@okkymadasari: Membaca Sastra Adalah Jawaban.   

Aktif di media sosial, terutama Twitter, membuat Okky Madasari resah terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di dunia maya tersebut. Perempuan yang pernah meraih Anugerah Khatulistiwa Literary Award (sejak 2014 berganti nama jadi Kusala Sastra Khatulistiwa) pada tahun 2012 ini, akhirnya membuat sebuah novel berdasarkan keresahannya tersebut  dan ia luncurkan pada tahun 2016 dengan judul “Kerumunan Terakhir”.

Sumber: gramedia.com

“Kerumunan terakhir itu memang respons saya terhadap kehidupan di alam internet, utamanya social media. Saya melihat bagaimana social media itu selain memberikan keuntungan dan kemudahan, juga bisa menjadi jebakan bagi kita, utamanya para generasi muda, sehingga mereka bisa terjebak pada kedangkalan. Dari itu bisa kehilangan daya kritis.” papar Okky.

Lebih lanjut Okky berpendapat bahwa kehilangan daya kritis di internet terjadi karena terdapat kecenderungan untuk mengukur segala sesuatunya berdasarkan jumlah.

“Orang dipandang penting, hanya karena jumlah followers. Suatu pendapat dianggap benar, hanya karena yang nge-retweet banyak. Sesuatu dianggap berharga hanya karena yang nge-like banyak. Ini yang betul-betul menjadi bahaya bagi kehidupan di internet.” jelas Okky.

Dalam karya “Kerumunan Terakhir”, Okky mengakui bahwa dinamika di Twitter mendapat porsi lebih banyak dibandingkan dengan media sosial lainnya. Hal tersebut terjadi karena Okky berpendapat meski belakangan yang paling banyak digunakan adalah Instagram,  fenomena-fenomena media sosial paling banyak terjadi dan memiliki dinamika yang menarik adalah Twitter, seperti fenomena akun anonim, twitwar (perang argument melalui Twitter), buzzer politik, dll.

Menariknya Okky memaparkan bahwa beberapa fenomena yang terjadi di twitter dalam beberapa bulan belakangan, membuat pembaca novel “Kerumunan Terakhir” ingat pada karyanya.

“Ada orang cerita selebtwit yang having sex, follower-nya pasti inget “Kerumunan Terakhir” karena itu sudah saya tulis di situ. Ada orang yang kelihatannya baik-baik saja, kelihatannya serba sempurna, tapi berbeda banget sama kehidupan luarnya, itu juga sudah saya potret di kerumunan terakhir.” Jelas Okky.

Perempuan yang kini mulai merambah dunia sastra anak ini mengungkapkan bahwa dengan segala fenomena di media sosial yang ia alami, buku “Kerumunan Terakhir” juga merupakan upanya untuk menyentil orang-orang yang menjadikan media sosial sebagai pelarian dari kehidupan nyata mereka yang tidak sesuai harapan.

Selain itu, melalui karyanya tersebut pula Okky ingin memaparkan fakta bahwa orang-orang pada masa sekarang sudah ketergantungan dengan teknologi, khususnya internet. Namun, hal tersebut tidak sepenuhnya berdampak negatif asalkan orang memiliki sikap dalam menggunakan tekonologi dan internet.

“Pada akhirnya kita tidak bisa menghindari teknologi. Yang bisa  kita lakukan menyambutnya, menggunakannya, tapi dengan tetap kritis.” Tegas Okky.

Sikap kritis sangat ditekankan oleh Okky, terlebih karena media sosial telah menciptakan budaya baru, misalnya, pada Twitter terdapat budaya menulis maksimal 280 karakter. Akibatnya info atau pandangan yang diterima orang kerap terpotong-potong. Hal tersebut menjadi tantangan buat Okky yang terbiasa menulis panjang dalam novel.

“Kalau aku sebagai penulis itu tantangan. Bagaimana  agar orang-orang juga mau membaca konteks utuh, bagaimana orang tidak terjebak pada sesuatu yang sifatnya sepotong-sepotong” papar Okky.

Bagi Okky, informasi yang diterima sepotong-sepotong sangat berbahaya. “Kalau kita belajar budaya literasi, itukan tidak hanya sekedar membaca, tapi memahami, memaknai, menginterpretasi dan sebagainya. Nah di Indonesia, membacanya saja rendah apalagi memaknai, menginterpretasi, dan sebagainya. Inilah yang kemudian membuat kenapa hoaks meraja lela, kenapa orang bisa diadu domba di social media. Kenapa orang gak kritis.” Papar  Okky.

Oleh sebab itu, sebagai penulis dan penggiat sastra, Okky ingin mengambil peran untuk meningkatkan daya kritis pemakai media sosial melalui karya sastra. Meskipun, Okky akui ia harus berkompetisi dengan media sosial dan budaya teks terpotong-potong yang kerap membuat orang luput akan konteks utuh sebuah tulisan tersebut.

Terlebih, karena Okky berpendapat bahwa novel dengan format cerita yang lebih mengalir pasti akan membuat masyarakat lebih tertarik untuk membaca dari pada buku teks atau buku pelajaran.

“Jika masyarakat terbiasa membaca novel, maka mereka akan terbiasa memahami konteks suatu tulisan secara utuh.Dengan demikian, meski aktif memakai media sosial, seseorang diharapkan mampu mandiri dan tidak mudah dimanfaatkan oleh “kerumunan”. ujar Okky.

Kerumunan adalah istilah yang digunakan Okky dalam novelnya untuk menggambarkan kubu atau kelompok di dalam media sosial yang memiliki kehendak dan opini yang mampu memengaruhi tindakan orang.

“Sastra bekerja secara personal. Dia bekerja untuk mempengaruhi jiwa-jiwa dan pemikiran masing-masing orang. Kalau orang baca sastra, dia tidak akan menjadi orang yang tak bisa kritis kalau ada yang salah meskipun itu kerumunan yang banyak.” Papar Okky.

Lebih lanjut Okky menekankan bahwa penting untuk mudah hanyut dalam “kerumunan” agar pengguna media sosial tidak mudah menyebarkan berita yang belum tentu benar, tidak mudah mengeluarkan pendapat yang jahat, dan paling utama tidak mudah menghakimi yang lain.

“Jadi, memang di tengah segala yang terjadi di social media ini, membaca sastra adalah jawaban.”

tutur Okky menutup bincang sore itu dengan PoliTwika di Institut Français Indonesia, Jakarta.

Related Posts