Cegah Misinformasi Covid-19, Twitter Hilangkan 4,5 Juta Akun

Media sosial (medsos) Twitter memberikan pandangannya terkait upaya untuk mencegah misinformasi pandemi Covid-19. Sejak memperbarui aturan keamanannya pada Maret 2020 untuk mengakses konten Covid-19, 14.900 tweet telah dihapus dan 4,5 juta akun telah dihilangkan.

Medsos besutan Jack Dorsey ini menyebutkan ada 160 juta orang yang telah mengunjungi explore tab khusus Covid-19. Memang, tab explore khusus Covid-19 yang ada di Twitter sangat membantu untuk mengecek kebenaran kabar tentang pandemi.

Twitter juga memberikan klarifikasi tentang cara mengevaluasi informasi Covid-19 yang salah. Mereka akan menghapus akun kalian jika menyebarkan berita yang salah terkait Covid-19.

Untuk mengetahui apa kriteria misinformasi yang bisa berakibat dihapusnya akun kalian, Twitter menggolongkannya menjadi tiga kriteria:

1. Apakah konten berisikan klaim fakta tentang Covid-19?
Twitter mengklaim kabar terkait Covid-19 harus disajikan sebagai fakta, bukan pendapat. Hal-hal ini bisa berisi topik termasuk: sifat asal dan karakteristik coronavirus, tindakan, pencegahan, perawatan, dll.

2. Apakah klaim ini terbukti salah atau menyesatkan? 
Kicauan kalian termasuk di dalam kategori ini jika informasi yang kalian berikan telah sibilai sebagai sesuatu yang salah oleh para pakar, seperti otoritas kesehatan masyarakat. Juga, jika informasi yang kalian berikan dibagikan membuat bingung publik.

3. Akankah informasi yang telah diberikan ini akan membuat pembacanya mendekat pada sesuatu yang berbahaya?
Twitter mengatakan dalam explore tab khusus Covid-19, bahwa “Kami tidak akan dapat mengambil semua tindakan penegakan pada setiap kicauan yang berisi informasi yang tidak lengkap terkait Covid-19. Fokus kami dalam kebijakan Covid-19 adalah untuk mrmpersemput klaim-klaim yang dapat berdampak buruk bagi individu, kelompok, atau komunitas.” Jadi, bisa dibilang Twitter tidak bertanggung jawab atas informasi yang menyesatkan yang dapat meningkatkan pembahasan oleh publik.

Semoga langkah berani yang Twitter tempuh ini bisa diadopsi oleh medsos lain. Biar bagaimana pun, misinformasi sangat berbahaya untuk publik, terlebih saat pandemi seperti sekarang.

Sumber

Related Posts