Prostitusi Online, Menguji Kecerdasan Netizen

pross

(PoliTwika) Belakangan ini media marak membahas prostitusi online, terkait kasus pembunuhan @tataa_chubby.  Ngomong-ngomong soal prostitusi online, pastinya bukan hal baru bagi para netizen. Sejak era chat room mIRC sampai Twitter sudah ada. Bahkan di mIRC masih ada lho sampai sekarang. Di sana dengan mudah bisa ditemui nickname-nickname hot mengundang. Misalnya: CeHotJkt, CoMacho27, dan sejenisnya.

Sampai sekarang pun masih tetap bisa dijumpai forum-forum prostitusi online, yang dengan segala cara berusaha agar tidak diblokir.

Menurut catatan Kemenkominfo. ada lebih dari 800.000 situs prostitusi yang diblokir selama 2009-2015. 90%-nya memiliki konten berbau pornografi. Tapi apakah pemblokiran itu bisa menahan derasnya arus informasi, termasuk informasi negatif? Terbukti jawabannya adalah tidak.

Situs bisa saja diblokir, tapi bagaimana dengan media sosial?  Twitter, Facebook, Tumblr, Instagram, Path, ikutan dilirik oleh penyedia jasa prostusi online. Bahkan aplikasi instant messenger pun tak luput dari kedipan bisnis prostitusi online.

Ingat kasus tertangkapnya Keyko, bos prostitusi online asal Surabaya th 2013? Dia mengoperasikan bisnisnya melalui BlackBerry Messenger (BBM). Kasus Keyko bisa memberi gambaran bahwa prostitusi online merambah berbagai jenis aplikasi cyber. Ngeri2 sedap.

Fenomena prostitusi online bukan tak diketahui oleh para pengelola media sosial. Mereka pun membuat sejumlah kebijakan untuk itu. Facebook misalnya, memperketat registrasi user dan postingan gambar. Tapi tetap saja sering kecolongan.

YouTube berlaku lebih ketat, melarang postingan video vulgar. Hal serupa dilakukan Instagram. Jika ada konten vulgar di aplikasi-aplikasi medsos itu, maka tidak bertahan lama. Dalam hitungan jam akan diblok.

Bagaimana dengan Twitter? Nah, medsos yg satu ini agaknya masih membebaskan user memposting apa saja. Mulai dr gambar dan tulisan vulgar.

Masih banyak orang meremehkan Twitter. “Ah, cuma dibatasi 140 karakter, bisa apa sih orang?” Eits, nanti dulu.

Mereka yang meremehkan Twitter mungkin tidak tahu bahwa kasus pembunuhan Deudeuh diawali dari perkenalan Deudeuh dengan pelaku di Twitter.

Kasus itu kian membuktikan bahwa media sosial punya pengaruh besar dalam kehidupan nyata manusia. Mungkin kalian pernah di-follow atau disamber akun yang avatar atau username-nya seronok. Misalnya avatarnya foto vulgar. Atau kalian pernah di-mention akun yang isi twitnya menggoda, “Hai cowok, butuh kencan malam ini?”

Kalau diintip, linimassa mereka isinya foto-foto vulgar, lengkap dgn info cara mengontak, ukuran vital, sampai tarif. Ngga sulit kok menemukan akun-akun prostitusi di Twitter. Apalagi sejak kasus Deudeuh dipublikasikan berbagai media massa. Dari linimassa @tataa_chubby bisa dengan mudah dilacak akun-akun sejenis.

Sejak kasus pembunuhan Deudeuh, polisi bertekad untuk menutup akun di Twitter dan Facebook yang dipakai utk prostitusi online. Hmm apa bisa? Bukannya pesimis, masalahnya adalah prostitusi online sudah ada sejak lama, tapi polisi kok baru bertindak sekarang?

Selama media sosial seperti Twitter membebaskan user utk memosting konten apa saja, termasuk foto vulgar, maka prostitusi online akan terus ada. Apakah Twitter harus membatasi foto vulgar, seperti yang dilakukan YouTube dan Instagram? Bisa saja, tapi itu bukan solusi.

Prostitusi online, sama seperti prostitusi di dunia nyata, merupakan fenomena sosial yg sulit diberangus.

Yang jadi keprihatinan, bagaimana jika anak-anak di bawah umur yang aktif di medsos berinteraksi dengan prostitusi online? Lagi-lagi kewaspadaan ortu dibutuhkan di sini. Yang jelas, kalau anaknya sudah bisa online, ortu ngga boleh gaptek.

Bagi para ortu yang anaknya sudah bermedsos-ria, sebaiknya ikut melek soal isu-isu di medsos, termasuk prostitusi online. Sebab arus informasi di era ini, termasuk prostitusi online, akan sulit dibendung. Sensor seketat apapun bisa diterobos. User lah yang wajib selektif.

Seselektif dan secerdas apakah netizen Indonesia?

Related Posts