Dua sisi Media Sosial dalam Film Ralph Break the Internet

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya tinggal di dalam dunia maya?

Dunia maya adalah sebutan yang kerap dilekatkan dengan internet. Imajinasi tentang hidup di dunia internet itulah yang coba dihidupkan digambarkan pada film Ralph Breaks The Internet melalui cerita petualangan seru sepasang sahabat, yaitu Ralph dan Vanellope.

PERINGATAN!!!!

Jangan baca sinopsis di bawah, jika tidak menyukai spoiler atau beberan sebagian atau seluruh jalan cerita yang membuat film tidak mempunyai efek kejut.

Ralph dan Vanellope merupakan karakter game arcade di tempat yang bernama Family Fun Center & Arcade. Ralph berasal dari game arcade Fix-It-Felix Jr., sedangkan Vanellope adalah tokoh dari game Sugar Rush . Meski berasal dari 2 game yang berbeda, mereka telah bersahabat dan selalu menghabiskan waktu bersama selama kurang lebih 6 tahun.

Petualang mereka bermula ketika Ralph membuat lintasan baru secara ilegal agar Vanellope bisa memiliki variasi lintasan balap. Alih-alih membuat game semakin seru, Vanellope menjadi susah diatur dan mengemudikan mobil tidak sesuai dengan arahan pemain game arcade.

Akibatnya pemain game tidak sengaja merusak gagang kemudi gim Sugar Rush karena terlalu memaksa ingin mengarahkan kemudi Vanellope. Sayangnya gagang kemudi game tersebut sudah tidak produksi, sehingga harus mencari barang bekas pakai yang hanya dijual di situs belanja amazon.

Mr. Stan Litwak (pemilik tempat arcade) merasa keberatan membeli suku cadang baru karena dianggap dijual terlalu mahal, yaitu US$200,00. Mr Litwak pun berencana untuk tidak mengfungsikan Sugar Rush selamanya. Padahal jika hal tersebut terjadi maka para karakter yang di dalamnya akan kehilangan rumah, pekerjaan, dan menjadi karakter gelandangan.

Merasa bertanggung jawab, Ralph mengajak Vanellope untuk menjelajahi internet dan mencari uang di dunia maya, hingga mereka mampu mendapatkan gagang kemudi baru untuk permainan Sugar Rush. Petualangan untuk mendapatkan gagang kemudi tersebutlah yang menjadi alur cerita utama pada film ini.

Film besutan sutradara Rich Moore dan Phil Johnston ini secara umum dapat menghibur penonton dari berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa. Penonton anak-anak akan terhibur karena tokoh karakter utama dibuat gempal, lucu, dan penuh warna. Sedangkan untuk penonton dewasa akan terhibur dengan suguhan animasi memukau khas Disney.

Dunia internet yang selama ini dikenal sebagai dunia datar hasil kombinasi angka 0 dan 1, benar-benar dihidupkan dengan baik. Salah satu contohnya adalah twitter yang digambarkan sebagai sebuah pohon besar tempat bersarang banyak burung biru yang kerap mengeluarkan kicauan hasil tulisan pada manusia di dunia nyata. Selain itu, situs wikipedia juga digambarkan megah dengan pilar putih besar dengan patung berbentuk buku pada bagian atas pilar

Secara khusus untuk penonton yang telah aktif menggunakan surel dan media sosial (13 tahun ke atas), film turut menampilkan realitas di internet. Setidaknya ada 2 realitas yang menonjol dalam film ini, yaitu cara menjadi viral dan sisi kelam dunia internet.

Cara Menjadi Viral

Sumber: behindthethrills.com

Ralph dan Vanellope mencari cara untuk tenar dalam internet agar mendapat banyak uang. Secara umum ada 2 cara yang mereka tempuh. Pertama, dengan menjadi joki untuk mendapatkan rare item atau benda yang sulit ditemukan. Item tersebut akan diberikan bagi pemain yang  mau membayar maha. Hal tersebut merupakan realitas yang terjadi pada game online.

Para pemain game pasti paham betapa berharganya item  yang sulit ditemukan tersebut, meski hanya berupa barang virtual. Seperti yang dilansir dari situs kincir.com, penjualan item termahal berupa pulau virtual yang dibandrol denga harga US$6.000.000,00. Selain itu, item game juga bisa didapat melalui sistem lelang. Seperti, sebuah pedang yang sempat terjual pada harga US$16.000,00 karena pedang tersebut cuma ada 1 buah di dalam permainan tersebut.

Cara kedua untuk mendapatkan uang adalah dengan membuat viral video yang diunggah di situs video buzztube. Setiap like yang diberikan pada video akan berubah menjadi uang. Oleh sebab itu, Ralph, Vanellope, dan karakter lain yang bernasa Yesss, mencoba berbagai cara membuat video yang mampu menarik banyak like. Video pertama dengan mengunggah video yang menampilkan perilaku bodoh, seperti mengganti muka kambing dengan muka Ralph. Video tersebut pun menjadi terkenal.

Hal tersebut sesuai dengan realitas viral di media sosial bahwa konten yang viral umumnya konten yang tidak berbobot dan bodoh. Di Indonesia pun banyak video viral namun memiliki isi yang tidak berbobot, seperti video makan mangga mentah, pamer barang mewah, dsb. Namun, ada aturan paten tentang viral, yaitu cepat menyebar dan terkenal, namun cepat pula dilupakan. Oleh sebab itu, seperti yang dilakukan Ralph, produksi konten harus terus-menerus.

Pada film tersebut juga digambarkan contoh-contoh video viral memiliki trend yang terus berganti. Seperti ada masanya di mana banyak orang membuat konten memakan makanan pedas, membuat tutorial make up, video mengomentari sesuatu hal, unboxing, dll. Namun, video yang selalu berhasil mendapat banyak like adalah video yang menunjukkan penderitaan manusia secara tidak sengaja. Hal tersebut menjadi pengantar alur cerita film jadi menunjukkan sisi kelam media sosial.

Realitas Tentang Komentar Negatif

The first rule of the internet, don’t read the comments” – Yesss

Sumber: i.kym-cdn.com

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang diucapkan oleh Yesss, ketika Ralph sedih dan terpukul melihat video viralnya mendapat banyak komentar buruk yang menyakitkan hati. Salah satu sisi gelap yang ditampilkan dalam film ini adalah realitas yang menunjukkan bahwa  warganet di negara mana pun ada yang kejam dalam memberikan komentar. Lebih jauh bahkan tindakan tersebut merupakan suatu bentuk perundungan atau yang dikenal dengan sebutan cyberbulliying.

Perundungan di media sosial tidak hanya membuat sedih, pada faktanya komentar buruk dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan dapat menimbulkan keinginan untuk bunuh diri. Dilansir di klikdokter.com, hingga 2015 tercatat kasus bunuh diri di Ameria Serikat meningkat. Pada beberapa kasus bahkan aksi tersebut turut disiarkan secara langsung di media sosial pula. Di Indonesia hal tersebut pun pernah terjadi, seperti pada kasus Pahinggar Indrawan (Indra) yang menyiarkan secara langsung proses ia gantung diri.

Hal tersebut dapat dikatakan telah menjadi ‘wabah’ yang perlu ditangani secara khusus, agar angka bunuh diri (terutama pada remaja) tidak meningkat. Seorang psikolog bernama Maria Plata melalui tulisannya di psychologytoday.com memaparkan bahwa pada media sosial, ketidaksopanan (rudeness). Terlebih jika pengguna menggunakan akun anonim atau tidak menggunakan data dan nama asli, rudeness yang dilakukan dapat mencapai tingkat yang parah.

Internet yang kerap disebut dengan dunia maya memang tempat yang menakjubkan. Tanpa perlu bergerak jauh, memalui internet seluruh dunia memungkinkan untuk dijelajahi. Meski demikian, layaknya uang logam, internet juga memiliki dua sisi, yaitu sisi yang positif dan mampu mendatangkan keuntungan jika digunakan dengan benar, juga ada sisi negatif yang dapat menyebabkan orang menjadi lebih tidak sopan dan jahat. Pada akhirnya semua kembali kepada pengguna, apakah akan digunakan untuk hal positif atau negatif.

Related Posts