Lebih Kenali Jejak Digital di Hari Media Sosial Nasional

Sumber Gambar: Pinterest

Tanggal 10 Juni ditetapkan sebagai Hari Media Sosial sejak tahun 2015, oleh pakar manajemen dan pemasaran Indonesia bernama Handi Irawan D., yang juga menetapkan Hari Marketing Indonesia, dan Hari Pelanggan Nasional. Ide untuk menetapkan hari peringatan ini muncul karena saat itu semakin banyak masyarakat Indonesia yang memanfaatkan media sosial, dari mulai untuk bisnis hingga menjadi cara baru untuk berkenalan dengan pihak baru.

Hari Media Sosial di tahun ke-5 membuat Kapolri Jenderal Idham Azis mengimbau masyarakat untuk bijak dalam bermedia sosial, ia mengingatkan bahwa adanya jejak digital tidak selalu mudah untuk dihilangkan. Idham Azis berpendapat, bahwa saat ini media sosial telah memudahkan jutaan orang di Indonesia untuk saling bertukar informasi, gambar, ataupun pemikiran dengan cepat dan tanpa hambatan.

Detik mengabarkan dalam laman TechTerms jejak digital disebutkan sebagai suatu hal yang muncul ketika seseorang menggunakan internet. Bentuk dan sumbernya pun bermacam, dari situs yang dikunjungi, email yang dikirimkan, serta informasi lain yang “disetor” ke berbagai layanan online.

TechTerms juga membagi jejak digital menjadi dua jenis, yakni pasif dan aktif. Jejak digital pasif adalah data yang ditinggalkan tanpa sadar oleh pengguna ketika berselancar di dunia maya. Contoh jejak digital pasif adalah ketika server menyimpan alamat IP pengunjung ketika pengguna mengunjungi sebuah situs, atau search history yang terekam oleh mesin pencari.

Sementara itu, jejak digital aktif merupakan data atau informasi yang dengan sengaja diunggah oleh seseorang ke dunia maya, misalnya saat mengirimkan email, dan unggahan pada blog atau media sosial. Nah, dengan adanya jejak digital ini tentu semua warganet memiliki jejak digital. Jejak digital memang tak harus selalu dikhawatirkan, namun memang selalu ada kemungkinan data yang terekam dapat disalahgunakan oleh pihak lain. Dan, enggak cuma soal data yang disalahgunakan, beberapa unggahan juga bisa sangat berbahaya bila sudah disebarluaskan di medsos, karena siapapun bisa menyimpan atau melakukan repost atas unggahanmu.

Namun, dilansir dari Tirto, Technical Consultant PT Prosperita ESET Indonesia Yudhi Kukuh mengatakan kalau jejak digital bisa dihapus. Kuncinya ada pada smartphone yang digunakan, “Privasi kita ada di handphone. Ke mana-mana bawa dia. Ini kunci tracking,” ujar Yudhi. Yudhi berpendapat bahwa pengguna internet yang ingin menghilangkan jejak digital tidak boleh mengoneksikan smartphone lama dengan akun layanan yang digunakan, misalnya Google Account.

Yudhi juga memaparkan soal penggunaan email yang harus diperhatikan, karena email adalah kunci memasuki layanan-layanan yang tersedia. Jika emailmu diambilalih oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, maka segala tindak-tanduk penggunanya bisa diketahui dengan mudah. Amankan email yang digunakan untuk memasuki layanan internet, dengan ini kamu juga bisa melalukan penghapusan atau bahkan “meniadakan” jejak digital.

Tirto juga melansir soal Robb Lewis penggagas situs web justdelete.me yang menyampaikan soal layanan internet mana saja yang mudah, sedang, atau susah menghapus data penggunanya. Situs web justdelete.me merangkum banyak layanan internet yang telah didata tingkat kesulitan penghapusan datanya, di antaranya Facebook dengan label “kuning” yang memiliki tingkat kesulitan sedang. Ketika pengguna menghapus akun Facebook, perpesanan yang pernah dikirim masih disimpan di media sosial tersebut. Sementara itu, untuk label “hitam” terdapat aplikasi dokumen populer Evernote. Pengguna Evernote tidak berkesempatan untuk menghapus apapun yang telah mereka berikan dalam layanan itu, hal ini serupa dengan Youtube yang juga memiliki label “hitam”.

Kini, bertepatan dengan Hari Media Sosial Nasional kita telah diingatkan betapa pentingnya untuk bijak bermedia sosial. Itu bukan sekadar wacana, bila kita ingin tetap aman berselancar di dunia maya. Ingatlah, beberapa jejak digital akan sangat sulit, bahkan tidak mungkin untuk dihilangkan.