@deelestari: “Sah-Sah Saja Jika Galau di Twitter”

Menjadi penulis sebuah buku merupakan salah satu cita-cita yang hingga kini masih banyak diinginkan oleh generasi muda. Namun tidak hanya bisa menulis, para generasi muda yang ingin menulis sebuah buku juga harus memiliki minat dan imajinasi yang kuat.

Sosok Dee Lestari merupakan salah satu penulis buku yang kemampuannya tidak perlu diragukan. Penulis dengan nama lengkap Dewi Lestari Simangunsong ini sebelumnya sempat dikenal sebagai anggota dari trio vokal Rida Sita Dewi (RSD) di tahun 90-an.

Dee pun lebih dikenal sebagai novelis setelah menerbitkan novel Supernova yang populer pada 2001 silam. Hingga kini, wanita kelahiran 1967 tersebut telah menelurkan 7 novel (6 seri Supernova dan 1 novel berjudul Perahu Kertas), satu kumpulan prosa dan puisi bertajuk Filosofi Kopi, dan kumpulan cerita Rectoverso dan Madre. Bahkan beberapa bukunya telah diangkat ke layar lebar.

Beberapa waktu lalu, kami berhasil mewawancarai Dee di sela-sela kesibukannya. Wanita lulusan FISIP Universitas Parahyangan itu mengaku sangat menyukai menulis sejak kecil. Namun pada 15 tahun silam ia baru bisa menerbitkan buku pertamanya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

“Memang sejak kecil saya menyukai fiksi. Mungkin pengaruh bacaan dan tontonan yang kebanyakan adalah novel dan serial, jadi saya suka menulis novel,” ujarnya.

Dee juga mengaku mendapat inspirasi untuk menulis dari kehidupannya sendiri. “Inspirasi saya adalah kehidupan itu sendiri. Jika kita jeli, segala sesuatu yang kita amati bisa menjadi bahan untuk menulis.”

Kakak kandung dari vokalis grup band Mocca, Arina Ephipania, ini juga mengaku tidak memiliki tempat khusus yang dikunjungi saat menulis. Bagi Dee, tempat idealnya untuk menulis adalah yang penting tempatnya cukup hening dan dirinya tidak diganggu/diinterupsi.

Dee juga mengomentari manfaat media sosial (medsos) seperti Twitter, Facebook, dan Instagram bagi seorang penulis. Ia mengatakan bahwa medsos-medsos tersebut bisa digunakan, tergantung pada prioritas dan arah yang ingin dituju bagi si penulis.

“Ada penulis yang tidak ingin mempromosikan karyanya karena baginya setelah ia berkarya, maka sudah selesai dan sisanya adalah tugas penerbit. Bagi tipe penulis seperti itu, media sosial barangkali tidak krusial,” ujar Dee.

“Namun ada juga penulis yang memang berkesadaran dan berkeinginan untuk mempromosikan karyanya maupun memelihara personanya di ranah publik. Bagi penulis tipe ini, maka sosmed sangat penting. Menurut saya tidak ada yang salah dan benar. Masing-masing punya konsekuensi,” lanjutnya.

Ia pun mengatakan bahwa tren saat ini biasanya penerbit mengharapkan penulis memiliki porsi tanggung jawab untuk membantu mempromosikan karyanya dan dari sanalah medsos bisa dimanfaatkan.

Seperti kita ketahui, medsos seperti Twitter biasanya digunakan oleh para remaja untuk “bergalau” ataupun mengutarakan isi hatinya. Melihat hal tersebut, Dee mengatakan bahwa lebih baik disalurkan ke kegiatan yang lebih positif.

“Saya nggak pernah mempermasalahkan orang mau galau seperti apa, semua sah-sah saja. Kalau disalurkan untuk berkarya, tentu lebih baik,” ujarnya.

Terakhir, Dee menyampaikan pesan untuk para remaja yang ingin menjadi penulis seperti dirinya.

“Banyak berlatih, karena menulis adalah “otot” dan kebiasaan yang harus dilatih. Banyak membaca, karena membaca bisa membuka wawasan, variasi, dan petunjuk untuk menulis yang baik.” – Dee Lestari

Related Posts