Informasi Pribadi di Twitter? Perlukah?

Saat kita mulai untuk membuat profil baru di media sosial, informasi pribadi seperti tempat/tanggal lahir, lokasi, bahkan alamat e-mail dan nomor handphone pasti diminta sebagai syarat. Namun bagaimana jika kita memajang informasi pribadi di akun medsos seperti Twitter?

Twitmu harimaumu, mungkin peribahasa tersebut pantas disematkan dengan peristiwa yang baru-baru ini terjadi. Mungkin masih jelas dalam ingatan kita bahwa beberapa waktu lalu, ada seorang pengguna twitter bernama Pandu Wijaya dengan akun @panduwijaya_ menghina salah satu kiyai yakni, KH. Ahmad Mustofa Bisri, atau yang biasa dipanggil Gus Mus.

Dalam cuitannya, Pandu menghina dengan langsung me-mention Gus Mus. Sontak postingannya tersebut membuat geram para netizen, terutama warga Nahdlatul Ulama (NU).

Tidak hanya sampai di situ, perkataan Pandu di dunia maya itu pun memberikan efek langsung di dunia nyata. Walaupun cuitan itu sudah dihapus setelah mendapat perhatian netizen dan meminta maaf kepada Gus Mus, itu semua tidaklah cukup.

Berbekal informasi tempat Pandu bekerja yang ia cantumkan di Twitter, Anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser) DKI Jakarta pun mendatangi PT Adi Karya, untuk mencarinya. PT Adi Karya pun tetap menindak tegas Pandu dengan memberikan Surat Peringatan III (SP III) atas apa yang ia lakukan di Twitter.

Kasus yang hampir tidak jauh beda dengan kasus di atas pun terjadi lagi. Baru-baru ini, Twitter dibuat heboh dengan akun milik Janes C. Simangunsong dengan username @janes_cs. Jurnalis Metro TV itu menutup akunnya setelah ada yang menyebarkan kicauan-kicauan lamanya yang memojokkan Front Pembela Islam (FPI).

Screenshot kicauan-kicauan Janes tujuh tahun lalu pun kembali beredar di linimasa. Kebanyakan yang beredar pun twit Janes dengan kata-kata kasar, tidak pantas, dan menyudutkan salah satu pihak.

Netizen yang geram dengan kicauannya itu pun langsung menyerang Janes dengan keras. Tempat ia bekerja, Metro TV pun menjadi sasaran kemarahan para pengguna Twitter.

Terlebih, belum lama ini stasiun televisi milik Surya Paloh itu pun dihujat di twitter dengan tagar #BoikotMetroTV karena pemberitaannya yang dianggap berbohong oleh sebagian besar netizen. Selain tempat ia bekerja, akun twitter suami Janes, Ivand Adilyan A. Sigiro (@sigiroivand) pun ikut terkena imbas amarah netizen.

Atas kasus yang menyerang dirinya, Janes pun terpaksa menutup akun Twitter serta medsos lainnya. Alasan Janes menutup seluruh akun medsosnya adalah untuk mengintrospeksi diri dan mencoba untuk hidup yang lebih baik.

Ya, ini adalah salah satu contoh bagaimana informasi yang kita cantumkan di akun medsos pribadi seperti tempat bekerja bisa sangat penting dan krusial. Walaupun hanya dicantumkan di dunia maya, tapi dapat dilacak dan memberikan efek yang luar biasa bagi kehidupan nyata kita.

Sebenarnya sah-sah saja jika ingin mencantumkan informasi pribadi di medsos, tapi semua hal tersebut juga memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan setiap individu.

Intinya, pergunakanlah medsos dengan baik dan jangan menggunakan medsos sebagai sarana menyerang, mengintimidasi, bahkan memojokkan orang lain karena bukan itu kegunaan medsos.

Related Posts