Kenali Aksi Penipuan oleh WN Asing di Medsos

 

aksiBelum lama polisi meringkus  Warga Negara Asing (WNA) yang terbukti melakukan penipuan melalui Facebook. Modusnya: menjual dolar yang bercap United Nations. Pelaku bernama Hwande Paul, bekerjasama dengan sindikatnya untuk meyakinkan korban. Salah satu korbannya adalah Sri Murdiah yang kebobolan Rp 800 juta. Detil kisah apes wanita asal Semarang ini bisa diikuti di berita ini.

Sri hanya 1 di antara banyak sekali korban penipuan di Facebook, dengan iming-iming kerjasama bisnis. Mungkin Sri terlena, sebab si penipu adalah orang asing yang mengaku sebagai WN Amerika. Di pikiran kebanyakan orang Indonesia, WN Amerika itu kaya, sukses, sehingga mudah saja terlena tipuannya.

Modus tipu-tipu oleh WNA melalui media sosial seperti Facebook sebenarnya hanya kelanjutan dari email. Pengguna email Yahoo dan Gmail mungkin pernah menerima email dari orang tak dikenal yang mengaku warga negara asing. Modusnya mulai dari ajakan kerjasama, jual saham, sampai minta tolong karena dia tertimpa musibah. Yang paling menggelikan adalah modus tipu dengan mengaku dia mau melimpahkan warisan ke korban. Memang konyol, tapi ada saja orang yang percaya dan merespon email itu.

Modus serupa dijalankan di Facebook dan LinkedIn. Ya, LinkedIn. Siapa bilang layanan medsos ini aman? LinkedIn dipakai untuk modus penipuan karena banyak user yang berharap bisa bertemu dengan kalangan profesional di sana. Profil di LinkedIn memang bisa dibuat sedemikian rupa hingga sangat meyakinkan. Misalnya ada orang yang mengaku CEO atau owner suatu perusahaan multinasional.

Penipu ini menampilkan profil dirinya sangat meyakinkan, lengkap dengan foto diri. Setelah mereka mengundang korban untuk jadi temannya, dia akan mengirim pesan. Pesan ini berupa tawaran kerjasama bisnis di perusahaan multinasional.

Jika penerima pesan tidak berpikir panjang, dia akan meresponnya. Bahkan mau saja menuruti si penipu, memberi nomor ponsel atau alamat atau semua data pribadinya. Bagaimana kelanjutannya? Bisa ditebak, modusnya sama dengan penipuan di Facebook atau email. Korban akan dimintai sejumlah uang, dengan berbagai bujukan menjanjikan.

Kalau kamu mendapatkan pesan-pesan tawaran bisnis di media sosial, sebaiknya segera berpikir logis. Apa mungkin suatu kerjasama bisnis internasional hanya dilakukan melalui media sosial? Terlebih lagi oknum itu meminta sejumlah uang tanpa ada perjanjian legal.

Dan bisa dipastikan mereka tidak hanya mengirim pesan “rayuan maut” ke satu korban, tapi ratusan, ribuan, dan sebanyak mungkin target. Dari sekian banyak target, selalu ada yang merespon positif dan termakan bujukannya.

Berikut tips untuk mengantisipasi aksi penipu di media sosial:

  1. Waspadai akun-akun berprofil WN asing

Berkenalan dengan WN asing sering menjadi tujuan para pengguna media sosial. Untuk memperluas wawasan dan jaringan, alasannya. Tapi jangan langsung lupa diri dan mudah percaya pada mereka. Ingat, sudah marak aksi penipuan oleh WN asing seperti yang disebut tadi.

  1. Cek validitas profilnya

Kalau ada yang mengaku dia CEO atau owner suatu perusahaan, atau berasal dari negara tertentu, coba cek. Lakukan riset dengan cara googling nama dia dan nama perusahaannya. Lalu tanyakan ke teman-temanmu yang sekiranya tahu tentang dia atau bidang bisnisnya. Jika mencurigakan, segera block.

  1. Lindungi data pribadi

Jangan pernah mau memberikan data pribadi, seperti nomor ponsel, alamat rumah, alamat kantor, nomor rekening. Ingat, semua data itu bisa disalahgunakan olehnya.

  1. Tolak semua jenis ajakan

Dia mau meneleponmu? Mengajakmu bertemu? Tolak! Sekali dia meneleponmu, dia akan mencecar, membujuk, merayu, menjanjikan banyak hal yang bisa bikin kamu terlena dan rela memberikan sejumlah uang.

Related Posts