Internet Indonesia Lemot, New Normal Gatot?

Indonesia kini mulai disibukkan dengan persiapan kebijakan new normal atau era kenormalan baru. Sekadar informasi, kenormalan baru merupakan istilah untuk menyebut cara hidup baru di tengah pandemi Covid-19.

Namun, ada beberapa hambatan jika ingin Indonesia menerapkan kenormalan baru, salah satunya adalah jaringan dan kualitas internet yang masih terbilang buruk. Berdasarkan data CEOWORLD Magazine, kecepatan internet Indonesia ada di peringkat 92 dengan 6,65 Mbps.

Bisakah Indonesia menghadapi era kenormalan baru sangat bergantung pada jaringan internet, terlebih untuk masyarakat yang melakukan Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH)? Akankah era normal baru di Indonesia  gatot atau gagal total?

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membeberkan sebuah data, bahwa pengguna internet saat pandemi Covid-19 mengalami peningkatan sebesar 40%. Ini diperkirakan akan terus meningkat terlebih saat berjalannya kebijakan kenormalan baru.

Dari data yang sama juga diketahui bahwa akses internet yang biasa didominasi dari kawasan perkantoran, kini beralih ke kawasan pemukiman.

Kita sama-sama sudah menyadari bahwa kualitas jaringan internet di Indonesia adalah salah satu yang paling buruk di dunia. Kini, kita dihadapkan dengan masalah serius lain: masih banyak desa-desa yang belum ter-cover jaringan internet. Padahal, internet sangat diperlukan, tidak hanya buat WFH dan SFH, tapi juga untuk para pedagang yang terpaksa berjualan daring imbas dari Covid-19

Ini semua didukung oleh pernyataan Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budie Arie Setiadi. Beliau mengatakan bahwa ada sebanyak 13.000 desa yang sampai sekarang belum memiliki akses internet. Iya, 13 ribu desa.

Namun sepertinya Pemerintah merespons masalah-masalah ini secara cepat. Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi (BAKTI) Kominfo sedang menyiapkan 2.000 titik akses internet di lokasi baru sebagai solusi jangka pendek.

Saat ini BAKTI sedang mambuat daftar prioritas untuk 2.000 titik ini. Selain itu, mereka juga telah menyelesaikan peningkatan sebanyak 600 Base Transceiver Station (BTS) Universal Service Obligation (USO) 2G menjadi 4G. Total, saat ini sebanyak 1.000 BTS USO telah ditingkatkan ke 4G. BAKTI pun menargetkan menyelesaikan peningkatan 600 BTS USO hingga akhir Juni.

Dengan adanya permasalahan-permasalahan di atas serta jalan keluar yang telah dipilih pemerintah, apakah Indonesia bisa menghadapi era kenormalan baru? Atau akankah pemerintah gagal mempersiapkan kebijakan normal baru?

Related Posts