Perempuan di Medsos: Masih “Diobjekkan”

Banyaknya netizen perempuan yang aktif di media sosial tidak menjamin bahwa peran perempuan sudah diperhitungkan. Walau jumlahnya lebih banyak ketimbang lelaki, ternyata netizen perempuan, khususnya Indonesia, masih dipandang sebagai objek. Lho kok bisa? Setidaknya 67% peserta polling yang diadakan Politwika berpendapat demikian. Hanya 33% saja yang menganggap bahwa perempuan sudah cukup aktif dan kritis di media sosial.

Pendapat peserta polling yang mayoritas masih beranggapan perempuan adalah objek di media sosial pasti bukan tanpa alasan. Betul, netizen kebanyakan masih mendudukkan perempuan sebagai objek, bukan subjek. Objek yang seperti apakah? Nyaris sama dengan media konvensional, audiens media sosial secara tidak sadar menempatkan perempuan sebagai objek. Sebagai contoh, banyak akun-akun psudeo di Twitter yang memanfaatkan foto perempuan cantik dan seksi sebagai avatar (profil pribadi). Foto-foto itu dicomot dari hasil pencarian Google, lalu diakui sebagai milik akun psudeo. Ada anggapan, dengan memakai avatar perempuan cantik maka akun mereka akan menarik perhatian, disukai netizen.

Belum lama ini, ada akun bernama @WikipediGo yang isi postingannya berisi foto-foto perempuan Indonesia, beserta nama lengkapnya. Akun tersebut kini di-suspend setelah banyak pihak melaporkan ke pihak Twitter karena keberatan foto dan nama lengkapnya diposting tanpa izin. Akun yang kabarnya dibuat oleh seorang selebtwit tersebut diangap sudah melanggar privasi pemilik foto-foto yang diunggah. Ironis, seseorang yang berpendidikan dengan tanpa rasa bersalah mengeksploitasi tubuh perempuan. Entah apa tujuannya membuat akun itu, bisa jadi sekadar mencari follower. Atau diam-diam ikut menikmati postingannya dan memfasilitasi netizen lain untuk “mengobjekkan” tubuh perempuan?

Dari dua kasus ini, penyalahgunaan foto perempuan cantik sebagai avatar, dan Wikipedigo, jelas sudah bahwa perempuan masih dianggap sebagai objek di media sosial. Tak peduli betapa kritis atau pintar para Srikandi di media sosial, tetap saja secara umum mereka “diobjekkan” oleh netizen. Padahal, netizen berpendapat bahwa perempuan pintar masih jadi idola mereka. Dari hasil polling, perempuan pintar lah yang paling disukai di medsos (35%), disusul yang lucu (30%), lalu yang kritis (19%), dan yang cantik (16%).

Ketika ada perempuan yang mengekspos tubuhnya di medsos, netizen menganggap tidak apa-apa, sebab itu haknya (68%). Ada pula yang mengaku menikmatinya (21%), dan ada yang mengaku jijik karena itu memalukan (11%).

Agaknya pemikiran lawas Simone de Beauvoir masih berlaku. Perempuan dianggap sebagai kaum pasif, tanpa peduli sekritis dan sepintar apapun mereka. Kendati di media sosial banyak netizen perempuan yang mengicaukan gagasan dan pemikiran brilian, tetap saja secara umum mereka dianggap objek. Bukan gagasan dan pemikirannya yang diperhitungkan, melainkan tubuhnya.
Ya, di era milenial ini, perempuan masih diobjekkan oleh netizen. Netizen yang mayoritas adalah kaum berpendidikan, melek teknologi, dan selalu kekinian. Sebuah fakta pahit yang harus diterima di peringatan Hari Kartini entah ke berapa ini. ***

Hasil Survei “Perempuan dan Media Sosial” oleh @Politwika

Pada 16 April 2017 lalu, akun Twitter @Politwika merilis polling yang terdiri dari 8 pertanyaan, berdurasi 24 jam. Jumlah suara yang didapat antara 1.108 hingga 2.628. Semua pertanyaannya berkisar seputar posisi perempuan di medsos. Berikut hasil lengkapnya:

 

Perempuan Mendominasi Medsos

Perempuan lebih cerewet di media sosial, begitu setidaknya hasil survei Pew Research Center 2015 silam. Kaum Hawa lebih aktif di Facebook dan Instagram ketimbang pria. Sebanyak 77% perempuan yang online adalah pengguna Facebook, sedangkan lelaki hanya sepertiganya saja. Di Instagram, perempuan lebih rajin berbagi foto ketimbang lelaki, dengan perbandingan 31% vs 24 %.

Tentunya itu gambaran pengguna media sosial secara global. Netizen perempuan terkesan lebih digdaya daripada netizen lelaki. Dari sisi jumlah saja, Kaum Hawa memang unggul. Sejak 2010 sampai 2015, jumlah pengguna media sosial didominasi perempuan. Tahun 2010, netizen perempuan pengguna media sosial sebesar 68%, sedangkan lelaki hanya 53%. Lima tahun kemudian, perbandingannya masih unggul di pihak perempuan, yakni 80% vs 73%.

Related Posts