PILIH MENGUDARA DI PODCAST ATAU RADIO?

Pengguna Spotify pasti tidak asing dengan Podcast, salah satu fitur yang memungkinkan penggunanya membuat, mendengar, atau mengunduh siaran personal. Mengutip CNN Indonesia yang merujuk pada artikel Guardian dari 2004 silam, Podcast merupakan singkatan dari iPod dan broadcast, sebab dulu Podcast hanya bisa didengar melalui iPod.

 

Sumber: pexels.com

Podcast diciptakan seiring kehadiran iPod. Jadi, meski baru mulai booming belakangan, Podcast telah ada sejak 2001 silam. Kini Podcast sudah dapat didengar di pemutar musik lain, yaitu Spotify.

Perkembangan Podcast semakin tidak terbendung seiring bertambahnya pendengar Spotify. Seperti dilansir dari laman YouTube Tech in Asia yang dirujuk oleh Tirto.id, Spotify berhasil mencetak rekor 100 juta pelanggan berbayar pada akhir April 2019.

Angka tersebut lebih tinggi dari Apple Music yang menurut Statista tercatat memiliki 60 juta pelanggan berbayar per Juni 2019. Hal tersebut membuat aplikasi streaming musik asal Swedia tersebut menduduki peringkat pertama di dunia.

Selain itu, Podcast kerap dijadikan sarana untuk iklan. Seperti yang dilakukan perusahaaan Gojek melalui siaran Podcastnya yang bernama GO FIGURE. Pada Podcast tersebut, pendiri sekaligus CEO Gojek, Nadiem Makarim  ditemani co-founder Gojek menyiarkan ekspose dibalik layar berdirinya perusahaan mereka.

Seperti yang dilansir dari id.techinasia.com, GO FIGURE menjadi saluran resmi untuk lebih dekat dengan masyarakat dengan membuka “dapur” perusahaan Gojek. Lebih lanjut, GO FIGURE merupakan contoh bahwa Podcast umumnya spesifik membahas topik tertentu dalam satu waktu.

Berbeda dengan radio yang memiliki program dan jadwal setiap hari. Selain GO FIGURE ada pula Podcast yang spesifik membahas tentang percintaan, ada yang tentang pemikiran, ada yang tentang musik, horor, dsb..

Durasi yang disajikan pun beragam dan tidak ada patokan khusus. Ada podcaster (sebutan untuk penyiar dan pembuat Podcast) yang menyuguhkan dalam durasi pendek, ada pula yang panjang.

Berbeda dengan Podcast, generasi 90-an, 80-an, 70-an, dan seterusnya mungkin akrab dengan siaran radio. Tidak jarang pada waktu tertentu mereka dengan sengaja menanti siaran dari penyiar favorit mereka.

Radio memiliki jadwal program yang statis seperti televisi. Konsep siaran dikemas dengan perencanaan matang dan penyiar pun bukan sembarang orang. Namun, hanya mereka yang memiliki kriteria tertentu.

Jika ditelisik lebih lanjut, radio tidak bisa dibandingkan dengan Podcast meskipun sama-sama siaran. Radio tetap akan bertahan dalam gempuran Podcast. Mengapa?

Pertama, radio dapat melakukan interaksi dengan pendengar melalui siaran telepon secara langsung. Hal tersebut menjadi nilai tambah bagi pendengar. Sedangkan Podcast hanya berupa rekaman yang bersifat satu arah.

Kedua, radio memungkinkan membahas banyak hal dan tema dalam siaran. Sedangkan Podcast umumnya hanya membahas satu tema pada satu waktu.

Ketiga, format Podcast lebih mirip blog dalam bentuk suara dibanding siaran. Jadi, alih-alih menggusur radio, Podcast justru dapat menjadi pelengkap bagi industri penyiaran. Banyak informasi dan fenomena yang didapat dari Podcast dapat yang dapat digunakan untuk materi siaran.

Pada akhirnya, semua hanya perkara selera dan akses. Podcast tidak akan menggantikan radio, begitu pun sebaliknya, bukan? ***