Selfie Berlebihan Berarti Gangguan Jiwa!

ilustrasi

{PoliTwika} Ingat ngga, Politwika pernah membahas korban-korban selfie di artikel “Selfie Berujung Tragedi”? Ternyata sebenarnya sudah lama selfie ditetapkan sebagai salah satu gangguan jiwa. Nah lho, kok bisa begitu? Tunggu dulu, ada level-level tertentu di mana selfie sudah termasuk gangguan mental. Setidaknya demikianlah menurut American Psychiatric Association (APA) yang secara resmi mengonfirmasi bahwa sering selfie berlebihan termasuk kategori gangguan jiwa.

Selfistis, begitu istilah bagi gangguan jiwa dengan gejala terlalu sering selfie. Secara ilmiah, didefinisikan sebagai keinginan berlebihan untuk mengambil foto diri sendiri dan memostingnya di media sosial. Biasanya gejala ini disebabkan kurangnya rasa percaya dir. Pengidap selfistis mayoritas adalah orang yang rindu diperhatikan orang lain, walau itu orang tak dikenal.

Kebiasaan selfie separah apakah yang sudah bisa dikatakan sebagai selfistis? Tentu bukan semua orang yang hobi selfie dapat dikatakan mengidap selfistis. Coba kamu perhatikan, kamu atau teman-temanmu ada tidak yang tergolong selfistis.

Nih, ada tiga level selfistis yang perlu dikenali:

  • Selfistis borderline: Melakukan selfie setidaknya tiga kali sehari, tapi tidak memostinnya di media sosial
  • Selfistis akut: Melakukan selfie paling sedikit tiga kali sehari, dan memosting semuanya di media sosial.
  • Selfitis kronis: Melakukan selfie sepanjang hari secara tak terkontrol dan memostingnya di media sosial lebih dari 6 kali sehari.

Sebenarnya bukan aktivitas memotret diri sendiri yang bikin kecanduan seorang selfistis. Tapi komentar-komentar yang hadir di media sosial lah yang membuat seorang selfistis makin bersemangat melakukan selfie. Komentar negatif maupun positif membuat mereka kian antusias melakukan selfie lagi, lagi, dan lagi.

Sejauh ini belum ada obat bagi gangguan selfistis. Jenis terapi sementara yang bisa diikuti adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT).  CBT merupakan jenis terapi yang dapat menolong kita mengatasi masalah dengan mengubah cara berpikir dan berperilaku.

Apakah kamu tergolong selfistis?

Related Posts