Ini Dia 4 Etika Selfie

selfie

Belum lama ini fenomena selfie jadi perdebatan di media sosial Twitter. Seorang tokoh agama yang rajin ngetwit membahas soal efek negatif selfie. Kontan akunnya diserang banyak user Twitter yang merasa disudutkan. Pro dan kontra pun bermunculan seputar fenomena selfie.

Swafoto, begitu padanan “selfie” dalam bahasa Indonesia, sudah jadi fenomena di seantero dunia. Sejak ponsel dan gadget dilengkapi kamera beresolusi tinggi dan fitur ciamik, nyaris semua orang bisa bebas memotret diri sendiri, lalu mengunggahnya ke media sosial. Definisi selfie sendiri adalah fotografi potret diri, biasa dilakukan dengan kamera digital atau kamera ponsel. Hasil selfie biasa disebarkan ke jejaring sosial online seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path.

Kalau dirunut dari definisi “memotret diri sendiri” sebenarnya sudah ada sejak abad ke-19. Selfie pertama dilakukan oleh Robert Cornelius, seorang fotografer asal Amerika yang sukses memotret diri sendiri pada tahun 1839. Sementara istilah “selfie” sendiri pertama kali dipakai oleh Jim Krause, fotografer yang mendiskusikan hobi memotret diri sendiri di kalangan pengguna MySpace tahun 2005.

Kebiasaan selfie kian semarak saat muncul aneka aplikasi selfie di ponsel, terutama yang didukung fitur “mempercantik hasil foto”. Jangan heran kalau melihat ada orang asik senyum dan berpose sendirian di depan kamera ponselnya. Itu sudah sangat biasa, bukan? Apalagi sambil nyengir-nyengir. Selebriti sampai politisi dunia sekelas Obama pun terkena demam selfie.

Pasalnya, tak semua orang paham bagaimana selfie yang baik dan benar.

Hobi selfie sering jadi bahan bully juga jika hasilnya kurang oke. Bahkan jadi obyek pelecehan atau hasil selfie-nya disalahgunakan. Kenarsisan tak terkendali, atau euforia terbawa demam selfie, bikin banyak orang lupa diri bahwa selfie pun ada batasannya. Apa saja itu?

  1. Perhatikan tempat

Betul, selfie memungkinkan kita berpose di mana dan kapan saja, selama membawa ponsel berkamera. Di tengah pasar ramai sekalipun, oke saja. Tapi perlu diingat, apakah cukup nyaman selfie di tengah huru-hara, atau tempat-tempat berbahaya seperti puncak gedung pencakar langit? Yakin hasil foto itu setara dengan risiko bahaya yang kita ambil?

  1. Peduli dengan orang sekitar

Mungkin maksudnya ingin mengabadikan momen penting, namun rasanya ganjil jika kita selfie di tengah acara duka seperti pemakaman. Atau saat membesuk orang sakit keras, kita cuek saja selfie sembari cengar-cengir. Bagaimana perasaan orang di sekitar? Perlu diingat juga bahwa kita harus punya rasa simpati dengan mereka, bukan?

  1. Peduli dengan audiens

Selfie memang simbol rasa percaya diri. Hanya mereka yang pede lah yang berani selfie setiap saat, lalu mengunggahnya ke media sosial. Tunggu dulu, apakah follower atau teman-teman media sosialmu cukup nyaman dengan hasil selfie itu? Kalau kelewat sering pamer selfie, kok rasanya memuakkan juga ya? Apalagi kalau hasilnya, maaf saja, kurang memuaskan. Alias kurang enak dipandang mata. Perhatikan perasaan mereka. Jangan selfie terlalu over, nanti justru kamu di-unfollow atau di-unfriend, atau malah diblok karena mereka muak.

  1. Perhatikan diri sendiri

Selfie di kamar mandi, dalam pose setengah telanjang atau pakai baju dalam saja? Mungkin maksud hati ingin terlihat seksi menggoda. Tapi jangan salahkan orang lain jika hasil selfie itu bocor ke tangan orang iseng, lalu menyebarkannya kemana-mana dengan embel-embel yang tidak menyenangkan. Sebelum selfie dengan pose-pose vulgar, pikir dulu apa akibatnya.

Sumber foto: www.digitalinformationworld.com