Foto Semi Telanjang Jadi Prioritas Utama Instagram?

Sejak kemunculannya pada 2010 silam, Instagram langsung menjadi salah satu media sosial (medsos) yang diperhitungkan. Keberadaannya yang lebih simpel ketimbang medsos lain, membuat Facebook dan Twitter saat itu punya saingan baru.

Singkat kata, Facebook benar-benar tahu kalau Instagram berpeluang mengalahkan mereka dan menjadi medsos terfavorit di mata netizen. Akhirnya, daripada melihat Instagram menjadi besar, pada 2012 Facebook membeli platform buatan Kevin Systrom tersebut dengan banderol US$1 miliar.

Kini kita tahu bahwa Instagram menjadi salah satu medsos tempat anak-anak muda menghabiskan waktu. Terlebih saat Instagram menghadirkan fitur-fitur seperti Stories dan IGTV.

Namun, nama Instagram juga tidak sepenuhnya baik.  Lembaga donasi anti-bullying, Ditch The Label, pernah merisil sebuah laporan bahwa platform ini disebut-sebut menjadi alasan banyaknya anak muda yang mengalami cyber-bullying.

Dan kini, laporan dari penelitian yang dilakukan AlgorithmWatch dan The European Data Journalism Network menyebut bahwa algoritma Instagram cenderung memprioritaskan foto berpakaian minim, baik pria maupun wanita.

Dari sebanyak 2.400 foto yang menjadi bahan penelitian, sebanyak 362 foto (sekitar 21%) menunjukkan pria bertelanjang dada atau wanita dengan bikini atau pakaian dalam.

Para peneliti berpendapat, jika algoritma Instagram tidak memprioritaskan foto-foto semi telanjang itu, para pengguna dipastikan akan melihat keragaman posting yang serupa. Tetapi itu tidak terjadi. Dalam news feed peserta penelitian, konten dengan gambar semi-telanjang mendominasi 30% dari yang ditampilkan di akun mereka.

Masih dari laporan yang sama, disebutkan bahwa foto wanita dengan pakaian minim kemungkinan muncul di news feed sebesar 54%. Sementara posting pria bertelanjang dada 28% lebih mungkin di news feed. Lalu, bagaimana dengan postingan makanan atau pemandangan? Postingan-postingan tersebut punya kemungkinan 60% lebih kecil untuk muncul di news feed. Miris, ya?

Adanya laporan ini membuat pemilik Instagram, yakni Facebook, membantah. Dalam pernyataannya, Facebook mengatakan bahwa penelitian ini cacat dalam beberapa cara dan menunjukkan kesalahpahaman tentang cara kerja Instagram.

Ya, seperti itulah alogaritma Instagram bekerja. Menyedihkan memang mengetahui bahwa yang lebih sering ditampilkan di feeds adalah postingan berbau 18+. Jadi, masihkah Instagram menjadi platform medsos favoritmu?

Sumber

Related Posts