Hate Speech Bikin Pusing, Perusahaan-Perusahaan Besar Boikot Facebook

Kamu tentunya tidak asing lagi dengan nama-nama brand berikut, seperti Coca-Cola, Microsoft, Starbucks, ataupun Unilever. Tidak hanya di Indonesia, brand mereka juga sudah sangat mendunia, kayaknya hampir semua orang di berbagai belahan dunia pasti pernah minum Coca-Cola, Starbucks, ataupun produk minuman dari Unilever. Lalu, apa kabar pelanggan Microsoft yang punya 214 juta lebih pelanggan berbayar di seluruh dunia? Terlebih lagi, apa kabarnya Facebook jika perusahaan-perusahaan dengan jumlah pelanggan yang begitu besar memutuskan untuk berhenti beriklan di media sosial?

Coco Cola promotions for 50 millions fans in facebook on Behance

Sumber Gambar: Behance

 

Pertama kali dalam sejarah, Facebook mengalami pemboikotan yang terorganisir oleh begitu banyak perusahaan besar, mereka menghentikan pengeluaran untuk beriklan melalui media sosial tersebut. Perusahaan-perusahaan itu juga mengampanyekan tagar #StopHateforProfit untuk menyuarakan tujuan mereka, yakni menekan Facebook –sebagai raksasa media sosial untuk mengubah cara dalam menangani hate speech dan informasi yang salah, termasuk kiriman dari Presiden Trump yang cenderung menghasut di media sosial.

Leading brands boycott Facebook and Instagram ads all at once ...

Sumber Gambar: Japan Top News

 

Tidak hanya Facebook, beberapa perusahaan sudah memutuskan untuk menarik iklan dari semua (atau sebagian besar) platform media sosial, seperti Twitter dan YouTube. Berikut beberapa daftar perusahaan yang akan menghentikan pengeluaran di media sosial, beserta ketentuan yang mereka terapkan dalam menghentikan iklan:

    1. Coca-Cola menjeda iklan di seluruh platform media sosial
    2. Microsoft menjeda pengeluaran iklan global di Facebook dan Instagram, karena kekhawatiran iklan yang kerap muncul di sebelah konten yang tidak pantas
    3. Starbucks menghentikan sementara iklan di seluruh platform media sosial, namun akan tetap membuat kiriman di media sosial tanpa promosi berbayar
    4. Unilever menghentikan iklannya di Facebook, Instagram, dan Twitter di Amerika Serikat hingga 31 Desember 2020
    5. Ford menghentikan iklan di media sosial AS selama 30 hari, serta tidak akan beriklan untuk pembukaan Bronco
    6. Honda menahan iklannya di Facebook dan Instagram selama bulan Juli demi menyatukan diri dalam melawan kebencian dan rasisme
    7. Hershey akan memangkas sepertiga pengeluarannya untuk media sosial hingga 2020 berakhir dan akan menghentikan pengeluaran di Facebook pada bulan Juli
    8. Pepsi melakukan penarikan iklan di Facebook dari bulan Juli hingga Agustus
    9. Adidas AG akan menghentikan iklan di Facebook dan Instagram secara internasional hingga bulan Juli
    10. Puma SE juga akan menghentikan iklan di Facebook dan Instagram hingga Juli berakhir.

“If Facebook doesn’t take visible, measurable and assertive efforts to effectively prevent the promotion of hate, division, defamation and misinformation by this year’s end 0— we will feel compelled to evaluate indefinitely suspending our investments in Facebook until they do so.” – Pendiri KIND Daniel Lubetzky

Pemboikotan iklan di Facebook mulai sejak koalisi organisasi hak-hak sipil, seperti Anti-Defamation League, The NAACP, Color of Change, and Sleeping Giants meluncurkan kampanye pada 17 Juni. Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam pemboikotan Facebook pun telah mengajukan beberapa permintaan yang harus dipenuhi, antara lain mengubah kebijakan untuk mencegah ujaran kebencian dan memperbarui algoritma, mempekerjakan tenaga ekstekutif tingkat tinggi dengan keahlian hak-hak sipil, melakukan audit pihak ketiga tentang ujaran kebencian dan informasi yang salah, mengajukan pengembalian uang pengiklan ketika iklan ditampilkan bersama konten yang bermasalah, serta memberikan pelatihan untuk moderator konten manusia.

Apakah pemboikotan ini akan sangat berdampak bagi Facebook?

Saham Facebook memang sempat turun delapan persen pada 26 Juni, akan tetapi perusahaan ini masih memiliki pengiklan yang sangat banyak dari kategori usaha kecil ataupun menengah. Fortune menganalisis, bahwa dibutuhkan ribuan dari 8 juta pengiklan Facebook untuk membuat raksasa media sosial ini “terkena dampak”.

Banyak yang memprediksi bahwa pemboikotan ini akan sangat berdampak bagi Facebook (secara finansial), sebab tahun 2019 Facebook mendapatkan hampir US$ 70 miliar dari pendapatan iklan. Namun, dalam kampanye #StopHateforProfit tidak semua perusahaan mengatakan akan menarik iklan dari jaringan audiens Facebook, yang memungkinkan brand untuk beriklan pada pihak ketiga menggunakan targeting data pada Facebook.

Bagaimana respons Facebook karena telah kena boikot?

Dilansir dari The Verge, Carolyn Everson selaku Wakil Pimpinan Solusi Pemasaran Global Facebook mengatakan, bahwa perusahaannya menghormati keputusan brand (pengiklan) dan tetap berfokus pada pekerjaan penting dalam menuntaskan perihal ujaran kebencian, serta memberikan informasi critical voting. Sementara itu, Facebook juga telah berbicara dengan tim pemasaran, dan organisasi hak sipil, tentang cara menuntaskan masalah, dan bersama-sama untuk menjadi kuat menuju kebaikan.

CEO Mark Zuckerberg mengatakan perusahaannya telah menempatkan batasan baru pada konten yang mengandung ujaran kebencian dalam iklan, secara eksplisit Facebook melarang iklan yang mendorong isu rasial (tetapi pembatasan tidak berlaku untuk posting yang tidak dibayar).

Related Posts