PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP POLA KONSUMTIF PENGGUNANYA

Sejak kecil kita diajarkan ada 3 jenis kebutuh, yaitu primer, sekunder, tersier. Meski kita mengetahui prioritas kebutuhan tersebut, namun tidak jarang banyak yang lebih mendahulukan kebutuhan tersier. Media sosial mengambil andil besar dalam pola konsumtif penggunanya.

 

Sumber: Pexels.com

Media sosial menjadi tempat berinteraksi sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Seperti yang dilansir oleh katadata.co.id–yang mengutip hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis pada Januari 2019– di Indonesia terdapat 150 juta pengguna media sosial.

Jumlah terus meningkat setiap tahunnya. Oleh sebab itu mendia sosial menjadi salah satu sarana memasarkan iklan. Media sosial mulai diteliti untuk melihat kecenderungan pasar. Lalu muncul beberapa teori dan strategi untuk dapat memasang iklan secara efektif.

Terlebih jangkauan media sosial sangat luas dan iklan dapat disampaikan dalam waktu singkat. Untuk lebih meyakinkan setiap penjual mencoba endorsement para selebritas media sosial. Hal tersebut membuat media sosial lebih unggul dalam pemasaran dibanding media lainnya.

Peluang di media semakin meningkat ketika pemerintah semakin menggalakkan usaha-usaha berbasis digital, seperti e-commerce. Kompas.com melansir bahwa jumlah online shopper di Indonesia semakin meninggkat, yakni mencapai 11,9% dari total populasi di Indonesia pada tahun 2018.

Jadi bisa dikatakan media sosial juga bertanggung jawab dalam pola konsumtif penggunannya. Bagaimana caranya?

 

Belanja Melalui “Jendela Kecil”

Sebelum era ponsel pintar, konsumen biasa berbelanja dengan memutari mall untuk mencari barang yang diinginkan. Hal tersebut tentu memakan banyak waktu dan tenaga. Apalagi barang diinginkan belum tentu tersedia.

Hal tersebut berbanding terbalik jika kita berbelanja melalui ponsel pintar. Barang yang diinginkan, meskipun sangat spesifik tetap bisa didapatkan karena terdapat fitur “saringan” atau “filter”.

Selain itu, pengiriman pun dapat dilakukan sampai tepat di depan rumah dengan durasi pengiriman yang dapat disesuaikan. Pembayaran pun dapat dilakukan dengan mudah, melalui layanan mobile banking dan karti kredit. Jadi, kita tidak perlu keluar rumah untuk berbelanja. Waktu aman, tenaga tidak terbuang.

Tidak heran pendapatan e-commerce bisa mencapai 9,1 miliar dollar AS. (Kompas.com). Hal tersebut memang terdengar ideal dan praktis. Namun, ternyata kepraktisan tersebut menyimpan masalah laten, yaitu peningkatan jumlah perilaku konsumtif yang berlebihan.

 

Shopaholic

Sumber: Pexel.com

Pernah menonton Confessions of a Shopaholic? Film yang dirilis tahun 2009 tersebut bercerita tentang bagaimana orang bisa berlanja berlebihan hanya untuk memenuhi kesenangannya. Bahkan sampai di luar kemampuan keuangannnya.

Ketika film itu dirilis, penjualan dalam jaringan belum semasif masa kini. Terbayang betapa bahanya jika belanja sudah dipermudah seperti saat ini bukan? Pada penjelasan di psychologytoday.com bahkan terkadang seseorang rela menjalani 2 hingga 3 pekerjaan demi bisa memenuhi keinginan untuk berbelanja.

Berbelanja yang dimaksud bukan hanya memberi barang-barang tersier saja, namun juga membeli barang yang bahkan tidak terpakai. Jika tidak berubah, maka tingkatannya akan semakin parah menjadi kompulsif, yaitu tindakan tidak terencana untuk membeli barang tanpa melihat harga Tentu saja hal tersebut memperburuk keuangan seseorang.

Lalu bagaimana cara menghindar dari hal-hal tersebut jika setiap hari kita disuguhkan berbagai iklan menarik saat kita sedang membuka media sosial? Tidak perlu sampai berhenti menggunakan media sosial.

Pertama, cobalah bijak dalam menggunakan uang, rencanakan setiap pengeluaran. Kedua, coba prioritaskan kebutuhan. Lebih baik tidak dibeli jika bukan barang yang mendesak. Ketiga, hindari penggunaan kartu kredit. Keempat, lewati iklan-iklan yang muncul secara otomatis di media sosial. Upayakan tidak tertarik pada benda yang ditawarkan.

Terakhir, hindari window shopping dan kebiasaan membuat wishlist pada aplikasi belanja daring kalian. Jadi, mari bijak dalam mengeluarkan uang dan belajar menahan diri jika melihat iklan berseliweran di media sosial! Kantong pasti aman, hidup nyaman.***

Related Posts