Media Sosial Sebagai Ajang “Perang” Politisi

ilustrasi-perang-di-medsos(PoliTwika) Linimassa Twitter dan sejumlah media sosial lain masih panas membahas soal selfie Setya Novanto den Fadli Zon dengan kandidat Capres Amerika, Donald Trump. Ada banyak twitwar digelar. Yang menarik adalah perang media sosial antara Imam Shamsi Ali dengan Fadli Zon, masih terkait isu selfie dengan Donald Trump. Menarik, sebab dua tokoh tersebut sama-sama menggunakan aplikasi media sosial untuk saling debat, dan akhirnya diangkat jadi berita di media massa.

Shamsi Ali mengungkapkan kritiknya ke Fadli Zon melalui laman Facebook (FB), Imam Shamsi Ali, dan Fan Page Shamsi Ali Satu. Kritik di status FB yang lumayan panjang ini ditujukan ke Fadli Zon dan Setya Novanto. Disertai juga dengan foto-foto selfie mereka berdua bersama Trump.

Fadli tidak membalas kritikan Shamsi melalui FB juga, melainkan melalui WhastApp (WA). Menurut WA itu, Fadli mengomentari pesan WA lain yang juga beredar luas. Sampai di sini, belum jelas apakah Shamsi memang menulis kritikannya di WA juga selain di FB, atau ada pihak lain yang meng-copas status FB Shamsi ke WA dan menyebarkannya.

Tanggapan Fadli melalui WA selain ditujukan ke Shamsi, pesan WA itu juga diteruskan ke sejumlah wartawan. Di situ Fadli mengutip pertanyaan Shamsi, sembari menjawabnya. Dapat dibayangkan betapa panjang pesan WA ini. Kalau sudah beredar ke wartawan, bisa dipastikan juga akan beredar ke publik. PEsan WA Fadli itu ditutup dengan tuntutan agar Shamsi mengoreksi pernyataannya. “Namun jika tdk, sy akan melayangkan somasi sebagai pelanggaran thd UU ITE. Sy akan tunjuk pengacara saya.”

WA Fadli dijawab oleh Shamsi melalui WA juga, tapi Shamsi meng-copasnya ke laman FB-nya juga, sehingga dibaca netizen.

Kita bisa lihat bahwa Shamsi Ali berusaha meraih dukungan melalui pengikutnya di FB, yang akan meneruskan ke teman-temannya. Sedangkan Fadli Zon cenderung memilih aplikasi WA sebagai senjata untuk menyampaikan pesan sekaligus mencari dukugan ke teman-teman WA-nya.

Sulit dibayangkan betapa lelahnya mereka harus meng-copas semua perdebatan panjang dari FB ke WA, lalu dari WA ke FB. Tapi kelelahan itu tak seberapa dibanding kalau mereka harus mengadakan jumpa pers atau membuat pers rilis lebih dulu.

Menarik mengamati bagaimana media sosial sudah dipilih sebagai platform dari perdebatan tokoh-tokoh ternama ini. Media massa pun mengangkat isu itu menjadi berita. Semua perdebatan panjang lebar antar mereka bisa menjadi berita di surat kabar, TV, media online, hanya dalam hitungan menit saja.

Bayangkan sebelum era media sosial, sebuah polemik hanya bisa terjadi melalui jumpa pers, menelepon wartawan untuk menyampaikan statement, pers rilis, atau bahkan menulis opini di surat kabar. Tentu semua memakan waktu hitungan hari untuk dapat dijadikan berita.

Perdebatan di media sosial yang melibatkan politisi atau aktivis dan menjadi berita bukan terjadi kali ini saja. Sudah sangat sering terjadi, apalagi di Twitter, yang kita kenal sebagai twitwar. Dan media massa sering mengangkatnya menjadi berita. Sadar ngga sih, dari waktu ke waktu media sosial semakin lebih powerfull ketimbang media massa? Bahkan publik lebih tertarik untuk membaca langsung statement politisi di akun media sosialnya, bukan melalui berita di media massa. Kenapa? Sebab statement politisi di media sosial dianggap lebih valid, spontan, dan bisa dipercaya ketimbang kutipan media massa.

Akankah kelak media massa tergusur oleh media sosial? Waktu akan menjawabnya.

Related Posts