@Dwitagama: Para Guru “Takut” Membentuk Karakter Pelajar

Guru, siapa yang tidak tahu profesi dengan julukan Pahlawan Tanpa tanda Jasa ini? Guru yang berasal dari bahasa Sansakerta memiliki arti Berat adalah sosok seorang pengajar. Dari kita semua masih kecil, kita sudah merasakan dididik, diajarkan, dibimbing, diarahkan, bahkan dievaluasi oleh para guru.

Beberapa waktu lalu, kami berhasil mewawancarai salah satu guru yang eksis di medsos, yaitu Dedi Dwitagama. Guru yang dijuluki “Guru Era Baru” ini juga salah satu guru yang memiliki banyak prestasi, diantaranya Juara 1 Guru Berprestasi tingkat Provinsi DKI Jakarta (2004), Juara 1 Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Jakarta Pusat (2008), Juara 3 Kepala Sekolah Berprestasi tingkat DKI Jakarta (2008), Nominator Blog Pendidikan Terbaik Indonesia (2011), dan lain-lain.

Dedi Dwitagama juga aktif sebagai trainer dan motivator bidang pendidikan, remaja, parenting, pencegahan penyalahgunaan narkoba, dan HIV/AIDS. Pada tahun 1996 juga ia mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia untuk mengikuti Training on Drug Abuse Prevention Activities di Jepang.

“Kira-kira satu bulan lamanya, setelah itu saya sering berkegiatan dengan beberapa organisasi yang bergerak dalam bidang pencegahan penyalahgunaan narkoba dan HIV/AIDS. Mereka tahu bahwa saya telah mengikuti training di Jepang sehingga sering diminta menjadi pembicara di berbagai seminar, training, diskusi, dsb,” ujarnya.

Beliau juga bercerita bahwa salah satu masalah utama yang mengakibatkan seseorang menyalahgunakan narkoba hingga menderita HIV/AIDS adalah kehilangan motivasi, arah atau tujuan hidup. Lalu ia juga menyatakan fokus dalam memberi motivasi sesuai ruang lingkup dan masalah yang mereka hadapi.

Sebagai guru sekaligus motivator, Dedi juga mengamati berbagai tingkah anak didiknya di segala media sosial (medsos) seperti Twitter dan Facebook. Menurutnya hal tersebut bagus untuk menambah relasi para pelajar di dunia maya.

“Remaja Indonesia menggunakan medsos lebih karena mengikuti trend yang ada di sekitarnya dan menunjukkan eksistensi dirinya. Sebagian dari mereka juga menggunakan medsos untuk menambah relasi dan memulai bisnis atau usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujarnya.

Beliau juga bercerita bahwa tidak jarang dirinya dibully di medsos, terlebih jika ucapannya secara tidak sadar menyinggung kelompok tertentu. Namun jika ada hal seperti itu, Dedi tidak segan untuk meminta maaf.

Bullying terjadi ketika tweet saya menyinggung, menjatuhkan, dan seolah-olah merusak nama baik atau menurunkan kredibilitas kelompok. Jika hal itu terjadi, saya tidak segan meminta maaf dan menghapus tweet tersebut.”

Saat disinggung dunia pendidikan Indonesia sekarang ini, Dedi juga memberikan pandangannya. Menurutnya Pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan UUD 1945, terlebih soal alokasi dana. Namun ia juga mengatakan ada beberapa alokasi dana yang kurang tepat sasaran.

“Di Indonesia, berbagai upaya pendidikan dilakukan seragam, padahal kondisi sekolah di negeri ini sangat beragam dengan kebutuhan yang tidak sama, serta tantangan yang berbeda. Masih perlu dicari formula yang tepat agar pendidikan di suatu daerah dapat menjawab kebutuhan dan tantangan yang berbeda di daerah tersebut sehingga mampu berkontribusi untuk kemajuan negara,” kata Dedi.

Terkait pembentukan karakter murid, beliau mengatakan bahwa hal tersebut harus menjadi perhatian sekolah, termasuk guru itu sendiri. Namun sayangnya guru belum memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk menghukum murid dengan karakter murid yang belum baik.

“Ditambah dengan berita-berita guru yang dilaporkan ke polisi karena memberikan hukuman dalam upaya membentuk karakter murid menjadi lebih baik. Bahkan yang terlihat, guru seperti takut melakukan tindakan dalam rangka membentuk karakter murid,” tegasnya.

Ia juga mengatakan bahwa seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para guru yang berprestasi. “Pemerintah harus memberi apresiasi kepada guru-guru yang telah terbukti melakukan usaha yang tak biasa dalam membentu karakter murid menjadi lebih baik. Hal itu agar banyak guru yang terdorong untuk melakukan inovasi dalam proses belajar.”

Related Posts