@IrmaSoulHealer: “Suka? Stay. Ngga suka? Unfollow!”

ilustrasi-tamu-kita-irma-rahayu (PoliTwika.Com) Siapa bilang wanita berhijab harus selalu jaga imej alias jaim dan penuh pencitraan? Irma Rahayu sukses menjadi dirinya sendiri tanpa harus repot dengan pencitraan. Melalui akun Twitter @irmasoulhealer, wanita cantik berhijab ini bebas berekspresi dengan kicauannya yang apa adanya.

Simak saja salah satu kicauannya, “Hmm pencitraan ngga cuma milik pejabat atau selebtwit. Pencitraan juga milik para lelaki sok sholeh dengan atribut kealimannya.”

Yang tidak tahan dengan celotehan si Teteh Irma –begitu dia akrab disapa- akan langsung bête, lalu unfollow. Teteh satu ini memang paling jago menyindir berbagai perilaku munafik orang, dan bisa sangat mengena. Begitu mengenanya, sampai-sampai rasanya seperti “dilempar bakiak” kalau sudah kena sindirannya.

Kenapa Teteh Irma ini kicauannya selalu “cablak” dan jauh dari kesan pencitraan?

“Gue merasa bukan selebtwit sih. Dari brojol baby sampe cakep kayak gini gue kurang bisa pencitraan, apalagi penjilatan. Gue ngga suka pembohong, jadi gue ngga pandai berbohong pada publik,” ujar pendiri Emotional Healing Indonesia (EHI) ini. “Lo suka stay, lo ngga demen…unfollow. Hidup udah susah, jangan ditambahin susah demi sebuah imej.”

Pasti banyak yang bertanya, apa itu “soulhealer” yang menjadi embel-embel akun @irmasoulhealer. Sesuai maknanya, soulhealer adalah pengobat emosi. Menurut Irma, segala jenis masalah hidup, termasuk penyakit mental dan fisik, dipicu oleh kondisi emosi seseorang. Mereka yang tak mampu membenahi emosinya, dan memanfaatkan secara positif, akan mengalami banyak gangguan, fisik maupun mental. Inilah yang menjadi tugas Teteh Irma sebagai seorang soulhealer, yaitu membantu orang-orang yang emosinya perlu dikelola dengan baik, agar gangguan-gangguan tadi bisa diminimalis.

Kemampuan Teteh Irma menjadi soulhealer membuatnya mendirikan EHI pada 2008. Untuk detilnya bisa diklik di web www.irmarahayu.com. Pasiennya hingga saat ini sudah mencapai ribuan, yang berasal dari berbagai kalangan.  Teteh Irma juga berbagi tips dan pengalaman hidup di empat buku yang ditulisnya, Emotional Healing Therapy, Love Therapy, Money Therapy, dan Soul Healing Therapy. Tenang, walau judulnya berbahasa Inggris, isinya tetap dalam bahasa Indonesia dalam gaya khas Teteh Irma yang “cablak”, sehingga mudah dipahami.

Akibat twitnya yang “cablak”, Teteh Irma sering diserang di Twitter, bahkan dikirimi gambar porno. “Kadang kalo gue ngetwit ada yang tersinggung tuh selebtwit yang bergelar motikampret eh motivator. Bahkan uztad seleb. Padahal twitnya ngga tertuju ke dia. Terus para beliau itu bikin kultwit tandingan. Seru kan?”

Selain di Twitter, Teteh Irma juga aktif di Facebook, melalui Fan Page. Bedanya, di Twitter dia lebih fokus pada pesan-pesan spontan, sedangkan di Facebook lebih banyak dijadikan ajang penyampaian informasi dan dokumentasi foto-foto kelas healing-nya. Dua media sosial ini diakui Irma sangat efektif untuk menyampaikan pesan ke para pasien, mitra kerja, hingga publik luas. Tak jarang ada saja follower yang langsung curhat di Twitter.

Menurut Teteh Irma, kondisi emosi seseorang bisa terbaca melalui kicauan Twitter atau status Facebook-nya. “Tiap tulisan dimana pun kan keluar dari vibrasi hati yang menulis,” paparnya. Curhat di media sosial masih oke-oke saja, demikian kata Teteh Irma. Kalau siap untuk membuat malu diri sendiri pun masih oke, asal siap menerima konsekuensinya.

Teteh Irma mengaku, isi tweetnya ada juga yang berupa curhatan pribadi. “Gue ngga mau orang mikir bahwa soulhealer itu sempurna. Gue paham kehidupan, karena gue juga hidup dengan segala macam persoalan,” ujar wanita yang mengalami jatuh bangun dalam perjalanan hidupnya ini.

Nih, ada pesan sakti dari Teteh Irma buat para pengguna media sosial, “Pakailah media sosial secara proper. Buat jualan, atau sekadar galau berjamaah, silakan. Yang ngga boleh itu kalau dipakai buat menipu, menghina secara langsung ke orang lain, atau jenis kejahatan lain. Dan sadarlah bahwa tulisan apapun yang lu bikin, lu harus siap dengan tanggungjawab dan konsekuensinya.”

 

Related Posts