@GUSTIKA: IBARATNYA KECOAK. GAK TAU GUNANYA APA, TAPI SEKEDAR LEWAT

Berawal dari twit di atas, @Gustika menjadi viral. Pengikut (follower) di akun Twitternya yang semua hanya berjumlah ratusan orang melonjak naik. Hingga artikel ini dibuat terhitung ada 46.700 pengikut. Jika dihitung dari cuitan tersebut, pertambahan tersebut termasuk fantastis karena dalam waktu kurang dari 6 bulan bertambah berpuluh kali lipat.

Gustika Fardani Jusuf atau yang dikenal sebagai Gustika Jusuf Hatta adalah cucu dari salah satu pendiri bangsa Indonesia, yaitu Drs. Moh. Hatta. Perempuan yang baru saja lulus dari King’s College London ini kini tengah magang di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Beruntung di tengah padat aktivitasnya Gustika menyempatkan diri untuk bertemu dan ngobrol dengan tim Politwika tentang serba-serbi media sosial.

Media sosial tentu bukan hal yang asing bagi Gustika yang hidup pada generasi yang fasih menggunakan gawai. Baginya setiap media sosial memiliki kegunaan masing-masing, lebih lengkap ia menuturkan demikian.

“Kalau Facebook aku tuh benci kalau ada yang nge-tag nge-tag gitu karena itu dari dulu buat keluarga, buat temen-temen, buat orang yang aku kenal. Facebook kan sebetulnya ada limit-nya kan ya, dan itukan mutual friends, temen. Dan aku kan kalau orang yang aku gak kenalkan bukan temen aku, kan bukan friends.” Jelas Gustika

“Instagram. Awalnya, sih cuma buat temen-temen, kayak misalnya update lagi di mana. Mungkin, orang mikirnya itu receh, misalnya ini kan lagi di (kedai) Tjikini, (terus) nge-post lagi di Cikini. Tapi, siapa tau ada yang lagi di daerah sini gitukan.” Imbuhnya.

Ia menekankan bahwa media sosial memiliki fungsi untuk memperlancar kehidupan sosial, untuk mempermudah. Oleh sebab itu ia memisahkan mana yang dapat dibuka untuk umum mana yang tidak. Kalau Twitter, Gustika menegaskan bahwa itu adalah platform untuk ngedumel.

Jika mengikuti akun Twitter @Gustika, pasti sering melihat Gustika membuat utas yang mengomentari isu-isu yang sedang hangat dibahas. Lebih lanjut, meskipun pengikut Gustika bertambah di berbagai media sosial, ia memutuskan tidak ingin mengubah apapun terkait konten media sosialnya. “ I did’t do any personal branding.” Tegas Gustika.

Hal menarik yang dapat dicermati dari media sosial adalah terkait unpopular opinion. Dikutip dari medium.com, Unpopular opinions are simply defined as ideas and beliefs that go against or completely contradict the conventional status quo. Artinya “gagasan dan keyakinan yang bertentangan atau sepenuhnya bertentangan dengan status quo yang konvensional”.

Secara tegas, Gustika juga mencantumkannya pada bio Twitter, tepatnya “Full of unpopular opinions”. Ketika ditanya mengapa Gustika mencantumkannya, ia memaparkan bahwa perlu menegaskan bahwa pandangan-pandangan yang ia tawarkan lewat cuitannya di Twitter adalah untuk memberikan sudut pandang lain dalam membicarakan suatu isu.

“Sebagai contohnya, tapi kalau mau ditulis harus kayak exact banget.” tegas Gustika.

“Jadi gini, aku pribadi sama sekali gak setuju dengan poligami, sama sekali. Tetapi kalau misalnya itu mau dilarang 100% sepenuhnya, menurut aku harus dipikirkan lebih lanjut. Karena kalau misalnya ada yang perempuan-perempuan yang sudah masuk ke dalam struktur tersebut masak mau tiba-tiba disuruh pisah karena hukum? Kan agak menyedihkan ya. Apalagi belum tentu mereka bisa survive.” paparnya.

“Jadi mungkin kalau misal aku bicara kayak gitu di antara feminis-feminis juga, mungkin bakalan ngamuk-ngamuk orang-orang. Tapi yang aku percaya, mestinya lebih ada regulasi dibanding pelarangan itu.” imbuhnya.

“Ya apakah aku ga tau, apakah UU yang pengen di-purpose sama salah satu parpol seperti apa, yang sebetulnya aku juga secara ide aku hargai banget dan aku juga setuju, tapi aku lebih mikir individualnya karena kembali lagi kalau mau dilarang 100% emang orang gak bisa nikah siri? Gitukan.” ujar Gustika.

Melalui contoh tersebut Gustika ingin menjelaskan bahwa isu sensitif memang menimbulkan pro-kontra dan popular opinion yang selama ini kerap ia ungkapkan, tujuannya  hanya ingin memberikan tawaran pandangan lain supaya suatu isu tidak dibahas secara saklek dari salah satu sudut pandang saja.

Pada bio Twitter dan Instagram, Gustika juga secara gamblang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang feminist. Meski sebuah paham yang lama, feminisme masih memiliki penolakkan dari masyarakat Indonesia. Seperti pada 17 Maret lalu, muncul gerakan Indonesia Tanpa Feminis yang melakukan pergerakan di media sosial dengan menggunakan #UninstallFeminist.

Pro-kontra terhadap feminisme tidak membuat Gustika ragu, meski ia mengakui pernah diserang di media sosial karena hal tersebut.

“Ada sih, satu dua orang. Mereka orang yang langsung men-judge seperti itu, (karena) mungkin gak tau feminisme apa. Feminisme itu banyak alirannya, bahkan feminisme Islam juga ada, kalau mau dicari. Terus ada feminisme radikal, ada yang anaskis, ada yang klasik, pokoknya tinggal dicari aja sih kalau gak malas baca. Ada intersexionality juga.” Jelas Gustika.

Namun, Gustika tidak ambil pusing, ia menjelaskan demikian.

“Kalau cuma komentar doang, gak mendasar, cuma men-judge … Udah jelas lu gak tau feminis apa, jadi ya ngapain, mungkin ya terlalu goblok aja gitu untuk memahami feminisme itu apa. Kan itu sebenernya kesetaran dalam soal hak kan.” papar Gustika

“Kembali lagi kalau misalnya di rumah mau lebih tinggi lebih rendah posisinya, siapa yang kayak… sepasang suami-istri mau membuat keputusan, yang laki-laki bilang keputusan saya, atau misalnya perempuannya ini keputusan saya, itu terserah mereka, kan ranah pribadi.” imbuhnya.

“Nah, kala di publik menurut aku haknya harus sama. Gitu aja. Sebenernya feminis itu opsi kan, jadi misalnya ingin kerja ya punya opsi untuk itu. Apakah memungkinkan untuk kerja ya terserah, mau atau enggak, terserah. Itukan intinya.” papar Gustika.

Lebih lanjut, Gustika tidak ambil pusing juga dengan segala citra yang ditangkap oleh para netizen dengan segala unggahan dan bio-nya di media sosial. Bagi Gustika, apapun yang ia lakukan bukan untuk kepentingan dan kesenangan orang lain.

“Jadi menurut aku sih yang penting lebih obyektif pengen jadi orang seperti apa dan enjoy the journey untuk kita sendiri dibanding mikirin orang lain suka apa enggak sama kita. Apalagi kita kan gak kenal. Walaupun mereka bikin image sempurna di kepala mereka, akukan juga manusia, I’m bound to make a mistake, I’m human jadi jangan berekspektasi tinggilah sama aku.” Tutur Gustika.

Meski membebaskan pandangan orang akan dirinya, Gustika tetap tidak ingin jika dianggap sebagai influencer.

Influencer what imply I got money from the internet. I don’t get money from the internet. Misalnya kalau aku kan beberapa kali datang ke acara media gitu, ditulisnya influencer. No! I have my own potential.” ujar Gustika. Oleh sebab itu ia merasa tersinggung jika ada yang secara sepihak melabeli ia influencer, seperti yang pernah dilakukan oleh salah satu media.

Masuk topik fungsi utama media sosial, bagi Gustika media sosial bermanfaat untuk meluruskan beberapa hal, seperti yang ia tuturkan berikut. “Pernah satu kali Pakde aku, suaminya kakaknya ibu, diberitain meninggal. Itukan bisa meluruskan. Atau as simple as waktu SMA yang aku ketawa-ketawa (tentang cuitan) “I’ve just had sex”, it’s a freaking song. Walaupun orang gak mau dengerin, bukan urusan aku sih.” seloroh Gustika.

Namun, ada beberapa hal yang bisa dibilang mengusik (namun tidak sampai mengganggu keseharian Gustika), yaitu pengikut yang sering membalas cuitan Gustika dengan komentar tidak masuk akal dan ngotot. Ia pun memutuskan untuk mem-block orang-orang seperti itu.

“Kalau secara pribadi sih enggak (terlalu mengganggu). Menurut aku kalau terganggu tuh karena udah emang kepikiran banget bikin down, bikin sedih itu terganggu tapi kalau misal ngeliat ah ini tolol, block, biar gak usah ngeliat lagi gitu.” pungkas Gustika.

“Maksudnya apa ya, ibaratnya kecoak ya, kecoakan sebenernya kan cuma lewat gak ganggu kita ya, tapi jijik gitu. Keplak kek, Baygon kek, terus ya udah disingkirkan dari (tempat) ruang gerak kita. Ibaratnya kecoak sih. Gak tau gunanya apa, tapi sekadar lewat. Beda cicak masih ada gunanya buat makanin nyamuk.” seloroh Gustika.

Jenis pengikut lain yang juga turut mengusik Gustika adalah orang-orang yang fanatik, seperti para pendukung kandidat yang tengah bertarung dalam Pilpres 2019.

“Eneg banget sama orang-orang yang obsesi. Aku block. Walaupun jelas aku bakal milih siapa di pilpres 2019 ini, buzzer-buzzer dia aku block-blockin loh. Kayak kecoak gak ada faedah. Apalagi akun bodong.” papar Gustika.

“Pemilu inikan polarisasi cebong-kampret-golput. Hanya karena kita sudah memilih satu paslon bukan berarti kita harus obsesi sama orang itukan. Maksudnya (ibarat) ibu kita sayang sama kita kan, tapi dimarahin-dimarahin juga.” jelasnya lebih lanjut.

“Kita dibilangin juga kalau salah. Ya kita kayak gitu juga, namanya juga manusia kalau misalnya kita gak setuju sesuatu ya bilang aja, atau misal dia salah ya ingetin, kayak orang tua sama anak, atau anak sama orang tua kan juga bisa. Namanya rakyat sama pemimpin harus sama menurut aku. Apalagi dengan media-media sekarang, ya nyembah-nyembah orang tuh berlebihan.” imbuh Gustika.

Penyataan tersebut dan keputusannya untuk mem-block, Gustika akui sebagai sebuah paradoks dari pernyataan awalnya bahwa sebenarnya ia tidak terlalu terganggu dengan komentar orang-orang di media sosial. Namun, pada intinya ia hanya ingin menghindar dari netizen yang tidak punya budaya literasi yang baik, gemar menghakimi, dan ngotot.

Demikian hasil ngobrol seru tim Politwika dengan Gustika. Nah, pertanyaannya apakah kalian salah satu kecoak yang dimaksud @Gustika?***