@FajarNugros: “Buzzer Itu Gulungan Pertama Bola Salju”

Penulis sekaligus sutradara film, itulah sosok Fajar Nugros. Bernama asli Fajar Nugroho, pria Yogya ini pertama kali menyutradarai film Jakjoglik tahun 2003. Film terakhirnya “Jakarta Undercover” diangkat dari buku Moammar Emka yang sempat kontroversial itu. Siapa sangka Mas Fajar, pria yang cepat sekali merespon email ini ternyata terobsesi untuk membuat film tentang kereta api dan Soekarno? Yuk ikuti obrolannya dengan Politwika belum lama ini.

P: Sedang sibuk apa mas? Sedang garap film lagi setelah Jakarta Undercover?

FN: Saya sedang persiapan produksi untuk sebuah film baru, syuting awal pertengahan September.

P: Di media sosial mana saja mas aktif, selain Twitter?

FN: Saya memiliki akun Twitter, Instagram dan Facebook. Facebook yang paling lama, sempat ngga aktif, tapi kemudian aktif lagi karena saya menemukan forum komunitas yang sama dengan hobi saya.

P: Menurut mas, apakah media sosial punya peran dalam menumbuhkan minat publik pada film Indonesia?

FN: Ya tentu, saya ingat pertamakali saya mempromosikan film di sosial media itu saat pertamakalinya saya mengenal Twitter, saat itu tahun 2010, dan saya mulai mempromosikan film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo.

P: Sejak era media sosial, kini promosi film banyak dilakukan buzzer dan medsos juga. Menurut mas Fajar, apa pujian para buzzer itu sangat signifikan dalam mendorong publik untuk menonton film yang dipromosikan?

FN: Kawan-kawan buzzer di sosial media penting untuk memberitahu pada publik bahwa sebuah film sedang diproduksi, atau akan tayang atau sedang tayang, biaya promosi itu besar sekali, dan film Indonesia jarang memiliki biaya promo yang besar. Tapi kembali lagi, segala promo hanya memperkenalkan, memberi tahu dan woro-woro, semua akan kembali ke produknya sendiri, karena selanjutnya mesin word of mouth yang bergerak.. Kawan-kawan buzzer berfungsi sebagai gulungan pertama bola salju. Bola itu membesar atau mengecil, kembali ke kualitas filmnya. Kalo kata mas Yoris, marketing sebagus apapun, tidak bisa digunakan untuk menjual taik kan?

P: Kadang pujian atau kritikan buzzer atau endorser di media sosial sering tidak obyektif. Bagaimana menurut mas Fajar tentang ini?

FN: Ya tentu, karena semua kecap kan no.1. Ini bisa jadi bumerang bagi kawan-kawan buzzer di mata publik atau followersnya. Jadi sebaiknya, memang, kawan-kawan buzzer melihat dulu materinya, dan ketika memutuskan untuk ikut mempromosikan film itu, sesuai dengan produknya. Setiap film pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana strategi kita menyampaikannya, menjadi kekuatan promosi.

Kita bisa saja kok tetap mempromosikan dengan wajar, jaman dahulu kala Nabi berdagang, beliau juga mempromosikan produknya tetap dengan jujur, apa kekurangannya di sampaikan, jadi konsumen merasa dihargai dan tidak tertipu mentah-mentah.

P: Sering pula banyak netizen yang mencemooh suatu film di media sosial. Menurut mas apakah kritik/cemoohan di medsos ini bentuk hinaan belaka atau justru bisa menjadi masukan yang bagus bagi para kreator film kita?

FN: Setiap sutradara, pasti sudah tahu apa kekurangan dan kelemahan filmnya. Mereka menontonnya berkali-kali selama proses pembuatan. Saya yakin, tak satu pun sutradara, ingin membuat film yang buruk. Apa yang kemudian tersaji di masyarakat, tentu sudah melewati banyak pertimbangan, antara sutradara dan produser. Dengan memahami ini, saya berharap penonton pun bisa lebih menghargai sebuah karya. Saya yakin, semua kritik tujuannya positif. Saya membaca semua kritik positif dan negatif untuk film saya, dan film-film karya sutradara lain, buat saya, itu suara jujur penonton.

P: Ada yang beranggapan bahwa film dengan penonton terbanyak itu yang bisa dikatakan sukses. Sedangkan ada anggapan bahwa jumlah penonton tidak berkorelasi dengan kualitas film. Mas Fajar sendiri berpendapat seperti apa tentang bagus tidaknya suatu film?

FN: Setiap film, dibuat dengan niat. Film ini ditujukan untuk siapa. Untuk penonton yang mana. Tentu setiap pembuat film hanya berharap; penonton yg suka lebih banyak dari yang tidak. Dan sutradara akan berbicara apa pada mereka. Kamu tidak mungkin ngomongin sepakbola di stadion tennis kan? Omonganmu tentang sepakbola mungkin bagus, tapi penggemar tennis akan mengatakan kamu omong kosong. Jadi bisa saja, film yang penontonnya sedikit, mengalami masalah salah penonton ketika diperkenalkan pada publik. Misal, film tentang remaja, dirilis pada saat ujian sekolah, atau film tentang isu tertentu yang spesifik yang penontonnya ada di ruang-ruang privat, tapi kemudian di rilis ke publik luas, tentu saja tidak mendapat respon, dan kita menganggapnya film itu tak laku.

Buat saya, semua film pasti bagus, pembuatnya tentu mengeluarkan kemampuan dan keterampilan terbaiknya. Yang mengatakan sukses karena banyak penontonnya itu hitungan produser, buat sutradara seperti saya, film itu jadi, bisa seperti visi yang kita rencanakan, dan bisa sampai ke penonton sudah merupakan kesuksesan. Dan sutradara dan produser yang bagus adalah, yang tahu sekali mereka berbicara pada siapa, membuat film untuk siapa.

P: Siapa sutradara dan aktor idola mas Fajar?

FN: Saya mengidolakan Teguh Karya dan Hanung Bramantyo. Dan setiap aktor yang bekerjasama dengan saya, pasti saya mengidolakannya.

P: Film seperti apakah yang ingin sekali mas Fajar buat tapi belum kesampaian sampai saat ini?

FN: Saya ingin membuat film tentang kereta api malam, kereta api yang mengangkut Presiden Soekarno dan Wapres Hatta saat melarikan diri dari Jakarta ke Jogja pada malam Agresi Militer Belanda.

P: Hobi mas di waktu senggang apa mas? Hehehe

FN: Di kala senggang saya manajer sepakbola, saya menangani Manchester United dalam game Football Manager. Hehe..

Related Posts