Mengapa kampanye hitam masih digunakan?

Di tahun 2018 hingga 2019 merupakan tahun politik, di mulai dari pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif hingga pemilihan presiden. Tidak menutup kemungkinan media sosial akan kembali ramai dengan adanya isu bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) dan “Kampanye Hitam” (Black Campaign) untuk mendeskreditkan lawan.

Seperti yang terjadi pada saat pemilihan presiden tahun 2014 lalu, media sosial ramai dengan isu Jokowi adalah keturunan PKI dan isu Jokowi bukanlah seorang muslim yang tidak terbukti kebenarannya. Meskipun sudah di lakukan “Lawan kampanye hitam di Medsos!” namun ada kemungkinan kampanye hitam masih akan digunakan untuk strategi gerakan politik.

Berikut ini 5 alasan dan penyebab, mengapa kampanye hitam masih digunakan :

  1. Untuk menaikkan elektabilitas calon dan menurunkan elektabilitas lawan. Pencitraan (branding) dengan bahasa yang positif semata tidaklah cukup. Perlu strategi lain, yaitu menjatuhkan lawan.
  2. Ada anggapan bahwa informasi negatif atau buruk lebih menarik daripada informasi positif. Sebagaimana idiom yang populer di dunia media bahwa bad news is good news.
  3. Kampanye hitam dapat dijalankan dengan mudah dan murah, serta dapat menyebar secara luas di media sosial atau di internet dalam waktu yang sangat singkat.
  4. Netizen yang kurang cerdas dalam menanggapi sebuah konten. Sebagian netizen masih menelan mentah-mentah informasi yang mereka terima di media sosial walaupun mereka mengetahui bahwa informasi tersebut belum pasti sumbernya.
  5. Menurut Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Polisi Setyo Wasito, di Mabes Polri Jakarta, jumlah warga yang berpendidikan dan memiliki kematangan demokrasi di Indonesia masih sedikit. Masyarakat terdidik yang betul-betul memahami demokrasi hanya sekitar 30 persen.

Semoga Kekominfo, penyelenggara Pilkada maupun Pilpres dan semua platform media sosial dapat bekerja sama dengan baik, agar dapat menurunkan potensi adanya kampanye hitam dalam pemilihan umum tahun 2018-2019 nanti. Begitu pula dengan netizen, dalam menerima informasi melalui media sosial dan internet diminta agar lebih cerdas lagi! CMIIW

 

*Dikutip dari berbagai sumber

Related Posts