Kartini; Dahulu dan Masa Kini

kartini

Selamat hari Kartini, Politwika readers! Tanggal 21 April ini hampir di seluruh nusantara merayakan hari Kartini yang dikenal sebagai pahlawan kesetaraan atau emansipasi perempuan dengan selebrasi menggunakan pakaian-pakaian adat seperti kebaya dan semacamnya diikuti dengan parade-parade kebudayaan. Penetapan hari Kartini diawali dari masa pemerintahan Presiden Soekarno berdasarkan Keputusan Presiden  No. 108 Tahun 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional dan sekaligus menetapkan hari lahirnya pada tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Jika pada saat itu, Kartini mencurahkan keluh kesahnya mengenai kondisi sosial masyarakat pada masa itu melalui surat, bagaimana dengan sekarang?

Di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, rasa-rasanya sudah banyak perempuan yang dapat menyuarakan opininya secara bebas di media sosial. Untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik lagi, maka perempuan secara langsung ataupun tidak juga memiliki andil dalam kemajuan media sosial. Media sosial sebagai media alternatif dapat dikatakan sebagai media penyeimbang berbagai pemberitaan dan informasi sehingga tidak dimonopoli oleh salah satu pihak saja. Apalagi jumlah perempuan yang melek teknologi sudah cukup besar, khususnya dalam ranah media sosial. Bahkan ada penelitian yang mengatakan bahwa perempuan menjadi raja di media sosial. Riset ini dilakukan oleh FinanceOnline yang mengambil data dari PEW, Nielsen, dan Burst Media. Dalam riset ini ditemukan bahwa perempuan ternyata lebih sering menggunakan media sosial ketimbang pria. Platform media sosial yang populer bagi perempuan di antaranya adalah, Pinterest yang memenangkan kepercayaan perempuan sekitar 81%, nilai kepercayaan ini juga setara dengan blog-blog favorit para perempuan yang juga mendapatkan 81% kepercayaan mereka, mengikuti di bawahnya ada Twitter dengan perolehan 73%, kemudian Facebook sebesar 67%. (Baca: Sosial Media Terpercaya Wanita). Hasil survey juga mengatakan bahwa sebanyak 34% perempuan menggunakan media sosial sebagai sarana jejaring untuk berhubungan dengan rekan kerja sementara pria hanya mencapai 22%.

“Survei ini menunjukkan kalau pria cenderung berada di belakang perempuan dalam hal berkomunikasi di media sosial. Hal ini mematahkan opini bahwa pria lebih cerdas dalam hal jaringan pekerjaan,” kata Andreas Bernstrom, CEO Rebtel, dikutip dari NY Daily News. (Baca: Wanita Lebih Eksis di Media Sosial).

Namun meski begitu pada kenyataannya, di sebagian negara masih banyak perempuan yang tubuhnya dijadikan obyek. Belum lagi isu pemerkosaan dan kekerasan berbasis gender yang masih marak kita dengar sehari-harinya. Melalui media sosial, perempuan jadi memiliki wadah untuk beropini dan mendiskusikan pengalaman serta perjuangan mereka. Kalau menurut AWW, Tumblr merupakan media sosial pertama pelopor gerakan feminisme di kalangan anak-anak muda baru beralih ke Twitter juga kemudian Facebook. (Baca: Fenomena Gerakan Feminisme di Media Sosial). Namun dunia media sosial tak akan pernah terlepas dari opini pribadi masing-masing penggunanya yang baik maupun buruk. Ada juga yang mengkritik “Apakah posting opini di internet bisa membawa perubahan ke dunia nyata?”. Namun, pada kenyataannya gerakan yang berawal dari media sosial buktinya dapat berpengaruh loh pada kehidupan nyata. Contohnya:

  1. #YesAllWomen merupakan sebuah ‘jawaban’ bagi para pria mengenai seriusnya isu kekerasan terhadap perempuan. Berbagai tweet dan hashtag #YesAllWomen diikuti dengan kisah-kisah pribadi para pengguna twitter yang pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan terhadap perempuan di dunia nyata. Kampanye ini pada akhirnya menghasilkan beragam artikel dan juga diskusi-diskusi profesional.
  2. #notbuyingit berawal pada tahun 2011 oleh Representation Project. Kampanye ini mengekspose ketidaksetaraan gender, stereotype, dan diskriminasi. Hashtag ini berhasil mencegah beberapa perusahaan untuk membuat promo iklan yang mengobjektifikasi tubuh perempuan.
  3. #standwithwendy Wendy Davis seorang politisi Demokrat mengadakan protes di Texas dengan tujuan supaya negara bagian itu menggagalkan UU Jaminan kesehatan dari Aborsi, ia berdiri selama 13 jam lamanya. Meski tidak diekspose media, hashtag #standwithwendy menjadi viral di internet. Hasilnya, Wendy mendapatkan kesempatan untuk menjadi Gubernur Texas dan kesempatan untuk menggagalkan UU tersebut.
  4. #everydaysexism dimulai oleh Laura Bates seorang perempuan asal Inggris pada tahun 2012. Ia berbicara mengenai beragam bentuk seksisme pada kehidupan sehari-hari yang seringkali diremehkan orang-orang seperti menggoda perempuan di jalan, hingga berkomentar kejam mengenai penampilan atau berat badan seseorang. Kisah ini diramaikan oleh seluruh perempuan di dunia yang akhirnya didokumentasikan di blog everydaysexism.tumblr.com dan dibukukan pada 2014 dengan judul Everyday Sexism.
  5. #RedMyLips juga belum lama ini menghiasi linimasa di Twitter dengan TwitPic menghiasi bibir dengan lipstick merah yang menandai support terhadap korban kekerasan berbasis gender.
  6. Selain hashtag-hashtag di atas, masih banyak juga perjuangan kaum feminist melalui petisi-petisi online.

Nah, apa kalian femen tanah air sudah punya ide untuk kampanye apa melalui media sosial? Ayo, berjuanglah dengan caramu. #KartiniDay