Maniak Medsos Picu Depresi Remaja & Anak

maniak medsos picu depresi remaja & anak _ politwika

Peran media sosial tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kehidupan anak-anak dan remaja. Banyak anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktu menatap layar handphone hanya untuk melihat-lihat aplikasi seperti facebook, twitter, hingga instagram.

Namun jarang disadari bahwa medsos seperti diatas membawa dampak buruk bagi anak-anak dan remaja. Para ahli mengatakan bahwa “anak-anak baru gede”, terutama yang memiliki masalah akan mencari hiburan secara online yang mengakibatkan dirinya semakin terisolir.

“Anak-anak semakin tumbuh dan lebih memilih untuk terhubung dengan kelompok sebaya mereka. Dengan hal itu, peran keluarga semakin tidak dihiraukan oleh mereka,” ujar Dr. Meena Vimalananda, Direktur Medis Anak dan Layanan Remaja di Sistem Kesehatan Shepperad Pratt.

Kemudian anak-anak dan remaja akan beralih ke situs medsos seperti facebook, twitter, dan instagram, tidak hanya untuk melakukan interaksi dengan temannya. Namun juga untuk belajar tentang dunia pada umumnya.

Dr. Meena juga mengatakan bahwa medsos merupakan wadah untuk berinteraksi yang baru untuk anak-anak dan remaja yang kurang memiliki percaya diri. Anak-anak dan remaja seperti itu menilai bahwa medsos memiliki kelebihan daripada dunia nyata.

“Bagi anak-anak yang kurang percaya diri atau yang dijauhi oleh teman sebayanya, ini memberikan mereka cara untuk merasa terhubung ke dunia yang jauh lebih besar. Anak-anak merasa bahwa mereka terhubung, dapat berkomunikasi, tapi tidak bertatap muka, sehingga mereka tidak masalah jika tidak disukai,” ujar Dr. Meena.

Namun sebuah studi dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menemukan bahwa anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu di medsos akan memiliki masalah mental, kesehatan diri yang berkurang, serta tekanan psikologis yang lebih tinggi. Ini akan meningkatkan gejala depresi dan kecemasan. Jika sudah seperti itu akan menimbulkan hasrat ingin bunuh diri yang lebih tinggi di kalangan anak-anak dan remaja.

Studi tersebut dilakukan kepada 750 siswa SMP dan SMA di Ottawa, Ontario. Hal tersebut dilakukan untuk menyelidiki hubungan antara penggunaan media sosial dan masalah kesehatan mental. Selain itu Dr. Hugues Sampasa-Kanyinga mencatat bahwa siswa yang mengakses situs sosial media lebih dari dua jam setiap harinya memiliki masalah kesehatan mental yang lebih lemah.

Jika sudah memiliki kesehatan mental yang lemah akan menjadi berbahaya, terutama untuk perempuan. Ini membuat pria-pria bejat yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan perempuan-perempuan muda yang rentan untuk melakukan hal yang buruk.

Namun masih banyak manfaat yang dimiliki medsos. Namun memang diperlukan peran dari keluarga untuk mengontrol saat anak-anak dan remaja menghabiskan waktu di media sosial. Selain itu peran guru, saudara kandung, dan teman sebaya juga diperlukan untuk berinteraksi secara langsung untuk mengurangi kehidupannya di medsos.

Related Posts