Mengenal True Crime Melalui @forensikamatir

forensik-amatir-ilus

Kabar gembira untuk para pecinta true crime nih karena kali ini Politwika akan membahas akun Twitter keren yang suka membahas kasus-kasus kriminal, @forensikamatir. Merupakan sebuah kehormatan juga, karena kesempatan wawancara yang diberikan oleh pengelola akun @forensikamatir ini adalah yang pertama kalinya diberikan kepada khalayak. Wah, jadi wawancara eksklusif nih. Sebelumnya @forensikamatir selalu menolak untuk diwawancarai karena beberapa hal.

“Menurut gua di luar sana banyak sekali orang yang lebih menarik untuk diwawancarai, hahaha. Tapi setelah ini sepertinya ngga masalah sih kalau ada yang mau wawancara, selama gua boleh anonym/pseudonym. Selalu ada yang pertama kali untuk setiap hal,” ungkapnya.

Yah, pembaca kecewa deh karena gak bisa tahu siapa sih orang dibalik akun keren ini. Tapi biarkanlah seperti itu, karena terkadang tingkat ke-keren-an suatu akun anonym/pseudonym itu akan berkurang ketika kita telah mengetahui siapa orang keren di baliknya. Seperti @Poconggg contohnya, ini subyektifitas penulis sih, akun itu terlihat lebih mempunyai ‘greget’ saat dahulu sebelum publik mengetahui Arief Muhammad adalah sosok di belakangnya. Nah, balik lagi nih ke @forensikamatir yang udah nge-twit sejak 30 November 2013. Pengelola @forensikamatir mengaku ia tidak pernah memiliki tujuan filosofis seperti menjadikan dunia lebih baik atau semacamnya, murni iseng-iseng mengenalkan true crime ke orang-orang sebagai salah satu genre hobi, membagikan link-link keren, artikel/dokumen/jurnal kasus kriminal, sekalian dijadikan tempat untuk ngobrol dan berdiskusi.

“Gua tertarik & ngumpulin data-data kasus kriminal sejak sekitar 9 tahun lalu, jadi ketika ada kanal untuk ngebagi itu semua tujuan utamanya ya untuk berbagi.”

Dengan media sosial dampak positif yang dirasakan olehnya adalah bisa berkenalan dan mengobrol sama orang yang punya ketertarikan yang sama, kenalan dan ngobrol dengan praktisi forensik beneran dan memiliki kanal untuk selipin gagasan di Twitter, kalau dampak negatifnya ia mengaku belum ada pun ada mungkin ia belum menyadarinya. Dari 10.000 jumlah tweet-nya, baginya itu sama saja ia memiliki 10.000 pengalaman unik juga. Bahkan setiap kali nge-tweet ia masih harus meyakinkan dirinya sendiri kalau sedang dan akan berinteraksi dengan manusia, bukan komputer atau Al. Selain Twitter, @forensikamatir juga punya akun ask.fm yang berguna buat jawab pertanyaan yang panjang-panjang. “Tapi yang nanya kebanyakan lebih pinter dari gua jadi akhir-akhir ini gua merasa terintimidasi buat ngejawab pertanyaan-pertanyaan di ask.fm, hahaha,” candanya.

Layaknya media sosial kebanyakan, serangan virtual pun pernah dialami oleh @forensikamatir, seperti saat awal nge-tweet dari @forensikamatir ia pernah debat panjang perkara sensor karena menurut beberapa orang ia seringkali nge-twitpic yang bukan untuk konsumsi semua umur. Akhirnya ia percaya dengan gagasan self-censorship dan ngga akan nge-tweet foto-foto (beberapa orang menyebutnya gore) yang tidak ada relevansinya dengan kasus kriminal karena ia sendiri bukan merupakan penggemar genre gore.

“Twitter ini sebetulnya tempat yang menyenangkan untuk diskusi 2 arah, sayang medianya yang terbatas (140 karakter) membuat agak sulit untuk menyampaikan gagasan secara lengkap, jadinya rawan debat kusir.”

Kalau kita melihat isi timeline-nya @forensikamatir ia kerap kali membahas soal kasus-kasus kriminal dari seluruh belahan dunia, meski lebih dominan membahas kasus-kasus yang ada di luar negeri ketimbang negeri sendiri. Alasan utamanya memang perkara data, kasus-kasus kriminal di luar (terutama AS) datanya lebih mudah dicari; mulai dari arsip penyidikan, arsip barang bukti, dokumen pengadilan, profil psikologis, biografi, forum true crime dan penyidik swasta, dll. Sedangkan di Indonesia sumber datanya bisa dibilang hanya artikel berita-berita yang seringkali juga diragukan validitasnya, sedangkan sisanya adalah opini.

Kalau akun Twitter dengan genre true crime seperti @forensikamatir sih memang belum pernah ketemu, paling akun-akun forensik/jurnal kriminal beneran semacam @crimelibrary, @CrimeMonitor, @ForensicFocus, dll. “Gua selalu bilang gua ini bukan praktisi forensik professional dan 75% referensi gua dari internet, apapun yang mau lo cari, dari artikel berita sampai arsip dokumen resmi hamper semua ada di internet, yang kalian butuhin cuma keyword yang tepat aja.”

Selama berkecimpung di dunia maya, @forensikamatir belum pernah mengadakan kopdar dengan para follower, tapi nanti seandainya di Indonesia ada forum/komunitas true crime ia akan dengan senang hati bergabung. Mempertahankan konsistensi untuk nge-tweet  dengan khas memang gak mudah, penggemar kasus-kasus kriminal yang berhubungan dengan necrophilia ini pun membutuhkan mood dan beer yang bagus untuk nge-tweet loh.

Gimana, keren kan?

Related Posts