Kiat Agar Twitwar Aman dari Tuntutan Hukum

twitwar2

Apa betul twitwar bisa sedemikian berbahaya? Di artikel sebelumnya, Twitwar, Tak Kalah Seru dari Perang Sungguhan  sudah dibahas bagaimana twitwar alias debat di Twitter berisiko tuntutan hukum. Kita bisa belajar dari kasus @jonru yang menuntut @sahal_AS atau @benhan yang dituntut @misbakhun. Bahwa twitwar sebaiknya memang tak berujung dengan caci maki, hinaan, atau bahkan fitnahan. Jika itu dilanggar, maka bisa berujung di meja hijau.

Wow, sedemikian berbahayanya kah twitwar? Tidak juga, selama diskusi atau debat di Twitter masih sehat, maka tuntutan ke meja hijau bisa dihindari.

Berikut ada kiat-kiat agar pelaku twitwar terhindar tuntutan hukum:

  1. Debat yang sehat

Tetaplah di esensi topik debat yang jelas, tidak melantur kemana-mana. Fokus pada konten debat, dengan gaya bahasa yang santun, tidak kasar. Jika lawan memancing untuk membahas hal di luar topik, peringatkan dan abaikan. Kalau dia tak mengindahkan, abaikan saja, dia bukan lawan debat yang setara.

  1. Jangan terprovokasi

Sering lawan twitwar memprovokasi dengan hinaan atau cacian, mengintimindasi. Sebisa mungkin jangan terpancing, abaikan saja semua cacian itu, ajak dia tetap fokus di topik semula. Tak perlu membalas cacian atau hinaan, hanya mengotori TL Anda.

  1. Abaikan para pesorak

Dalam twitwar kerap muncul akun-akun lain yang menjadi semacam pesorak-sorai, ikut memprovokasi, atau mendukung. Coba abaikan twit mereka yang bernada negatif, sebab bisa membuat Anda kehilangan fokus dan emosi pun terpancing.

  1. Jangan libatkan banyak pihak

Sebisa mungkin hindari melibatkan terlalu banyak pihak dalam suatu twitwar. Sebab bisa membuat esensi twitwar melenceng ke masalah lain yang sesungguhnya tak perlu.

  1. Akhiri dengan damai

Mayoritas twitwar tak pernah berujung dengan kesepakatan. Selalu banyak perbedaan pendapat. Apapun hasilnya, tak perlu memperpanjang masalah, apalagi dendam. Akhiri twitwar dengan damai atau setidaknya kata-kata menyejukkan. Misalnya “Baiklah bro, kita memang beda pendapat. Kita hargai pendapat masing-masing”, atau sejenisnya.

  1. What’s goin’ on Twitter, stays on Twitter

Ini prinsip yang bisa dikatakan positif. Apapun yang terjadi di Twitter, tetaplah di Twitter, tak perlu membawanya ke dunia nyata, terlebih ke meja hijau atau baku hantam. Dengan demikian, hidup jadi lebih indah, bukan?

Sumber foto: teknologi.kompasiana.com

Related Posts