Pedofil Cyber, Mengintai Anak di Dunia Maya

Cyber-PredatorTahukah Anda, kasus pedofil tidak terbatas di dunia nyata juga, tapi juga dunia maya? Betul, dengan makin banyaknya anak-anak dan remaja belia yang mengakses internet, maka para pedofil pun ikut mengincar mereka di sana.

Sejak media sosial begitu populer, banyak orang tua yang membebaskan anaknya mengaksesya. Anak usia SD dan SMP banyak yang sudah aktif di Facebook, Twitter, dan media sosial lain. Mereka tak sadar, para pedofil cyber berkeliaran mencari mangsa di sana. Siapa itu pedofil cyber? Mereka bisa pegidap pedofilia, yaitu orang yang suka mengeksploitasi anak-anak di bawah umur untuk kepuasan seksual. Di dunia maya, mereka dikenal sebagai pedofil cyber, karena memang beroperasi di internet.

Apa yang dilakukan pedofil cyber? Mereka akan menyamar sebagai teman sebaya anak-anak. Bersahabat, ramah, bersedia menyimak curhatan anak-anak dan remaja belia. Kelamaan pedofil cyber akan membujuk korban untuk menuruti kemauan mereka.

Tak jarang pedofil cyber memancing korban terlibat dalam obrolan intim, yang menyerempet seks, tanpa disadari korban bahwa dia sudah menjadi korban eksploitasi seksual pedofil cyber. Lebih jauh, pedofil cyber akan merayu korban untuk mengirim foto korban yang sedang memakai baju dalam, berbaju renang, sampai akhirnya bertelanjang.

Korban pedofil cyber biasanya tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi korban. Kalaupun ya, mereka takut untuk mengadu ke orang tua, guru, atau orang terdekat, karena malu atau cemas.

Child Exploitation and Online Protection Centre tahun 2013 menerima laporan 70 ribu video dan foto tak senonoh anak-anak di internet. Foto-foto itu berasal dari berbagai negara, bisa jadi termasuk Indonesia. Tersebar di internet, dikonsumsi oleh para pedofil cyber.

Salah satu kasus pedofil cyber yang paling menghebohkan di Indonesia adalah yang dlakuka Tjandra Adi Gunawan. Pria 37 tahun asal Surabaya ini menyamar sebagai seorang dokter cantik di Facebook. Selama 29 November 2013 sampai 24 Maret 2014 total foto pornografi anak yang dikumpulkan Tjandra ada 10.236 buah. Dia membujuk korban untuk melakukan foto selfie dengan ponsel, tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Tersangka sudah ahli, anak-anak disuru foto selfie memakai telefon genggam milik ibunya dan semua itu tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ternyata Tjandra bukan seorang pedofil, melainkan justru bagian dari jaringan pedofilia internasional. Dia bertugas mengumpulkan berbagai foto tak senonoh anak-anak, untuk dijual ke jaringan itu. Dengan harga cukup menggiurkan pastinya.

Tentu kita tak ingin anak-anak, adik, keponakan, atau siapapun anak dan remaja belia di sekitar kita menjadi korban pedofil cyber. Bagaimana caranya? Tips-tipsnya ada di sini.

Sumber gambar: ketikketik.com

Related Posts