Jangan Lagi Ada Kampanye Negatif di Medsos!

STOP-KAMPANYE-HITAM

Kemarin, tim PoliTwika menghadiri acara yang diadakan @KomuniKonten. Acara yang memiliki judul “Peran Media Sosial dalam Menyukseskan Pilkada Serentak yang Damai dan Berkualitas” Pembicara pada diskusi ini adalah Husni Kamil Malik (Ketua KPU), Marbawi (Direktur Eksekutif INSPIRE), Enda Nasution (Founder Sebangsa.com), Noudhy Valdhryno (Digital Strategist Partai Gerindra).

Diskusi yang berjalan sangat baik, para pembicara saling berbagi pengetahuannya dalam media sosial. Terutama Husni Kamil Malik selaku ketua KPU. Beliau mengatakan, “Media sosial bisa menghimpun partisipasi yang baik dan juga bisa tidak baik, tergantung siapa pengelolanya.” Perkataan Husni Malik itu didasarkan pengalaman dia ketika Pilpres kemarin.

Kita mengetahui bahwa momen pemilihan presiden kemarin memiliki dampak yang signifikan kepada media sosial, khususnya Twitter. Banyak perbincangan mengenai momen tersebut dan mengakibatkan banyak hal. Ada yang tertarik dan terus menerus ingin mengelola media sosial dengan baik. Ada juga yang muak terhadap kondisi Twitter saat itu. Karena bertebaran banyak sekali isu dan percakapan yang cenderung negatif.

Itu yang membuat Husni Kamil khawatir terhadap Pilkada saat ini apalagi menengok dari kejadian pilpres kemarin. Hingga pada akhirnya KPU membuat peraturan dimana para peserta Pilkada harus mendaftarkan akun media sosial resmi mereka. “Perlu kedewasaan dalam bermain di medsos. Terutama dalam kondisi Pilkada ini.” ujar Husni Kamil Malik .

Senada dengan Husni Kamil, Marbawi dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa generasi media sosial adalah generasi yang reaktif. Semuanya gampang dipropaganda oleh berita-berita yang belum tentu benar. Anonim yang berkeliaran di media sosial juga disinggung oleh Marbawi, “Kampanye kotor di media sosial meningkat tajam. Hal ini dikarenakan tingkat anonimitas yang tinggi.”

Enda menyumbangkan pikirannya bahwa media sosial memiliki dampak baik. Fitnah-fitnah yang bertebaran atau kesalahan yang dilakukan media bisa dikoreksi oleh media sosial. “Peran medsos adalah pengkoreksi kesalahan-kesalahan yang dilakukan media-media” pendapat Enda.

Berbeda dengan pengalaman yang dibagikan oleh Ryno yang menjadi digital strategist Gerindra. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya sangat menyenangkan dan tidak sulit. “Digital strategist tujuan besarnya mengarahkan sebuah figur/institusi memiliki konten yg baik di medsos,” ungkapan Ryno dalam diskusi kemarin.

Media sosial menjelma seperti sebuah pisau. Jika digunakan untuk hal yang positif, dia akan memotong untuk sebuah kebaikan layaknya pisau. Jika digunakan untuk hal yang negatif, tentu akan mengiris dan melukai siapapun. Mari kita gunakan kampanya positif melalui media sosial. Tinggalkan kampanye negatif dan buat nyaman para pengguna media sosial.

Related Posts