Sharenting Bisa Bikin Tak Nyaman, Anak-Anak Berhak Soal Privasi Foto

Susan Sontag menuliskan sebuah kutipan menarik dalam buku On Photography miliknya yang terbit pada tahun 1977, “Memotret orang berarti melanggarnya, dengan melihat mereka seperti mereka tidak pernah melihat diri mereka sendiri, dengan memiliki pengetahuan tentang mereka yang tidak pernah mereka miliki; itu mengubah orang menjadi benda yang bisa dimiliki secara simbolis. Sama seperti kamera adalah sublimasi pistol, untuk memotret seseorang adalah pembunuhan bawah sadar – pembunuhan yang lembut, sesuai dengan masa sedih dan ketakutan.”

Lalu, bagaimana dengan anak-anak atau bayi yang selama ini kita lihat fotonya bertebaran di media sosial? Mungkin beberapa di antaranya benar-benar kita kenali, anak dari seorang anggota keluarga, anak dari teman kuliah yang sudah menikah, atau anak-anak selebriti yang kita ikuti. Apakah orang tua mereka, atau seseorang yang telah memotret dan mengunggah mereka telah mengubah mereka menjadi “benda yang bisa dimiliki secara simbolis”? Ugh.  Saya harap tidak, walaupun fakta ternyata tidak semenyenangkan itu.

Should sharents ask kids' consent before posting online?

Sumber Gambar: Yahoo!

 

 

BBC pernah mendefinisikan perilaku sharenting sebagai berbagi momen berupa foto (atau video) dan caption, soal anak-anak secara online. Mulanya istilah ini muncul ketika Gwyneth Paltrow membagikan sebuah gambar di Instagram dengan putrinya yang berusia 14 tahun bernama Apple Martin, saat mereka sedang bermain ski.

Kiriman Paltrow menjadi kontroversi, karena Apple menuliskan di akun Instagram pribadinya bahwa ia tidak menyetujui kiriman tersebut. Namun, ibunya merespons kalau dalam foto tersebut wajah Apple pun sama sekali tidak terlihat. Banyak yang warganet berpendapat, bahwa sebagai ibu Paltrow dapat mengunggah gambar apapun perihal putrinya, tapi banyak juga yang mengatakan kalau anak-anak berhak memiliki privasi atas foto-foto mereka.

 

Think Twice Before You Post Those Cute Kid Photos Online : Shots ...

Sumber Gambar: Getty Images

 

Pernahkah Kamu Berpikir Kalau Anak-Anak Bisa Merasa Tidak Senang, Ketika Menemukan “Jejak Digital” Berupa Foto Saat Mereka Masih Kecil di Masa Depan?

Dilansir dari BBC beberapa anak merasa tidak suka fotonya diunggah secara online oleh orang tua mereka, sebab mereka terganggu foto-foto dirinya sebagai anak kecil menjadi konsumsi publik pada akun media sosial orang tuanya yang tidak di-protect. Mereka merasa malu, dan ada juga yang mempersoalkan “algoritma wajah” yang terekam di internet. Alhasil, ada anak-anak yang sungguh-sungguh meminta foto itu untuk segera dihapus.

Namun, tidak semua anak merasa demikian. Terdapat anak-anak yang masih bisa memaklumi sharenting sebagai sesuatu yang normal, mereka tak meminta foto itu dihapus, meskipun tetap merasa memalukan.

Seberapa Berisiko Mengunggah Foto Anak-Anak ke Media Sosial?

Prof. Andra Siibak dari Universitas Tartu di Estonia mengungkapkan, banyak orang tua tidak begitu memperhatikan soal cyber bullying.  Dalam sebuah penelitian yang melibatkan anak-anak Estonia dari usia 9 hingga 13 tahun ditemukan, bahwa anak-anak bisa menyukai hal positif tentang mereka yang dibagikan oleh orang tua di media sosial. Namun, ada perbedaan besar dalam memahami “foto yang bagus” dalam pandangan anak-anak dan orang tua. “Anak-anak tidak menyukai orang tua yang berbagi visual yang tidak menarik tentang mereka – misalnya, jika rambut mereka berantakan atau mereka mengenakan gaun yang sebenarnya tidak mereka sukai.”

Risiko lainnya dari unggahan foto anak adalah penculikan digital, foto anak-anak bisa digunakan untuk penipuan atau bahkan kejahatan seksual.

News | DPRD dan DP2A Gencar Sosialisasi Ancaman Pedofilia

Sumber Gambar: Akurat.co

 

Pada dasarnya membagikan foto siapapun di media sosial harus mengantongi izin dari yang bersangkutan, di Indonesia aturan ini terdapat dalam Pasal 12 UU Hak Cipta. Namun, dalam hal mengunggah foto atau video anak-anak sepertinya masih banyak orang tua yang belum menyadari, bahwa “privasi anak-anak” juga bagian dari “privasi” yang harus benar-benar dijaga dan dihargai sebagai individu.

Profesor Siibak juga berpendapat, kalau orang tua harus memperhatikan masalah privasi ini dengan lebih serius. “Hanya berdiskusi sederhana yang melibatkan anak-anak tentang foto seperti apa yang mereka sukai, dan jika boleh mengunggahnya, membantu membangun hubungan orangtua-anak yang lebih baik.”

Sharenting seharusnya masih bisa dilakukan dengan menghindari risiko-risiko berbahaya yang dapat diakibatkan. Dilansir dari laman siapnikah.org dari BKKBN, ada enam etika yang dapat dipelajari oleh orang tua bila ingin mengunggah foto anak-anak secara online:

1. Ketahui Foto yang Pantang Dibagikan

Foto anak sedang mandi, enggak boleh sembarangan dibagikan, sekalipun mereka masih bayi. Hal ini sangat rawan disalahgunakan oleh para pelaku pedofilia. Sama seperti yang dianjurkan Profesor Siibak, foto anak-anak saat mereka terluka, memalukan, rentan di-bully, dan yang tak aman lainnya juga perlu dihindari. Jangan sampai anak-anak merasa malu saat melihat jejak digitalnya di masa depan.

2. Rahasiakan Informasi Foto

Matikan fitur geo tag pada smartphone sebelum mengambil foto untuk menghindari perekaman data soal waktu dan lokasi foto itu diambil. Jangan pernah juga mengunggah foto yang terhubung dengan info terkait, seperti nama lengkap, alamat rumah, nama sekolah, dan identitas penting lainnya. Ini dilakukan agar anak-anak terlindung dari potensi penculikan.

3. Atur Privasi

Media sosial kini punya banyak pengaturan privasi yang bisa kamu sesuaikan, jadi “share with close friends” bisa menjadi pilihan. Hal ini mempermudah kita melacak pelaku jika ada penyalahgunaan foto. Tentunya akan lebih aman jika hanya membagikannya kepada orang-orang terdekat.

4. Beri Watermark

Orang tua bisa mempertimbangkan untuk memberikan watermark pada setiap unggahan foto anak-anak mereka. Tentu saja, lagi-lagi alasan utamanya adalah demi keamanan dan menghindari penyalahgunaan.

5. Jangan Terpancing Komentar

Tanpa sadar kita bisa memberikan informasi penting ketika ada yang bertanya di kolom komentar, seperti memberitahu nama sekolah, atau day care yang sering dikunjungi anak-anak. Ingatlah selalu untuk menahan diri, jika orang itu cukup dipercaya dan ingin diberitahu bisa disampaikan melalui pesan pribadi. Hindari juga komentar-komentar yang bisa berpotensi bully.

6. Minta Izin Orang Tua Lain

Terkadang ada kalanya orang tua ingin mengunggah foto anak-anak bersama teman-temannya. Penting diingat, bahwa anak-anak lainnya berhak atas potret diri mereka, dan tidak semua orang tua menyukai unggahan foto anak-anak mereka secara sembarang di social media.

Wi-Fi meningkatkan risiko keguguran pada ibu hamil

Sumber Gambar: Beritagar

Pandanglah selalu anak-anak sebagai individu, mereka berhak untuk merasa nyaman, dan memiliki privasi atas diri mereka sendiri. Tentu, tidak ada salahnya untuk membagikan momen-momen bahagiamu bersama keluarga di media sosial, tapi sudah seharusnya kamu memperhatikan hal-hal yang kamu unggah, terlebih bila itu menyangkut soal anak-anak.

Selalu tanyakan kembali kepada dirimu: Untuk apa ya saya mengunggah foto ini apa hanya untuk kesenangan saya semata? Atau, untuk sekadar merekam momentum? Tapi, apakah ini aman untuk si kecil?

Related Posts