Netizen: Apa yang Harus Dilakukan Jika Menjadi Korban Revenge Porn?

Dalam artikel sebelumnya, kita sudah mengenali jenis-jenis kekerasan seksual di internet yang harus kita waspadai. Salah satu jenis kekerasan seksual yang marak terjadi adalah revenge porn, yakni penyebaran foto, suara/audio, video, atau ujaran yang berisi konten seksual milik seseorang tanpa persetujuan yang bersangkutan. Revenge porn sering kali dilakukan oleh pelaku untuk mengancam kekasihya sendiri, tujuannya untuk mempertahankan hubungan asmara mereka yang tentu saja sudah toxic.

Toxic Relationships: Signs, Help and What To Do | Time

Sumber Gambar: Time Magazine

Perlu diketahui sebagian perilaku kekerasan seksual sebenarnya tidak terjadi secara tiba-tiba, sebab gejalanya sudah terlihat dari awal dan menigndikasikan bahwa pasangan sudah tidak sehat secara emosi, sehingga berpotensi melakukan hal-hal lainya yang bersifat kekerasan.

Lalu, bagaimana cara mengatasi revenge porn apabila kekerasan seksual tersebut terjadi pada diri kita sendiri? Tidak sedikit korban revenge porn takut untuk mencari bantuan, selain karena stigma yang melekat, korban juga mengkhawatirkan diskriminasi atas pelaporan kejadian yang ia alami. Kini, saatnya kita mengedukasi diri lebih jauh lagi untuk mengatasi revenge porn.

1. Hindari Panik Berlebih, Simpan Bukti

Ketika diri sendiri menjadi korban revenge porn pastinya timbul stres, namun kita harus tetap bersikap positif karena harus melakukan pelaporan akan insiden tersebut. Terlebih, membela diri sendiri lebih penting dibandingkan bersembunyi dalam rasa malu.

The Truth About Stress and Fertility | Psychology Today

Sumber Gambar: iStock Photo

Simpan bukti-bukti konten revenge porn yang beredar, sekalipun saat itu korban tidak berpikir untuk memperpanjang kasus tersebut ke jalur hukum. Media sosial memang bisa menghapus konten dengan cepat ketika konten sudah di-report, namun jangan lupa untuk menyimpan bukti-bukti kejahatan tersebut sebelum hilang dari internet. Nantinya bukti tersebut sangat berguna untuk diberikan kepada polisi.

 

2. Laporkan Konten ke Situs Aduan, Sembunyikan dari Search Engine

Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi memiliki layanan aduan konten melalui email di aduankonten@kominfo.go.id atau Twitter @aduankonten. Sementara itu, beberapa mesin pencari juga memiliki layanan yang dapat meminimalisir penyebaran konten, memang tidak dapat menghapus informasi terseut, namun bisa mengurangi kemungkinan orang lain menemukannya dengan mudah. Lebih lengkap, untuk pengguna Google dan Yahoo bisa mengklik masing-masing link yang tertaut pada kata-kata tersebut.

 

3. Pantau dengan Google Alerts

Setelah meminimalisir konten revenge porn tersebar lebih jauh, langkah selanjutnya adalah menyiapkan Google Alerts. Google Alerts berfungsi untuk membantu melakukan pemantauan apabila ada unggahan baru yang mencatut istilah tertentu, seperti nama korban, yang muncul di Penelusuran Google.

 

4. Apabila Konten Belum Disebar, Hanya Ancaman

Terdapat beberapa kasus revenge porn yang pelakunya belum menyebarluaskan konten, namun kerap menjadikan konten tersebut ancaman agar korban bisa dikontrol oleh pelaku. Apabila terdapat indikasi seperti itu, korban sangat disarankan untuk segera mencari bantuan profesional, atau lembaga yang dapat membatu kekerasan seksual, misalnya kepada Komnas Perempuan.

 

5. Jangan Terlibat dengan Tersangka, Deactive dari Medsos untuk Sementara

Apabila korban punya dugaan terhadap beberapa orang yang berpotensi sebagai pelaku revenge porn, sebaiknya jangan melakukan kontak atau terlibat secara langsung dengan orang tersebut, terlebih mencoba membuat pelaku menghapus konten itu. Hal ini bisa memperburuk keadaan, serta mencegah korban “disandera” melalui informasi yang sudah tersebar secara online, dan menghindari pemerasan atau pemaksaan dalam melakukan hal/imbalan lainnya demi penghapusan konten.

Tried and tested method to break the habit of constantly checking your  phone | The Times of India

Sumber Gambar: Times of India

Korban juga disarankan untuk menonaktifkan seluruh media sosial, bahkan bila perlu dapat mengganti nomor ponsel untuk kesehatan mental korban, demi menghindari informasi yang berkenaan dari orang lain terkait konten tersebut. Dikutip dari Kompas.com, Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin pun mengatakan, “Korban tidak perlu tahu apa yang terjadi di dunia maya tersebut. Buatlah sesuatu yang baru dengan dirinya,” katanya.

 

Namun, bila hendak “menghilang” jangan lupa menyimpan bukti-bukti terkait, misalnya percakapan dengan pasangan.

 

6. Beritahu Orang Terdekat, seperti Teman ataupun Keluarga

Saat revenge porn terjadi, mungkin yang terbersit dalam pikiran korban hanya sebuah tanya. Gimana kalau konten ini sampai dilihat oleh teman-temanku, bahkan orangtuaku?

Mother's Love

Sumber Gambar: Getty Images

Dukungan orang terdekat, terutama keluarga, sangat penting dalam penanganan kasus revenge porn. Penangkapan pelaku pun cenderung lebih mudah bila orang-prang terdekat mendukung korban dan memperhatikan kasus tersebut. Ketika korban tak nyaman berbicara dengan orang tua ataupun anggota keluarga lainya, korban bisa berbicara melalui perantara dengan aktivis ataupun organisasi perempuan. Korban tak perlu merasa sendiri dan berniat untuk menyelesaikan persoalan ini secara sembunyi-sembunyi ….

 

7. Dapatkan Bantuan Profesional

Mungkin, tak semua aduan konten atau lembaga yang mengurusi pelaporan revenge porn memiliki pendampingan ahli yang mumpuni, terutama terkait dengan kesehatan mental korban. Namun, penting diingat bahwa ini merupakan permasalahan krusial yang sangat harus diperhatikan, sebab trauma, ketakutan, dan gangguan kesehatan lainnya sangat bisa memengaruhi korban menjalani hidup di masa depan. Proses penyelesaian kasus ini pun membutuhkan keberanian dan energi yang besar dari korban, sehingga konseling dengan ahli (psikolog) sangat dibutuhkan.

Mauritania: Rape Survivors at Risk | Human Rights Watch

Sumber Gambar: Human Right Watch

8. Cari Tahu Soal Hukum Revenge Porn

Di Indonesia terdapat beberapa aturan hukum mengenai pornografi dan kekerasan seksual, di antaranya Pasal 27 Ayat (1) UU ITE yang mengatur:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

 

Ancaman pidana terhadap pelanggur diatur dalam Pasal 45 Ayat (1) UU 19/2016, yakni:

Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar. Dan, masih banyak aturan hukum lainnya yang bisa diketahui lebih rinci di hukumonline.com.

 

9. Pertimbangkan Langkah Selanjutnya dengan Matang

Proses penyelesaian kasus revenge porn tentunya bisa melalui jalan yang berbeda-beda, tergantung dengan situasi dan kondisi, serta aturan hukum yang tengah berlaku saat itu. Langkah-langkah penanganan yang harus dilakukan demi memperoleh keadilan untuk korban harus disiapkan secara matang.

 

Hal yang terpenting adalah bersama-sama melakukan penanganan dan penyelesaian kasus tersebut, agar tidak berlarut, atau tidak tertangani. Pelaku harus mendapatkan ganjaran! Revenge porn harus dihentikan, pelaku harus memperoleh keamanan.

Related Posts