti yang pernah dilansir di blog PoliTwika pada artikel yang berjudul “Yuk, Buat Kontenmu Viral di Medsos”, sebuah konten dapat menjadi viral jika memiliki bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan muatan konten mampu membangkitkan emosional warganet.

Influence&Co melansir melalui artikelnya yang berjudul “Positive or Negative, Here’s Why Content Goes Viral”, bahwa penelitian terbaru menunjukkan reaksi emosi warganet adalah pendorong terbesar sebuah konten menjadi viral, terlebih emosi bahagia dan marah.

Berdasarkan fakta tersebut tidak heran jika konten-konten sampah yang menjadi polusi media sosial dibenci namun mampu menjadi viral. Seperti pada kasus di Youtube atas nama akun “Pras & Erika”.

Muatan konten mereka tidak berat sama sekali, bahasa yang digunakan pada video pun tidak rumit bahkan cenderung banal, dan konten tersebut mampu membangkitkan emosi marah warganet.

Ditambah dengan sedikit pancingan dari akun-akun yang memiliki jumlah pengikut banyak, maka warganet terpancing untuk mencari tahu video tersebut. Meski video tersebut dicari dan diunggah ulang untuk dicaci lalu berakhir dengan akun tersebut hilang karena dilaporkan warganet, paling tidak pembuat konten telah mendapat atensi yang mereka cari.

Upaya mengurangi penyebaran konten negatif memang tidak mudah. Meski Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah membuat sistem yang memungkinkan warganet mengadukan konten negatif dan masing-masing media sosial pun telah menyediakan fitur report, tetap saja penyebaran konten negatif sulit dibendung.

Hal tersebut terjadi karena warganet masih minim kemampuan menahan diri untuk memilah-milah konten seperti apa yang layak dibagi dan tidak. Jadi, meski sumber konten telah dihapus tetap saja koten sudah tersebar dan menyebabkan polusi di media sosial.