REKONSILIASI DI MEDIA SOSIAL PASCA-PILPRES 2019?

Seperti yang kita rasakan sendiri, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 membuat polarisasi besar di antara dua pendukung kubu pasangan calon (paslon) yang sedang berkontentasi. Kedua pendukung beradu argument baik di dunia nyata maupun di media sosial.

 

sumber: hollywoodreporter.com

 

“Cebong” dan ”Kampret” pasti tidak asing bagi para warganet. Yap, “Cebong” adalah sebutan untuk pendukung paslon nomor urut 01, yaitu Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Sedangkan “Kampret” adalah sebutan bagi pendukung paslon nomor urut 02, yaitu Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Kedua kubu terus mengatai satu sama lain dengan kata-kata kasar. Terlebih para tokoh di kedua kubu juga ikut berseteru di media sosial dan semakin memanaskan situasi. Namun, setelah proses panjang, akhirnya pada 30 Juni 2019, telah resmi ditetapkan hasil pemilu 2019 dengan pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai pemenang.

Namun, hal tersebut belum juga membuat media sosial menjadi tenang karena beberapa tokoh masih belum juga menerima dengan lapang dada hasil keputusan tersebut, seperti akun @ustadtengkuzul yang tak henti mengumbar kekecewaan.

Hal tersebut mengingatkan pada penelitian yang pernah dikutip oleh kompas.com berjudul “A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental Health in Indonesia”, yaitu tentang gangguan mental akibat penggunaan media sosial di Indonesia.

Menurut penelitian tersebut, rasa frustrasi yang dialami oleh pihak yang kalah, dapat diartikan sebagai perasaan iri dan getir yang muncul karena keinginan pengguna media sosial tidak tercapai.

Selain itu paparan perayaan dari kubu yang menang dengan segala komentar yang juga kerap serampangan membuat pengguna yang kalah menjadi frustrasi dan tidak jarang mengganggu kejiwaan.

Lalu akankah rekonsiliasi di media sosial terwujud?

 

Gencatan Senjata Antar Tokoh Media Sosial 

Menanggapi rapat Pleno penetapan hasil pemilu, baik pihak Jokowi maupun Prabowo telah sama-sama sepakat untuk menghormati putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan menyatakan bahwa hasil tersebut telah final.

“Kami patuh dan ikuti jalur konstitusi yaitu UUD 1945 dan sistem Undang-Undang yang berlaku. Maka dengan ini kami nyatakan bahwa kami hormati hasil keputusan MK,” ujar Prabowo pada  Kamis (27/6) malam. Hal tersebuat sebaiknya diikuti juga oleh para tokoh yang selalu disorot media sosialnnya.

Rekonsiliasi mungkin terwujud jika para tokoh berpengaruh mau merendahkan hati untuk mengakui kesalahan, minta maaf, dan mengajak untuk berangkulan. Contohnya sudah dilakukan oleh @ulinyusron melalui akun twitternya ia menuliskan sebagai berikut.

Sumber: Tangkapan Layar

Selain itu penting untuk menghentikan penggunaan kata “Cebong” dan “Kampret”. Sejak awal penggunaan kata itu saja kasar dan cenderung mendehumanisasi, tapi apa bisa dilakukan saat politik tengah memanas kemarin. Nah, setelah penetapan kemarin hilangkan semua sebutan yang tidak patut tersebut.

Sebab, di atas segala kontestasi yang terjadi yang diinginkan semua pihak tetap kemajuan Indonesia agar menjadi lebih baik. Tidak ada cebong maupun kampret, yang ada warga Indonesia yang bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. ***