@stakof: Cicilan Motor Tidak Akan Terbayar Oleh Twitwar

Seringkali kita melihat perdebatan agama yang tidak ada habisnya di dunia Twitter. Perbedaan pandangan, gaya hidup atau masalah kecil tentang ibadah bisa menjadi pembahasan yang tidak kunjung henti di Twitter. Twitwar pun sering terjadi meskipun monolog dengan nada nyinyir atau menyindir kerap terjadi.

#TamuKita kali ini nampaknya sudah mengenyam semua pengalaman tersebut. Twitwar demi twitwar berbau agama telah dia rasakan. Siapakah dia? Dia adalah laki-laki kurus dari Jepara bernama @Stakof. Pria bernama asli Ahmad Romli ini mengaku bahwa dia memang cerewet di media sosial dalam masalah agama. Hal ini karena hal yang dia pelajari hanya agama.

Bagi @Stakof kehadiran media sosial dan tekonologi yang semakin maju memberikan manfaat tersendiri. Terutama netizen Indonesia yang adaptif terhadap kehadiran kedua hal ini. “Masyarakat yang kian tergugah menghadapi permasalahan global adalah masyarakat yang akan selamat dari gerusan jaman yang memperlebar lembah,” ujarnya dalam wawancara.

Dalam kesehariannnya, @Stakof memiliki ciri khas mencuit perihal kisah-kisah tentang Gus Yahya. Selain itu dia juga mencuitkan hal-hal berbau sejarah dan kritik sosial tetapi tidak jauh dari lingkungan santri. Mengenai isu-isu agama yang sering menjadi topik pembicaraan Stakof di Twitter. Dia mengaku tantangan terbesarnya adalah menghadapi tuduhan-tuduhan. Berbeda sedikit pandangannya, mengakibatkan beliau dianggap sebagai JIL.

“Sudah berkali-kali saya menawarkan diri untuk berdialog, bahkan nomor kontak sudah saya berikan, tapi tidak ada satu pun dari penuduh-penuduh itu yang bersedia untuk diskusi secara terhormat. Sembari meladeni itu semua, tuduhan-tuduhan lain tidak kalah deras dan garangnya,” – @Stakof

Twitwar dengan isu agama pun tidak jarang dilakukan oleh @Stakof. Twitwar pertama pun dilakukannya dengan Hafidz Ary tentang negara agama. @Stakof sampai membuat artikel dan dituliskan di blog-nya tetapi tidak mendapatkan balasan Nampaknya seringkali twitwar yang dilakukan dia tidak berujung pada sebuah kesimpulan. Tidak ada kalah-menang, semua diserahkan kepada pembaca tentang siapa pemenangnya.

 “Akan selalu ada “Kesepakatan Diam” yang netizen tangkap, sehingga tidak perlu lagi twitwar ini saya teruskan. Masih banyak Pekerjaan Rumah yang belum digarap di tubuh umat Islam di Indonesia, daripada menghabiskan energi untuk debat yang tak lagi sehat ini,” – @Stakof

Terakhir, @Stakof berpesan kepada kita selaku netizen bahwa jangan terlalu sering melakukan twitwar. “Jangan terlalu sering untuk twitwar. Menang debat di sosial media tidak bakal mampu membayar cicilan motor,” pesan @Stakof saat wawancara.

Related Posts