Situ Bisa Jadi Buzzer Produk, Buzzer Kemanusiaan Gimana?

6-langkah-perjuangan-di-medsos

 

“Jika kalian punya waktu untuk twitwar dan mempromosikan produk dengan imbalan uang sebagai buzzer, bisakah kalian membantu ibu-ibu #RembangMelawan ini?” Kalimat yang diketikkan Arman Dhani di surat elektroniknya ba’da subuh tadi membuat saya tercenung.

Adalah mengejutkan, ketika isu yang marak diangkat di media sosial justru nyaris tak diekspos di media massa. Padahal yang sudah-sudah isu di media sosial kerap dijadikan sumber berita para jurnalis media massa. Ada apa gerangan?

Itulah yang sekiranya terjadi pada perjuangan #RembangMelawan. Tagar ini berseliweran di linimassa Twitter. Mengutip statistik Topsy, tagar itu mencapai 5000 kicauan hingga akhir pekan kemarin.

Awalnya, perjuangan mereka dicirikan dengan tagar #SaveRembang. Tapi kini beralih jadi #RembangMelawan, sebab #SaveRembang “dibajak” pihak lawan. Yang penasaran dengan apa itu #RembangMelawan, intinya tagar ini dipakai sebagai kampanye di linimassa Twitter untuk membantu warga Rembang melawan proyek pembangunan pabrik semen di daerahnya. Mengapa? Sebab proyek itu mengancam keberadaan sumber air yang menjadi dasar kehidupan rakyat Rembang dan sekitarnya.

Pemanfaatan Medsos

Tagar #RembangMelawan merupakan satu dari sekian banyak upaya perlawanan yang memanfaatkan media sosial. Yang paling menghebohkan adalah saat video kekerasan terhadap ibu-ibu Rembang tersebar di media sosial. Kontan rekaman itu memicu reaksi keras netizen.

“Bagi saya ini salah, kalo memang pendirian pabrik itu baik-baik dan dilakukan untuk kemajuan rembang seperti yang diklaim, kenapa harus pake kekerasan? Lho kok kasar dan brutal sekali? Saya tidak berlebihan, videonya masih ada di YouTube. Tidak hanya itu yang dipukul adalah ibu-ibu, jika anda melihat rekaman video itu saya kira bisa menilai sendiri bagaimana keras dan agresifnya aparat terhadap ibu-ibu itu,” Arman Dhani, seorang jurnalis, penulis, dan netizen memaparkan perasaannya.

Jelas sudah Dhani, juga sejumlah netizen lain ikut terpanggil untuk menyuarakan #RembangMelawan. Logikanya sederhana saja, jika sampai aparat demikian kasar dan keras pada ibu-ibu, berarti ada yang salah. Nah yang salah itu kita perlu cari sama-sama, tambah Dhani.

Twitter dan Facebook menjadi media sosial yang saling dukung untuk mempublikasikan peristiwa di dunia nyata. Twitter bersikap terbuka, bisa diakses siapa saja tanpa harus saling follow, tapi terbatas dengan ruang berkata-kata yang hanya 140 karekter. Sementara Facebook lebih membebaskan ruang kata, namun hanya bisa dikomentari oleh teman tertentu saja.

Dari publikasi di media sosial, netizen bisa menjangkau pejabat terkait, seperti Gubernur Jawa Tengah melalui akun Twitter @GanjarPranowo. Tentang bagaimana responnya di dunia nyata, lain perkara. Yang jelas, netizen sudah berusaha menarik perhatian pejabat terkait.

Bagaimana dengan ekspos di media massa? Jika kita coba googling kata kunci “pabrik semen Rembang”, maka hasilnya tak semua memaparkan fakta yang coba dihadirkan di tagar #RembangMelawan. Tentu saja, media massa nasional lebih suka mengekspos isu-isu politik, selebriti, atau demam batu akik yang dianggap lebih seksi dan menaikkan rating.

Berjuang di media sosial bukan berarti tanpa kendala. Pihak lawan sudah pasti tak mau kalah mengerahkan pendukungnya. Saya sendiri mengalami disamber akun-akun Twitter yang merespon negatif setelah beberapa kali saya ikut memposting informasi seputar #RembangMelawan. Hal serupa dialami Dhani.

Aktivis Jempol?

Ada sebagian yang mencibir perjuangan melalui media sosial. Aktivis media sosial sering dicerca sebagai “aktivis jempol” karena hanya bisa menggerakan jempolnya di gadget. Mereka yang bilang begitu sudah pasti tak pernah paham tentang kekuatan media sosial.

Kampanye di media sosial bisa menghasilkan suatu petisi online yang dihimpun oleh Change.org. Apakah hanya menjadi petisi di awang-awang? Tentu tidak. Petisi di Change.org sudah sering memanen keberhasilan, seperti yang ditampilkan di sini.

“Saya percaya media sosial bisa jadi katalis dan medium untuk menyebarkan ide atau gagasan. Itu yang saya perjuangkan via media sosial. Petisi-petisi itu saya kira akan menjadi tolak ukur dan pertimbangan bagi pemangku kebijakan bagaimana sebuah maslah mesti diputuskan. Jika pemimpin itu punya hati nurani dan kesediaan untuk peduli, maka akan sangat baik. Jika tidak ya perlu dipertanyakan komitmennya sebagai pelayan publik,” tegas Dhani.

Intinya, jika suatu isu hanya dikicaukan di Twitter atau media sosial lain, memang hanya akan melahirkan aktivis jempol, tanpa ada perjuangan nyata. Namun saat ada aksi di lapangan, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu #RembangMelawan ini adalah contoh baik bagaimana pergerakan medsos dan partisipasi publik merespon isu sosial dilakukan.

“Saya tidak pernah merasa lebih pintar daripada ibu ibu #RembangMelawan, malah saya merasa bodoh dan lemah di hadapan mereka. Jadi siapa sebenarnya yang jadi provokator? Di media sosial, para pendukung #RembangMelawan ambil bagian karena memiliki kepedulian, empati dan otak untuk berfikir mana yang baik dan benar. Para aktivis #RembangMelawan sebagian besar merupakan penduduk asli Kendeng, dari mereka saya kemudian meneruskan perjuangan itu. Tapi ya pasti ada resistensi, saya contohnya dituduh aktivis retwit karena dianggap tidak tahu medan, tidak pernah ke Rembang atau bahkan bukan orang Rembang asli. Apakah kalau Palestina diperangi Israel kita tidak boleh peduli hanya karena kita bukan orang Palestina? Kan, tidak,” Dhani terkesan gemas sekali. ***