@sarasdewi: “Berdebat 140 karakter, itu seru sekali.”

Politwika_saras dewi copy

Pernah mendengar lagu berjudul Lembayung Bali? Saras Dewi adalah sang penyanyinya. Tapi profesi utamanya bukanlah sebagai penyanyi, melainkan sebagai dosen. Yak! Saras Dewi adalah seorang dosen, tepatnya dosen filsafat. Betul, filsafat!

Filsafat yang tidak disukai banyak orang ini ternyata begitu dicintai oleh perempuan yang lahir dan besar di Bali ini. Awalnya, sulung dari sepuluh bersaudara ini begitu menyukai kompendium karya-karya Plato sampai akhirnya Ia secara konsisten menempuh pendidikan filsafat hingga jejang Doktor.

Ditengah kesibukannya sebagai dosen Filsafat Lingkungan Hidup di Universitas Indonesia ternyata perempuan kelahiran tahun 1983 ini masih sempat lho aktif di media sosial. Menurutnya media sosial berfungsi menyampaikan opini yang mungkin di media arus utama tidak diakomodir. Saras Dewi mencontohkan gerakan Bali Tolak Reklamasi yang sulit mendapat perhatian media besar, namun dengan adanya media sosial memungkinkan advokasi dapat diinformasikan ke berbagai kalangan.

Sebenarnya Saras Dewi mempunyai akun di beberapa media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Bahkan, Ketua Program Studi Ilmu Filsafat Universitas Indonesia ini juga memiliki blog pribadi dengan tautan www.sarasdewi.blog.com yang berisi berbagai karya tulisnya. Namun, Twitter adalah media sosial yang paling sering Ia gunakan. Perempuan yang sekarang sedang asik melakukan riset untuk mengisi waktu luangnya ini mengaku senang bisa berkomunikasi dengan berbagai orang, terkait berbagai persoalan atau isu. “Apalagi bisa berdebat 140 karakter, itu seru sekali.”, ungkap istri dari gitaris group band Netral ini.

Di Twitternya, Ia sering berkicau seputar keadilan gender terkait kesempatan pendidikan, ekonomi dan partisipasi politik bagi para perempuan. Pun tentang kekerasan seksual pada perempuan dan anak. Sebab menurutnya, di Indonesia keadilan gender masih belum terwujud, jumlah keterlibatan perempuan di ranah publik masih dinilai kurang. Melalui media sosial inilah Saras Dewi mengedukasi perempuan dan laki-laki untuk mencapai keadilan gender dan penghapusan kekerasan seksual.

“Memberdayakan perempuan dalam ranah sosial membutuhkan perubahan budaya, dari kebudayaan yang patriarkis, yang misoginis, menuju kebudayaan yang sensitif terhadap keadilan gender. Tentunya perubahan budaya ini hanya dapat dilakukan jika, masyarakat mendapatkan edukasi yang berkualitas dan peka terhadap keadilan gender.” – Saras Dewi

Sebagai seorang perempuan dari daerah dan bekerja di kota besar, terlebih berkarir di dunia filsafat yang didominasi kaum pria, pemilik album Crysan ini pun ternyata pernah mengalami ketidakadilan gender.

“Tapi saya berusaha bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa, perempuan juga mampu berkarya dan memiliki gagasan-gagasan yang layak dibahas dalam dunia filsafat.” – Saras Dewi

Dengan pengalaman itu, Saras Dewi memanfaatkan media sosial, Twitter khususnya untuk menjangkau perempuan-perempuan muda yang sedang berjuang membangun karir untuk bertukar pikiran dan saling menyemangati.

“Melalui media sosial saya ingin menunjukan bahwa siapapun yang menjadi korban kekerasan seksual, dapat bangkit menjadi penyintas, dan mereka harus mengetahui bahwa simpati dan dukungan datang dari manapun, bahwa mereka tidak pernah sendiri.” – Saras Dewi

Usaha dirinya menyuarakan keadilan gender melalui media sosial perlahan berbuah manis, sekarang mulai banyak bermuncula gerakan-gerakan melawan kekerasan seksual pun ketidakadilan gender yang berawal dari kepedulian di media sosial. Hingga akhirnya gerakan-gerakan ini turut membuat aksi nyata untuk membantu para korban ketidakadilan gender dan kekerasan seksual, baik dengan memberikan edukasi langsung ataupun hiburan.

“Media sosial cukup memiliki peran menurut saya dalam menyoal masalah keadilan gender. Media sosial adalah platform untuk terbentuknya suatu masyarakat digital yang setiap saat dapat tersambung dan berdiskusi.” – Saras Dewi

Related Posts