PATROLI GRUP WHATSAPP: TINDAKAN PREVENTIF ATAU PELANGGARAN PRIVASI?

Merebaknya hoaks hingga sulit terbendung lewat media sosial, terlebih lewat grup WhatsApp membuat Direktorat Tindakan Pidana Siber Bareskrim Polri berencana akan membuat “Patroli siber di grup WhatsApp”.

Sumber: @Poliklitik

Wacana tersebut langsung mendapat pro-kontra meski banyak yang belum paham bagaimana mekanismenya diberlakukan patroli tersebut. Pihak yang kontra berpikir bahwa seorang polisi akan di-invite masuk ke dalam grup mereka dan memantau permbicaraan apa saja yang di dalam WhatsApp tersebut.

Di sisi lain ada pula yang menduga kelak WhatsApp akan diretas dan dipantau tanpa disadari orang-orang yang tergabung dalam grup WhatsApp. Lalu bagaimana sebenarnya mekanisme patroli WhatsApp?

Mekanisme Patroli Grup Whatsapp 

Seperti yang ditegaskan oleh pihak polisi dalam liputan kompas.com, patroli siber yang mereka lakukan tak berarti serta-merta masuk ke dalam grup-grup WhatsApp. Melainkan dilakukan bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Badan Siber dan Sandi Negar (BSSN) secara periodik.

Selain itu, hal tersebut juga dilakukan atas dasar pengaduan, jadi bukan asal langsung diperiksa. Setelah ada pengaduan, maka tahap selanjutnya polisi akan melakukan penyitaan hp untuk kemudian diperiksa dan dijadikan barang bukti.

Jika ditemukan tanda-tanda penyebaran hoaks secara masif melalui barang bukti tersebut, barulah pemilik gawai dipanggil untuk menyelesaikan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Jadi, berbeda dengan ketakutan para warganet kan?

Grup Whatsapp yang Sehat

Sumber: pexel.com

Tidak semua grup WhatssApp wajib kita ikuti, apalagi kalau kebanyakan hanya berisi hasutan kebencian berbasis politik. Mengutip dari medium.com, ada beberapa etika yang perlu diperhatikan untuk menciptakan iklim grup WhatsApp yang sehat.

  1. Memiliki admin yang tegas untuk menciptakan peraturan Do dan Don’t, serta tegas mengambil tindakan jika ada yang melanggar
  2. Sebagai anggota grup, hindari menyebarkan artikel atau tulisan yang menjelek-jelekan suku, agama, ras, dan orang tertentu. Sebab itu termasuk pada hasut kebencian.
  3. Hindari menyebarkan dan membiasakan menertawakan gambar porno. Sebab hal tersebut melanggar UU ITE dan UU Pornografi.
  4. Berdebatlah dengan sehat di dalam grup.
  5. Jika mendapat berita yang belum dapat dipastikan kebenarannya, jangan disebar ke dalam grup. Atau jika ingin didiskusikan, pastikan seluruh anggota kelompok untuk tidak menyebar kembali ke luar grup.

Grup WhatsApp memang bersifat pribadi, tapi jelas selalu untuk mempermudah komunikasi antar warganet, grup WhatsApp dapat disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks dan hal-hal yang berbau hasut kebencian lainnya.

Jadilah warganet yang bijak, sebab hal yang kamu tuliskan pasti berdampak tidak hanya untuk dirimu tetapi juga untuk orang lain.****

Related Posts